Review Sekiro: Shadow Die Twice – Seni Sebuah Pertarungan


Setelah saya memberanikan diri untuk mereview Sekiro, saya dapat menyebut bahwa Sekiro adalah sebuah game dengan seni sebuah pertarungan.

Sekiro Shadow Die Twice

Maret 2019, ada sebuah game yang benar-benar ditunggu oleh banyak gamer di dunia ini. Satu game yang ditunggu tersebut adalah Sekiro: Shadow Die Twice (nanti disebut Sekiro). Ada alasan kuat mengapa game yang satu ini betul-betul layak untuk ditunggu.

Pertama, karena yang membuat game ini adalah From Software yang terkenal akan seri Souls dan Bloodborne-nya. Kedua game tersebut adalah salah satu game dengan tingkat kesulitan yang berbeda dibandingkan dengan game-game lainnya dengan genre serupa.

Kedua, Sekiro memiliki latar belakang era Sengoku dan juga berbagai hal yang berbau tentang Samurai. Game dengan tema seperti ini harus diakui memang sangat jarang dan Sekiro menjadi penghilang dahaga untuk para gamer yang suka dengan Samurai.

Sekiro Shadow Die Twice
Kusabimaru bakal menjadi senjata untuk mengakhiri hidup lawan-lawan Wolf.

Sedangkan alasan ketiga, game ini menyajikan presentasi solid di berbagai acara game. Presentasi solid ini pada akhirnya membuat gamer tertarik dan merasa penasaran dengan apa yang ditawarkan oleh FromSoftware terhadap Sekiro.

Waktu yang dinanti akhirnya tiba! Pada 22 Maret 2019, Sekiro rilis di pasaran dan seketika langsung menjadi tren di kalangan para gamer di berbagai forum, bahkan di Youtube sekalipun.

BACA JUGA: Preview Sekiro: Shadow Die Twice – Diciptakan Bukan Buat Orang Lemah!

Tak mau ketinggalan, saya akhirnya memberanikan diri untuk mencoba melakukan review terhadap Sekiro. Lantas kenapa saya menyebut bahwa Sekiro adalah seni sebuah pertarungan? Kita bakal bahas satu per satu.

Plot

Sekiro Shadow Die Twice
Presentasi cerita simpel dengan banyak ketegangan di dalamnya

Cerita menjadi salah satu hal yang tidak boleh dianggap sepele khususnya di game single player seperti Sekiro. Untungnya, Sekiro sukses memenuhi ekspektasi yang ada dalam benak saya soal cerita.

Game ini mengambil premis cerita yang pada dasarnya cukup simple yakni menyelamatkan tuan kita usai diculik oleh sebuah klan yang bernama Ashina. Alih-alih bisa diselesaikan dengan mudah, justru kita harus menghadapi situasi pelik dan terjal untuk menyelamatkan sang tuan.

Petualangan kita sebagai karakter bernama The Lone Wolf dimulai ketika sang tuan muda bernama Kuro diculik oleh seorang samurai yang berasal dari klan Ashina, bernama Genichiro Ashina.

Bersumpah di masa lalu agar melindungi sang tuan meskipun nyawa menjadi taruhannya, Wolf akhirnya berhadapan dengan Genichiro yang tak disangka memiliki kekuatan luar biasa.

Kekalahan dari Genichiro justru membuat Wolf mendapatkan tangan buatan bernama Shinobi Prosthetic yang punya beragam fungsi

Sudah bisa ditebak, hasilnya Wolf kalah telak dan harus kehilangan satu tangannya dalam pertarungan itu. Meski kalah dan telah diklaim terbunuh, Wolf justru bangkit kembali, berkenalan dengan seorang misterius, dibuatkan sebuah tangan khusus bernama Prostethic Arms dan mulai menjalankan misi berbahaya untuk mendapatkan kembali Kuro.

Seterjal apakah perjalanan Wolf untuk menyelamatkan musuh? Apa sebenarnya tujuan dari klan Ashina menangkap Kuro? Semuanya bisa kalian ketahui jawabannya usai memainkan game Sekiro.

