Ngomongin Game: Perkembangan Assassin’s Creed, Makin Bagus atau Makin Jelek?


Assassin's Creed

Membicarakan Assassin’s Creed, harus diakui sejauh ini game besutan Ubisoft ini merupakan salah satu franchise terbaik dan terbesar yang pernah ada. Pertama kali diluncurkan di tahun 2007, Assassin’s Creed langsung mengambil alih tempat game-game besar.

Sejak pertama kali dirilis, Assassin’s Creed menjadi game yang selalu ditunggu-tunggu. Tapi saat ini, harus diakui popularitas Assassin’s Creed tak secerah dulu.

12 tahun berlalu sejak game ini diperkenalkan, lantas apakah sebenarnya game ini makin bagus atau makin buruk? Gimbot bakal mengulasnya.

Mekanisme Gameplay

Cara Main Gim Stealth
Dokumentasi Gimbot

Bicara mengenai Assassin’s Creed, tentu yang paling harus dibahas adalah mekanisme gameplay-nya. Ketika pertama kali diperkenalkan, game ini memiliki mekanisme yang terbilang original.

Assassin’s Creed sebenarnya merupakan game dengan mekanisme lawas yang sudah kita kenal sejak era Playstation 1. Kalian yang dulunya bermain game Tenchu bakal familiar dengan mekanisme yang ada.

Ezio yang terbaik sejauh ini.

Assassin’s Creed juga menawarkan hal serupa. Gamer bisa bertarung seperti halnya game action dan juga bisa langsung membunuh lawan dengan stealth kill. Dari segi pertempuran, Assassin’s Creed menambahkan aksi untuk melakukan counter attack sehingga pertarungan bisa lebih mudah.

Tapi ada satu mekanisme lagi yang membuat game ini benar-benar berjaya di masa lalu yaitu fitur memanjat semua gedung yang ada. Fitur yang satu ini sempat menjadi perbincangan di mana-mana karena memang pada saat itu game yang memiliki fitur serupa masih sangat jarang sekali.

Lantas bagaimana di seri-seri selanjutnya?

Assassin’s Creed masih cukup mantap dalam menciptakan fitur-fitur baru di seri selanjutnya. Tambahan seperti memanjat pohon, melakukan cover, dan berburu hewan disuntikkan Assassin’s Creed.

Bahkan yang lebih gila adalah adanya pertempuran kapal di laut. Fitur inilah yang menjadi penyelamat Assassin’s Creed di tahun 2014. Berkat fitur pertarungan kapal di Assassin’s Creed IV: Black Flag, nama Assassin’s Creed yang sempat melemah kembali muncul ke permukaan.

BACA JUGA: Tips dan Guide Mudah Bermain Resident Evil 2 Remake

Seakan dejavu, hal ini kemudian dilakukan Assassin’s Creed tiga tahun kemudian tepatnya di tahun 2017.

Selepas seri Assassin’s Creed Syndicate, kepercayaan gamer terhadap Assassin’s Creed berkurang drastis. Titik ini terjadi ketika Assassin’s Creed: Unity yang punya hype sangat besar justru dihadapkan pada masalah teknis yang luar biasa. Gamer kecewa hingga berdampak turunnya penjualan Assassin’s Creed Syndicate yang dibenarkan oleh para petinggi dari Ubisoft.

Sejak itu Assassin’s Creed menyatakan untuk libur dari industri game selama satu tahun hingga akhirnya di tahun 2017 sejarah kembali tercipta.

Perpindahan Gameplay dari Aksi ke RPG!

Sebelum tahun 2017, kita sudah kenal bahwa Assassin’s Creed adalah game aksi yang kental. Tapi semua itu berubah ketika Assassin’s Creed: Origins yang meluncur akhir tahun 2017 membawa segudang mekanik baru.

Origins tak lagi membawa elemen penuh aksi seperti pendahulunya melainkan menjadi RPG. Equipment yang ditawarkan lebih kompleks dan tak ada counter attack.

Unite!

Tapi, Assassin’s Creed tak membuang potensi gameplay mereka di masa lalu. Ubisoft justru masih memasukkan unsur panjat memanjat, sistem buka map dengan memanjat tower, dan stealth kill tentunya.

Side quest juga dibuat menjadi lebih baik dan lebih variatif dibandingkan seri terdahulu. Mekanisme baru dan transisi inilah yang menyelamatkan franchise legendaris ini. Dari segi mekanik gameplay, Ubisoft masih punya banyak potensi sebenarnya. Buat saya selaku pencinta game ini sejak seri awal, mekanisme gameplay Assassin’s Creed harus diakui bergerak ke arah yang positif.

Terlebih lagi Ubisoft mau mengaplikasikan variasi conversation bagi para karakternya seperti yang dilakukan CD Projekt Red dengan The Witcher 3-nya untuk seri Assassin’s Creed: Odyssey.

BACA JUGA: Resident Evil 2 Remake Review: Zombi Lawas yang Sukses Disempurnakan

Meskipun cita rasa Assassin’s yang cenderung misterius berkurang drastis di sini. Tapi usaha untuk memperbaiki dan membuat mekanisme seri ini menjadi lebih modern patut untuk diacungi jempol.

Pekerjaan rumah Ubisoft kali ini adalah bagaimana mempertahankan mekanisme ini dan membuatnya lebih variatif di masa depan.

