2019 merupakan tahun yang menyenangkan bagi kita para gamer di Indonesia. Tidak peduli dari kalangan Xbox, PlayStation, PC, hingga para pengguna mobile sekali pun, tahun ini hampir semua platform tersebut menyajikan ragam aneka judul game terbaik mereka yang kemudian kami himpun ke dalam artikel favorit para penulis Gimbot di penghujung 2019.
Sama halnya dengan kalian semua gamer di luar sana, kami penulis di Gimbot memiliki game favorit yang sukses meninggalkan bekas di hati masing-masing. Jadi tanpa perlu panjang lebar lagi, inilah deretan game terbaik 2019 yang menjadi favorit para penulis Gimbot di tahun ini. Check it out! Siapa tahu ada game favorit kamu juga di daftar kami.
Arya – Gears 5
Tidak diragukan lagi, Gears 5 ini adalah saga Gears terbaik. Ada banyak hal baru di dalamnya yang membuat bernostalgia dengan permainan Gears yang mengusung close cover combat shooter mulai dari pertarungan yang penuh aksi, elemen RPG, serta jalan cerita yang mendalam.
Khusus bagian jalan cerita, hal ini akan lebih personal bagi saya yang memainkannya dari seri pertama karena semuanya memiliki benang merah. Gears 5 seolah menjadi bagian pelengkap untuk menceritakan rahasia yang selama ini tidak pernah diceritakan di seri sebelumnya.
Bahkan karena sangat menantikan saga Gears terakhir ini, saya sampai membuat artikel yang berisi teori prediksi jalan ceritanya hingga semua hal yang harus diketahui sebelum memainkan Gears 5.
Baca juga: Review Singkat Gears 5
Ayyub Mustofa – She and the Light Bearer
Banyak game menarik terbit di tahun 2019 ini, tapi secara pribadi saya merasa harus memberi spotlight khusus pada She and the Light Bearer, sebuah game karya developer Indonesia yaitu Mojiken Studio. Bukan sekadar karena ini buatan lokal, tapi karena memang She and the Light Bearer adalah sebuah pengalaman artistik yang membuat saya terkagum-kagum pada pencapaiannya.
Mengambil premis dunia fantasi yang tidak biasa, She and the Light Bearer bercerita tentang seekor kunang-kunang yang melakukan perjalanan untuk mencari sosok “ibu” dan menyelamatkan hutan rimba. Kisah bagai dongeng, visual cantik meyerupai buku cerita anak-anak, serta (yang paling mengagumkan) alunan soundtrack yang menggabungkan nuansa Nusantara dengan instrumen akustik, menurut saya telah menghasilkan suatu karya seni yang bernilai tinggi.
Sepanjang permainan saya senantiasa dibuat bertanya-tanya, sebetulnya cerita dalam game ini metafora yang melambangkan apa? Apa pesan yang ingin disampaikan oleh karakter-karakternya, yang kesemuanya bukan manusia tapi makhluk-makhluk hutan seperti hewan dan tanaman? Dan ketika adegan ending akhirnya muncul di layar, yang tersisa dari She and the Light Bearer hanyalah kepuasan tiada tara, juga rasa hampa karena saya harus menunggu hingga entah kapan untuk memainkan karya Mojiken berikutnya.
Baca Juga: Review She and the Light Bearer
Yasser – Fire Emblem: Three Houses
Fire Emblem: Three Houses adalah pengalaman pertama saya memainkan game dari seri ini. Tapi dari satu playthrough saja, game ini langsung membuat saya ketagihan dan menghabiskan waktu hingga ratusan jam.
Sekilas, Fire Emblem: Three Houses terlihat seperti game tactical RPG dengan segudang karakter waifu yang harus kamu didik di sebuah akademi. Tapi justru para karakter inilah yang membuat game ini sangat menarik. Kepribadian, interaksi, serta cerita personal para karakter ini membuat kamu peduli dengan mereka layaknya seorang guru/profesor. Tanpa sadar kamu jadi hati-hati dalam mendidik dan memimpin karakter ini.
Itu baru membahas premis awal dan permukaan saja. Begitu kamu bermain, kamu akan sadar bahwa Fire Emblem: Three Houses juga mengangkat cerita tragedi perang dan nasib mereka yang terlibat di dalamnya. Semuanya dikemas dalam empat rute cerita yang berbeda.