Gameplay Simpel, Solid, dan Adiktif

Gameplay yang ada di Sekiro dibuat sesolid mungkin. Seakan tanpa celah!

Membicarakan sebuah game, tentu yang harus menjadi fokus utama adalah gameplay-nya tak terkecuali untuk Sekiro. Game ini menyajikan gameplay yang simple tapi disisi lain punya kesan solid, dan cukup adiktif untuk kalian nikmati.

Yang pertama wajib untuk dibahas adalah soal movement dari Wolf itu sendiri. Kalian yang sudah pernah membaca preview Sekiro di situs Gimbot pasti sudah tahu bahwa saya pernah membahas mengenai pergerakan dari Wolf.

FromSoftware mengimplementasikan pergerakan cepat dari berbagai sisi misalnya seperti cara berjalan si Wolf, cara bertarung, hingga cara Wolf menundukkan musuhnya dengan Deathblow semua dilakukan dengan cepat.

BACA JUGA: Review Devil May Cry 5: Kegilaan Sampai Batas Maksimal!

Pergerakan cepat ini otomatis membuat gameplay mengalir secara natural. Kalian yang bermain secara brutal sudah pasti bisa membunuh lawan dengan sangat cepat melalui berbagai teknik pedang yang dimiliki oleh Wolf. Sedangkan bagi yang suka bermain stealth tentunya tidak perlu khawatir karena Sekiro menyajikan cara bermain cepat yang sama seperti bermain secara terang-terangan.

Salah satu yang membuat elemen stealth di Sekiro punya mekanisme cepat adalah pilihan membunuh lawan yang luas. Tak hanya terkekang melakukan aksi membunuh melalui sudut dinding atau dari belakang lawan saja, di Sekiro, kalian juga bisa membunuh musuh dari udara.

Dengan begini, kalian bisa membunuh lawan dengan cara yang bebas tergantung situasi dan kondisi sehingga permainan dieksekusi menjadi lebih cepat.

Ada beberapa jenis upgrade, salah satunya adalah prosthetic arms.

Selain dari sisi pergerakkan karakter, yang menarik untuk dibahas selanjutnya adalah bagaimana karakter Wolf ini berkembang dalam permainan melalui upgrade yang tersedia. Seperti yang sudah ditegaskan, Sekiro bukanlah sebuah role playing games (RPG). Secara genre, Sekiro lebih mengarah ke action.

Tapi meski begitu, FromSoftware menyajikan fitur upgrade yang cukup detail di dalamnya. Seiring jauhnya permainan kalian, Wolf bisa mendapatkan upgrade teknik bertarung, atribut, dan prostethic arms yang benar-benar berguna dalam pertarungan.

Melakukan upgrade teknik bertarung bisa membuat Wolf memiliki varian teknik yang beragam untuk melancarkan kombo. Untuk atribut sendiri, Wolf bisa memperkuat Vitality, Attack Power, dan yang lainnya agar bisa semakin kuat dalam pertarungan.

BACA JUGA: Resident Evil 2 Remake Review: Zombi Lawas yang Sukses Disempurnakan

Yang tak kalah penting untuk dibahas dalam upgrade adalah prosthetic arms yang menjadi teman setia Wolf untuk mendapatkan kembali Kuro. Dengan berbagai item yang tersebar, terkadang gamer bakal menemukan sebuah item khusus.

Item khusus ini memiliki keunikan teknik tersendiri jika dipasangkan dengan prostethic arms. Yang lebih kerennya, teknik dari prostethic arms ini begitu signifikan untuk mengalahkan tipe-tipe musuh tertentu.

Sebagai contoh, sebelum mendapatkan Shinobi Firecrackers, saya kesulitan untuk membunuh Gyoubu Oniwa. Setelah mendapatkan informasi di dalam game, ternyata hewan yang ditunggangi oleh Gyoubu ini takut dengan suara yang ramai dan disitulah saya melakukan upgrade prosthetic arms untuk mendapatkan Shinobi Firecrackers dan mengalahkan Gyoubu.

Untuk masalah upgrade, Sekiro wajib diacungi jempol karena menyajikan upgrade yang simple namun solid serta cukup menantang untuk bisa melakukannya.

Untuk mengalahkan lawan kalian punya dua opsi yaitu Vitality dan Posture.

Masih soal gameplay, yang tak boleh ketinggalan untuk dibahas selanjutnya adalah soal Vitality dan Posture yang cukup menarik. Mekanisme ini bisa dibilang menjadi salah satu mekanisme revolusioner yang ada di industri game. Biasanya untuk mengalahkan musuh, yang harus dikuras adalah dengan menurunkan health bar-nya. Tapi di Sekiro, kalian punya dua pilihan dan pilihan kedua yang kalian miliki adalah Posture.

Terbalik dengan health bar, kalian justru diminta untuk memenuhi bar Posture yang ada ketika bertarung. Setelah cukup, barulah kalian bisa menghujamkan Deathblow ke musuh dan membunuhnya meskipun Health Bar musuh belum habis.

Untuk membuat bar Posture musuh bertambah signifikan, kalian hanya harus menyerangnya disaat si musuh sedang dalam posisi stun. Di samping itu, Bar Posture juga ada kaitannya dengan vitality yang kalian miliki. Semakin banyak vitality kalian, maka bakal semakin cepat juga kalian mengisi Health Bar yang ada pada musuh.

Gameplay revolusioner ini menurut saya pribadi harus dilestarikan dan diimplementasikan untuk game-game sejenis karena dengan adanya dua pilihan dalam mengeksekusi musuh ini, gameplay harus diakui menjadi lebih realistis.

Konsep Dragonrot sebenarnya bisa dimaksimalkan tapi FromSoftware gagal melakukan itu.

Jika berbicara soal gameplay revolusioner, ada satu lagi mekanik revolusioner yang dimiliki oleh Sekiro. Kali ini kita bakal sedikit mengulas mengenai Dragonrot.

Membicarakan Dragonrot, tentu ada kaitannya dengan fitur revival yang ada di game ini. Di Sekiro, ketika kalian tewas, kalian bakal mendapatkan kesempatan untuk hidup lagi. Tapi sayangnya, kesempatan untuk hidup kembali ini bisa membuat sebuah konsekuensi yang benar-benar mengerikan.

Para NPC yang ada bakal terjangkit sebuah penyakit yang dinamakan Dragonrot. Tapi sayangnya, fitur yang satu ini tidak diimplementasikan secara sempurna oleh FromSoftware. Ketika mengenal fitur yang satu ini saya sempat mengira bahwa nantinya NPC yang ada bakal tewas akibat penyakit ini.

Tapi kenyataannya, para NPC tidak tewas dan hanya terlihat sakit saja. Padahal jika dibuat tewas, sudah pasti Sekiro bakal menjadi salah satu game paling realistis yang pernah ada. Selain itu game ini juga bakal lebih menantang dan tidak membuat gamer sembarangan menekan tombol revive karena konsekuensinya sudah jelas, bakal ada korban.

Jadi bisa dibilang, Dragonrot hanyalah sebuah mekanisme untuk membuat gameplay menjadi lebih kaya akan fitur tapi secara signifikansi, Dragonrot sama sekali tidak signifikan karena tidak berpengaruh apapun baik dari segi gameplay maupun ending yang ada.

Camera Lock terkadang membuat kesal.

Selain masalah Dragonrot yang kurang signifikan, kekurangan lainnya dari Sekiro adalah camera lock yang bisa membuat kita mati konyol. Ya, camera lock biasanya selalu memposisikan arah untuk mengunci pergerakkan lawan.

Alih-alih terus mengunci, terkadang camera lock justru terlepas dengan sendirinya terutama ketika musuh yang kita hajar posisinya terlalu dekat. Bahkan di beberapa kesempatan, camera lock membuat pengelihatan kita terhadap musuh terlalu dekat sehingga susah untuk mengantisipasi serangan yang datang.

Beberapa kali camera lock membuat saya kesulitan hingga akhirnya mendapatkan damage yang seharusnya tidak perlu saya dapatkan. Mungkin FromSoftware harus memberikan patch khusus agar di beberapa momen camera lock bisa tetap bekerja secara efektif.