Cerita

Jika bahasan mekanisme sudah clear, kali ini kita pindah ke bahasan cerita. Cerita diawal kemunculan Assassin’s Creed juga menjadi senjata utama. Dari segi alur cerita, Assassin’s Creed pintar karena mengombinasikan unsur masa lalu dan masa depan. Selain itu Ubisoft juga memasukkan sejarah ke dalam game mereka. Di awal kemunculannya, formula ini adalah formula yang sangat sempurna.

Selepas Assassin’s Creed pertama, kita bakal memerankan tokoh bernama Desmond Miles di masa depan. Desmond berusaha untuk mencari kebenaran mengenai leluhurnya dan mengetahui asal usul Abstergo Industries yang punya misi mengontrol dunia.

Meski Assassin’s Creed pertama tak punya alur masa depan, Ubisoft masih sukses untuk mengaitkannya dengan cerita Assassin’s Creed: Revelation. Awal kemunduran cerita masa depan ini justru terjadi usai Assassin’s Creed 3.

Source: eTeknix

Saya menyebut bahwa mematikan Desmond dan tidak menamatkan franchise legendaris ini usai Assassin’s Creed 3 adalah blunder buat Ubisoft. Selepas Desmond tewas, Ubisoft kehilangan jati diri dan krisis ide untuk menceritakan alur masa depannya di game ini.

Pada akhirnya Ubisoft berbenah diri dan memunculkan sosok baru bernama Laila Hassan di Assassin’s Creed: Origins. Alur masa depan dan masa lalu menjadi match di seri ini tapi tidak untuk keseluruhan seri

Unsur cerita yang sudah kadung kacau ini mau tidak mau harus dibenahi oleh Ubisoft dan mengaitkannya kembali dengan cerita Desmond Miles. Karena jika tidak, Ubisoft harus diakui mengalami kemunduran dari progress cerita yang ada.

Rilis Tahunan Adalah Biang Masalah

Awas kepala!!

Kemunduran paling kentara yang terjadi di tubuh Assassin’s Creed adalah waktu perilisannya yang tidak realistis dan terburu-buru. Ya, sejak diperkenalkan di tahun 2007, Assassin’s Creed setidaknya selalu merilis game ini satu tahun sekali. Momen perilisan satu tahun terjadi setelah Assassin’s Creed 2 yang dirilis pada tahun 2009.

Sejak saat itu kebiasaan Ubisoft adalah merilis game dengan potensi luar biasa ini dengan format rilis tahunan. Di awal-awal kemunculannya, kebijakan ini mendapatkan sambutan yang baik.

Cukup beralasan juga karena Assassin’s Creed memiliki keterkaitan satu sama lain hingga Assassin’s Creed 3. Sialnya mekanisme yang sama dari tahun ke tahun membuat franchise yang satu ini tenggelam perlahan. Krisis ide terkait cerita juga diteriakkan oleh para fans Ubisoft itu sendiri.

BACA JUGA: Jelang Rilis Resident Evil 2 Remake, Ini 5 Tips Main Gim Horor!

Sebagian gamer menganggap Ubisoft harus mengistirahatkan franchise ini untuk bisa melakukan improvisasi. Apalagi sejak buruknya komentar terhadap Assassin’s Creed: Unity, kepercayaan gamer terhadap frachise ini juga perlahan menurun.

Untungnya di tahun 2016 Assassin’s Creed memutuskan untuk beristirahat hingga tahun 2017 mereka menelurkan seri baru yakni Assassin’s Creed: Origins.

Tapi format rilis tahunan ini terjadi lagi di tahun 2018. Selang satu tahun meluncurnya Assassin’s Creed: Origins, Ubisoft menelurkan seri baru yakni Assassin’s Creed: Odyssey.

Kabar terbarunya adalah di tahun 2019 frachise ini bakal beristirahat kembali karena Ubisoft masih memutuskan untuk fokus terhadap Assassin’s Creed: Odyssey terlebih dahulu.


Kesimpulan

Kesimpulannya adalah seri Assassin’s Creed sebenarnya masih punya potensi apalagi sejak mekanisme baru dikeluarkan dari aksi menjadi RPG. Tapi satu yang paling disayangkan adalah jalan ceritanya yang kini tak tentu arah tujuannya.

Meskipun kali ini ada sosok Laila Hassan dan kembalinya ayah Desmond, Ubisoft tetap memiliki pekerjaan rumah untuk membenahi format cerita masa depan dari seri yang satu ini agar lebih cocok dengan cerita yang sudah Desmond jalani di seri-seri awal.

Kemunduran atau tidak? Pendapat itu harus dilemparkan kembali kepada para penggemar seri ini. Tapi menurut saya pribadi, seri Assassin’s Creed sudah berada di jalan yang benar karena Ubisoft mau melakukan pembenahan di berbagai sisi.

Tinggal satu pertanyaan yaitu apakah seri ini bakal diakhiri dan gamer mendapatkan konklusi dari segala yang telah terjadi? Kita bakal menunggunya.

Sumber: Gamespot, PC Gamer, Venturebeat


Like it? Share with your friends!

Leonardo da Lima
Jangan samakan aku dengan yang lain! Aku gamer yang sama sekali berbeda.

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *