Virtual Golazo! – Ketika Esports FIFA Jadi “Pelarian” Penggila Bola di Masa Pandemi

Pandemi membuat sejumlah olahraga profesional dihentikan. Penggemar yang butuh hiburan kemudian "lari" ke esports. Bagaimana EA menyikapinya?


“Semua berawal ketika Liverpool berusaha memenangkan titel Premier League…”

Demikian candaan warganet penggemar bola ketika hendak membicarakan situasi di tahun 2020. Tahun ini memang tahun legendaris yang akan tercatat dalam sejarah. Bagaimana tidak? Baru juga memasuki bulan keempat, sepertinya jumlah krisis di dalamnya sudah cukup untuk jadi konten berita selama satu dekade. Mulai dari bencana alam, konflik antarnegara, dan yang kini sedang hangat-hangatnya, kemunculan pandemi COVID-19 yang memiliki tingkat persebaran begitu cepat.

Pandemi ini adalah masalah serius, meski tidak semua lapisan masyarakat terkena imbas negatifnya. Ada sebagian yang masih bisa bekerja dari rumah, mendapatkan penghasilan layak, dan hidup dalam rasa aman. Sementara di luar sana banyak kegiatan yang benar-benar harus berhenti total karena berpotensi mengancam keselamatan pihak-pihak yang terlibat. Sepak bola profesional contohnya.

Sumber: Liverpool FC

Kalender Musim Liga yang Terhenti

Sepak bola profesional adalah industri dengan nilai miliaran dolar. Ada banyak stakeholder terlibat, bukan hanya para atlet dan penggemar tapi juga sponsor dan investor yang datang dari berbagai belahan dunia. Kalau kita menilik lebih dalam lagi, sebetulnya ada lusinan profesi lain turut berkontribusi di belakang layar. Dari dokter, software engineer, kameraman, sampai editor video. Koki, cleaning service, hingga ahli gizi.

Kita yang ada di posisi konsumen mungkin hanya melihat sepak bola sebagai sebuah tayangan hiburan. Tapi bagi profesi-profesi di atas, sepak bola adalah mata pencaharian. Dan bayangkan, seluas apa dampaknya ketika seluruh kegiatan sepak bola kemudian dihentikan. Memang judulnya hanya untuk sementara, namun kenyataannya, siapa bisa tahu “sementara” itu bakal bertahan sampai kapan?

Bagi mereka yang beraksi langsung di lapangan, penghentian aktivitas memunculkan sejumlah besar pertanyaan. Pasalnya penghentian akibat pandemi ini benar-benar mendadak, tanpa menunggu kompetisi berjalan selesai diselenggarakan. Bagaimana hasil liga nantinya? Siapa yang pantas ditetapkan jadi juara? Kesehatan masyarakat tetap jadi prioritas, hanya saja di sini juga ada pertaruhan besar.

Ajax Amsterdam dipastikan batal jadi juara liga Belanda | Sumber: Voice of Indonesia

Setiap negara sepertinya bisa punya jawaban berbeda atas pertanyaan ini. Liga Belanda sudah mengambil keputusan: liga musim ini ditutup prematur, dan tak ada klub yang jadi juara. Italia beda lagi, sudah ada ancang-ancang untuk membuka kompetisi kembali di bulan Juni. Senada dengan Inggris, walaupun masih belum ada keputusan final soal hal ini. Bayangan saya, klub Liverpool beserta para penggemarnya adalah yang paling deg-degan menanti.

Beberapa negara memang mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa wabah COVID-19 sudah mulai mereda. Tapi seandainya memang liga-liga sepak bola itu jadi dilanjutkan, pelaksanaannya paling cepat mungkin di bulan Juni atau akhir Mei. Selagi masih menunggu, kita para penggila bola cuma bisa berbuat apa?

Merumput di Lapangan Virtual

Satu hal yang agak lucu di sini adalah bahwa pertanyaan “kita bisa apa” itu sebenarnya tidak hanya terjadi di kalangan penggemar atau konsumen. Para pelaku industri pun memikirkan hal yang sama, dan kalau kamu setia mengikuti kabar dari Gimbot, kamu pasti sudah tahu jawabannya. Singkat saja: olahraga elektronik. Esports.

Donovan “Tekkz” Hunt, juara ePremier League 2018/2019 | Sumber: Premier League

Selama lebih dari satu dekade terakhir, peleburan antara olahraga tradisional dengan esports sama sekali bukan hal baru di dunia nyata. Namun dalam perkembangannya, selama ini peleburan olahraga tradisional ke dalam esports itu bersifat kepada pilihan. Para pegiat esports tentu ingin lebih banyak melakukannya, tapi terkadang ada saja kendala yang menghalangi. Entah itu dari masalah lisensi yang pengurusannya sangat rumit, kesiapan produk penyelenggara esports itu sendiri, sampai masalah finansial. Setidaknya di tahun 2019, masih banyak investor yang ragu-ragu menanamkan modal di esports, dan memilih mengambil langkah wait and see.

Pandemi yang tengah terjadi seolah memberikan kesempatan dalam kesempitan. Ketika olahraga tradisional dihentikan, muncul peluang-peluang untuk menyajikan hiburan serupa dalam wujud olahraga virtual. Terkadang inisiatif itu malah datang dari organisasi olahraga tradisional, seperti NASCAR, MotoGP, atau FA.