Uang Bisa Mempermudah dan Mempersulit

Mata uang yang bernama SEN bisa menjadi sesuatu yang mempermudah dan menghambat. Mati di Sekiro = kehilangan separuh SEN!

Uang memang terkadang menjadi sesuatu yang sangat penting di video game. Di Sekiro, mata uang di game ini,SEN, benar-benar segalanya karena untuk membeli item dan melakukan upgrade Prosthetic Arms.

SEN bisa kalian dapatkan dari membunuh musuh yang menghalangi jalan kalian. Sialnya, signifikansi uang yang begitu maksimal membuat Sekiro benar-benar susah. SEN yang kalian kumpulkan dengan susah payah bisa berkurang jika kalian tewas. Semakin sering tewas, semakin banyak juga uang yang habis. Meski begitu, ada balancing yang dilakukan FromSoftware agar hal ini tidak terus terjadi dengan sebuah fitur bernama Unseen Aid.

Unseen Aid merupakan sebuah fitur yang membuat gamer tidak kehilangan uang dan XP ketika mereka tewas. Unseen Aid ini punya angka maksimal di 30%. Itu artinya, kalian punya kesempatan untuk memunculkan Unseen Aid sebanyak 30% jika mati.

Di sini, membuang-buang uang dengan cara mati terus-menerus harus diakui menjadi hal yang sangat konyol. Tapi di sisi lain, mekanik seperti ini terhitung cerdas karena bakal membuat gamer berpikir seribu kali untuk menentukan langkahnya agar tidak kehilangan nyawa.

Balancing Resurrection yang Menarik

Kalian bisa hidup kembali lebih dari satu kali tapi dengan beberapa syarat khusus yang tidak mudah untuk dilakukan

Seperti namanya, Sekiro: Shadow Die Twice bisa membuat gamer hidup lagi setelah tewas. Di atas Health Bar kalian, ada beberapa bulatan berwarna merah yang melambangkan berapa banyak kalian bisa hidup kembali.

Jika ada dua kalian bisa hidup dua kali dan jika ada tiga kalian bisa hidup tiga kali. Tapi jangan senang dulu, Sekiro memiliki balancing yang unik terkait fitur Resurrection yang mereka sematkan. Alih-alih bisa hidup secara beruntun, kalian sebenarnya hanya bisa hidup kembali lagi sebanyak satu kali terkecuali di beberapa momen.

Momen tersebut adalah pertama kalian bisa membunuh pengawal dari sang mini boss dan yang kedua adalah kalian bisa mendaratkan Deathblow kepada boss atau mini boss. Jika salah satu dari syarat tersebut terpenuhi, kalian bisa mendapatkan kesempatan untuk hidup satu kali lagi.

BACA JUGA: Review Apex Legends: Spinoff Titanfall yang akan Mengalahkan Fortnite

Sebagai contoh adalah saya menghadapi boss dengan dua fase. Di fase pertama saya mendaratkan Deathblow kepada sang pengawal mini boss. Nah, di fase kedua, sang boss sukses membunuh saya satu kali dan saya menggunakan fitur Resurrection pertama saya. Tapi tanpa disangka, saya tewas kembali oleh sang boss.

Di keadaan normal, seharusnya saya tidak bisa hidup kembali tapi karena telah mendaratkan Deathblow pada sang pengawal, saya mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup lagi. Adapun untuk memenuhi bar Resurrection adalah dengan melakukan Rest di patung dengan api biru bernama Scluptor’s Idol dan satunya lagi adalah membunuh musuh-musuh hingga bulatan tadi terisi penuh.

Jika bulatan itu tidak terisi, kalian juga tidak bisa melakukan hidup kembali.

Harus diakui, fitur balancing yang dihadirkan tergolong cerdas dan cukup adil. Karena jika salah-salah dalam mengeksekusi mekanisme ini, Sekiro bisa menjadi game yang kehilangan daya tariknya.

Benarkah Sekiro Susah?