Baca juga: Review Fire Emblem Three Houses
Adam – Devil May Cry 5
Devil May Cry 5 tak bisa dipungkiri menjadi game favorit saya di tahun 2019 sebagai penulis Gimbot. Maklum, game ini memang sudah ditunggu sekitar 10 tahun di mana rilisan terakhirnya ada di tahun 2008 yaitu Devil May Cry 4. Sebenarnya di tahun 2015-an, Capcom sempat meluncurkan versi Special Edition untuk Devil May Cry 4. Namun saya pribadi lebih tertarik untuk seri baru.
Diperkuat dengan engine andalan Capcom, RE Engine, game ini tampil memukau dari segi penyajian visual. Setiap mimik wajah karakter bisa terlihat detail dan sangat jelas. Setiap cutscene digarap dengan sangat baik hingga ada sensasi seperti menonton film. Namun selain visual, game juga harus dinilai dari sisi gameplay dan fitur.
Dari sisi gameplay, Devil May Cry 5 dieksekusi dengan sangat baik hingga gamer mampu mengeksekusi combo dengan lancar tanpa hambatan. Permainan cepat dan brutal masih menjadi daya tarik utama dari Devil May Cry 5.
Dari segi fitur, game ini memiliki segudang fitur baru diantaranya adalah sistem upgrade dan juga menggunakan tiga karakter dalam satu timeline sekaligus. Segala aspek yang dieksekusi manis tanpa ada sesuatu yang dilebih-lebihkan pada akhirnya membuat saya harus mengakui jika Devil May Cry 5 adalah game terbaik yang pernah saya mainkan di tahun 2019.
Baca juga: Review Devil May Cry 5
Brian – Apex Legends
Pada awalnya saya selalu menduga, Apex Legends adalah “keisengan” Respawn Entertainment yang berbuah manis, bagaimana tidak hanya sebulan setelah dirilis game battle royale yang dirilis secara tiba-tiba pada bulan Februari 2019 ini berhasil mendapatkan 50 juta pemain dalam kurun waktu sebulan! Puncaknya, baru-baru ini Apex Legends mendapatkan penghargaan Best Multiplayer Game pada ajang The Game Awards 2019.
Gameplay Apex Legends sebetulnya mirip dengan game bergenre battle royale lainnya, yaitu bertahan hidup hingga akhir untuk menjadi tim nomor satu. Jadi, apa yang membedakan? Menurut saya, pendalaman karakter yang kuat menjadi faktor kesuksesan Apex Legends karena setiap karakter memiliki skill dan kepribadian yang berbeda, misalnya Mirage dengan skill ala “kage bunshin” serta memiliki gaya bicara yang tengil dan Lifeline dengan skill healing serta gaya bicara serius. Hal-hal inilah yang memberikan warna tersendiri dalam bermain Apex Legends.
Dengan umur yang belum genap setahun, saya cukup penasaran menunggu kejutan-kejutan pada update Apex Legends berikutnya. Apakah akan ada karakter baru? map baru? item baru? Entahlah, yang pasti Apex Legends sudah berhasil membuat saya berpaling dari game battle royale lainnya, ya sebut saja game dengan inisial PUBG, oops..
Baca juga: Review Apex Legends
Era – Red Dead Redemption 2 PC
Awal dan pertengahan tahun 2019 menjadi bulan di mana saya terjebak dalam kebosanan. Saya hanya bermain Overwatch dan sisanya dihabiskan hanya untuk menonton live turnamen esport saja.
Namun, saat Rockstar Games mengumumkan kehadiran Red Dead Redemption 2 untuk platform PC, tanpa melihat review dari versi PS4-nya, saya langsung melakukan pre-purchase! Well, memang saya dari zaman dulu sangat menggemari game dengan tema medieval dan juga wild west.
Dan benar saja, ketika resmi rilis pada tanggal 5 November 2019, saya sangat terpukau! Dari sisi gameplay yang point-to-point memang cukup standar seperti GTA, tapi itu semua berhasil ditutup oleh Rockstar Games dengan grafis keren dan banyak detail interaksi yang sangat realistis di sekitar dunianya.
Untuk story udah ga diragukan lagi kerennya, sementara untuk Red Dead Online meskipun konten yang ditawarkan masih minim, namun sejauh ini masih cukup menarik untuk dimainkan. Melihat sejarah baik bagaimana Rockstar Games meng-handle GTA, saya optimis mereka juga akan melakukan hal yang sama untuk Red Dead Redemption 2 Online!
Harga game yang terjangkau dan roleplay akan menjadi selling point yang kuat Red Dead Online agar bisa populer bagi gamer di Indonesia.