Sekiro
Parry dan menghafal pattern serangan jadi kunci kemenangan di game ini

Jika membicarakan soal game besutan From Software, salah satu yang paling menarik untuk dibahas adalah apakah game tersebut tidak cocok untuk semua gamer karena terlampau sulit? Pertanyaan seperti ini tentunya bakal datang menghampiri Sekiro dan itu memang tak bisa dipungkiri.

Sejauh pengalaman saya memainkan Sekiro, game ini memang sulit dan saya juga sama sekali belum pernah mencoba game FromSoftware seperti Bloodborne atau Dark Souls yang begitu fenomenal karena susah untuk diselesaikan.

BACA JUGA: Ngomongin Game: Perkembangan Assassin’s Creed, Makin Bagus atau Makin Jelek?

Dari kacamata gamer awam yang belum pernah mencicipi Bloodborne dan Dark Souls, Sekiro memang benar-benar menguras tenaga. Bayangkan saja, untuk menghadapi mini boss, saya membutuhkan waktu sekitar dua jam hingga akhirnya mampu mengalahkannya.

Tapi meskipun sulit, gamer awam sekalipun tentu tetap bisa menikmatinya dengan catatan mereka mau belajar dan memahami betul apa saja mekanik-mekanik dasar yang ada di Sekiro khususnya dalam pertarungannya.

Jika sudah terbiasa dengan mekanismenya, sudah jaminan bahwa gamer awam sekalipun bisa menamatkan game Sekiro yang susahnya tidak manusiawi ini. Sejauh ini ada beberapa hal yang patut diperhatikan agar gamer awam bisa memainkan Sekiro dengan mulus.

Preview Sekiro Shadow Die Twice - Featured
Parry, mempelajari patteran serangan, dan memperlajari kelemahan lawan jadi fokus utama dalam pertempuran

Pertamaadalah soal Parry. Berbeda dari game lainnya atau saya bakal ambil contoh The Witcher 3 di tingkat kesulitan Deathmarch, Sekiro lebih mengandalkan Parry atau Deflecting. Jika The Witcher 3 lebih mengandalkan evade (menghindar) lalu menyerang, di Sekiro, hal seperti ini tidak bisa dilakukan terlalu sering.

Alasannya adalah karena jika kita gagal melakukan evade, damage yang masuk bisa setengah health bar bahkan lebih. Yang paling aman adalah melakukan parry hingga lawan selesai menyerang dan barulah kita bisa melancarkan serangan balik.

Jika sudah terlatih, kalian tentu bisa memasukkan serangan dan melakukan parry jika sedang diserang, begitu seterusnya.

Hal kedua adalah lawan memiliki pattern serangan yang bisa dihafalkan. Setiap musuh yang ada di Sekiro punya damage besar yang bisa membuat kalian frustrasi seketika. Tapi untungnya, setiap musuh memiliki pattern tertentu untuk bisa dihafalkan.

Sekiro
Sekiro tetap masih bisa dinikmati oleh gamer yang tak pernah main seri Souls atau Bloodborne sekalipun, contohnya adalah saya!

Jika sudah hafal, kalian tahu momentum untuk menyerang, bertahan, dan membuat lawan stun beberapa saat. Menghafal pattern yang ada juga bisa membuat kalian menghindari serangan hanya dengan menggunakan evade saja untuk beberapa tipe musuh.

Dengan menguasai kedua hal ini, kalian bakal terbiasa dengan seni bertempur yang disematkan oleh Sekiro. Kedua hal ini juga memutus anggapan bahwa Sekiro hanya cocok untuk gamer penggemar Bloodborne dan Dark Souls semata.

Sedangkan hal ketiga adalah Sekiro ini menyuruh kita untuk mengorek segala kelemahan lawan sebelum menghadapinya. Untuk mengorek kelemahan lawan ini kita bisa menguping pembicaraan seorang prajurit atau melalui jurnal-jurnal yang tersebar di dalam game ini.

Dengan mengetahui kelemahan lawan, persiapan sebelum menghadapi lawan khususnya boss bisa mempermudah jalan kalian.

Voice Act Menawan dan Sound Film Bak Layar Lebar

Preview Sekiro Shadow Die Twice - Featured2
VA dan sound di Sekiro digarap dengan serius! Layak diikuti oleh game-game yang lain.

Salah satu hal yang mencuri perhatian adalah soal suara. Di Sekiro, voice act (selanjutnya disebut VA) merupakan salah satu hal yang patut diacungi jempol. Di sini saya menggunakan VA Jepang dengan subtitle Bahasa Inggris.

Hasilnya, saya seperti sedang menonton film layar lebar karena VA baik percakapan karakter atau suara Narator dibawakan dengan maksimal. VA Jepang juga membuat Sekiro benar-benar “Jepang banget”.

Selain VA, yang mesti diperhatikan selanjutnya adalah sound-nya. Suara denting pedang, derap langkah kuda, dan hunusan pedang terdengar menggelora. Untuk saya pribadi, VA dan sound yang ada di Sekiro benar-benar magis sehingga mampu membuat kita ketagihan untuk terus memainkan game ini.

Di beberapa kesempatan, sound yang hadir juga bisa membawa sensasi ketegangan tersendiri untuk memecah konsentrasi kita. Untuk urusan sound dan VA, game lain sepertinya harus benar-benar meniru apa yang diimplementasikan oleh Sekiro.

Semuanya sejalan dengan tema yang diusung!

Kesimpulan

Sekiro
Sekiro layak menjadi row model bagi gamer dengan genre serupa

Sejauh ini Sekiro benar-benar mampu memenuhi ekspektasi para gamer terutama bagi mereka yang suka dengan tema Samurai dan Jepang. Semuanya diimplementasikan cukup baik mulai dari tema lingkungan, VA, dan sound-nya.

Untuk gameplay sendiri, Sekiro berhasil menawarkan sesuatu yang benar-benar baru dan revolusioner seperti Posture dan Vitality. Pilihan mengeksekusi lawan melalui Posture atau Vitality terhitung cerdas dan realistis.

BACA JUGA: Review Dragon Marked for Death: Quest Hunting dengan Visual Dua Dimensi

Masih dari gameplay, pace cepat yang ditawarkan Sekiro juga membuat game ini menarik untuk dinikmati. Kalian bisa menghabisi beberapa musuh hanya dalam hitungan menit menggunakan semua elemen yang ia tawarkan.

Selain itu, fitur upgrade yang ada di Sekiro juga tepat sasaran meskipun harus menggunakan mata uang bernama SEN yang cukup susah untuk didapatkan.

Sekiro
Tulisan Death diubah menjadi Noob oleh modder!

Tapi sebagaimana seperti game pada umumnya, Sekiro juga memiliki kekurangan. Kekurangan ini ada pada Dragonrot yang cenderung tak berguna dari sisi gameplay. Ia hanya menjadi penegas bahwa terlalu banyak bangkit dari kematian bakal membuat NPC terkena wabah penyakit.

Seharusnya FromSfoftware memberikan sedikit konsekuensi dari adanya Dragonrot ini. Selain masalah Dragonrot yang kurang diimplementasikan dengan cukup baik, kekurangan lainnya ada pada camera lock yang terkadang malah menyusahkan dalam pertarungan.

Di luar tingkat kesulitannya yang bisa disebut tak manusiawi, Sekiro tetap bisa dan layak untuk dinikmati gamer casual sekalipun dari segi mekanisme yang ia usung meskipun di beberapa sisi punya kekurangan.

Akhir kata, FromSoftware berhasil dalam mengembangkan Sekiro dengan sangat baik dan game ini benar-benar menunjukan kualitas sebuah game dengan segudang keseruan serta pembaharuan.

Seni sebuah pertarungan benar-benar ditonjolkan oleh Sekiro. Tak melulu soal pertahanan, gamer juga didorong untuk menghafal gerakan lawan dan juga melakukan timing yang tepat untuk bertahan.


Pentombled

Main game gak bakal bikin masa depan suram. Yang bikin suram adalah ketika lo malas berbuat sesuatu! Happy gaming.