Motorsport termasuk pionir olahraga yang berkolaborasi dengan esports | Sumber: Red Bull

Sepak bola sendiri masuk dalam cabang olahraga yang sudah sering bersinggungan dengan esports. Selama ini FIFA memiliki hubungan erat dengan EA Sports, jadi wajar bila kemudian kedua organisasi sering mengadakan kolaborasi. Lagi pula, EA Sports-lah pencipta game resmi FIFA, di samping sejumlah judul olahraga populer lainnya.

Di tengah kondisi pandemi ini, EA Sports memiliki inisiatif khusus dengan nama “Stay Home. Play Together.” Untuk mendukung kegiatan physical distancing dan meredam laju persebaran SARS-CoV-2, EA Sports menghadirkan sederet program esports yang bisa disaksikan secara online. Program ini juga hadir di channel televisi ESPN untuk cabang olahraga American football.

Penggemar sepak bola bisa menikmati kompetisi ePremier League yang diikuti oleh 20 klub liga Inggris ternama. Ada juga Bundesliga Home Challenge, di mana klub-klub liga Jerman akan saling adu kemampuan di lapangan virtual. Untuk mereka yang ingin menonton bintang-bintang sepak bola mencicipi esports, telah digelar juga turnamen FIFA 20 dengan nama Stay and Play Cup pada tanggal 15-19 April kemarin.

Turnamen ePremier League Invitational | Sumber: Premier League

Ke depannya nanti, jangan kaget apabila acara-acara seperti ini akan semakin menjamur. EA Sports pun berkomitmen untuk terus menyajikan hiburan serupa, tidak hanya bekerja sama dengan FIFA namun juga dengan NFL, NBA, NHL, sampai UFC. Ucapkan selamat tinggal pada perdebatan apakah esports layak disebut “olahraga sungguhan” atau tidak. Selamat datang di tahun 2020, tahun di mana esports is the only sport.

Karena “Sepi” Ini Milik Bersama

Memindahkan olahraga dari lapangan hijau ke lapangan virtual tidak semudah membalik telur di atas penggorengan. Infrastruktur yang dibutuhkan, jumlah pasar yang bisa digaet, hingga siapa saja yang ikut terlibat, hal-hal semacam ini jelas jadi pertimbangan yang penting. Apalagi seorang atlet yang jago main sepak bola sungguhan belum tentu jago bermain FIFA, begitu pula sebaliknya.

Kalau kita berharap esports bisa jadi pengganti olahraga tradisional 100%, mungkin itu berlebihan. Namun setidaknya, data viewership menunjukkan bahwa ternyata “olahraga tradisional yang dijadikan virtual” juga sanggup jadi hiburan bagi banyak orang. Stay and Play Cup tadi misalnya, dilaporkan oleh Esports Chart berhasil meraih peak viewers sebanyak 120.781 penonton. Di tempat lain, siaran F1 Esports Virtual Grand Prix Series meraih lebih dari 350.000 viewers di Twitch, YouTube, dan Facebook.

Banyak ruang kolaborasi antara esports dan olahraga | Sumber: MPL Indonesia

Hikmah yang bisa kita petik dari situasi ini adalah bahwa kedua industri ini (industri esports dan industri olahraga) sebetulnya masih menyimpan potensi lebih besar lagi untuk saling bekerja sama. Seandainya nanti ketika pandemi sudah berakhir, program-program seperti ini diharapkan bisa terus dilanjutkan. Tentunya sambil mengusung tema dan format yang berbeda, menyesuaikan dengan kebutuhan.

Semangat kolaborasi dan saling membantu sangat kita butuhkan di masa-masa sulit seperti ini. Apalagi sekarang kita juga sedang berada di bulan Ramadan, yang identik dengan seruan untuk berbuat kebaikan. Menariknya, semangat yang sama juga banyak ditunjukkan oleh industri esports. Banyak kompetisi yang digelar di tengah pandemi sekarang bukanlah kompetisi biasa, melainkan kompetisi amal untuk membantu masyarakat yang terdampak COVID-19.

EA Sports juga punya cara sendiri untuk berbagi dengan para gamer, yaitu melalui program giveaway yang dilakukan lewat berbagai media. Gimbot juga akan menyalurkan giveaway game FIFA 20 tersebut, jadi kalau kamu berminat, silahkan follow dan pantau terus akun resmi Gimbot di Instagram.

Fitur VOLTA di FIFA 20 mengusung semangat egaliter yang sama dengan esports | Sumber: PC Gamer

Mari kita terus saling membantu dan berdoa supaya masalah ini cepat selesai. Terus sukseskan program physical distancing, meski harus sabar tidak bertemu dengan keluarga atau orang-orang tercinta dulu sementara. Jangan takut namun tetaplah waspada, dan tidak perlu bersedih hati. Karena bagaimana pun juga, sepi ini milik bersama!


Tentang Electronic Arts

Electronic Arts Inc. adalah salah satu pionir terdepan dalam industri hiburan interaktif digital. Selama tiga dekade terakhir, EA telah menyuguhkan konten interaktif digital untuk console video game rumahan, perangkat mobile dan komputer PC kepada lebih dari 300 juta orang pengguna di seluruh dunia.

Konten advertorial ini terwujud sebagai bentuk kepedulian EA untuk memperlambat laju kurva pandemi sembari merayakan semangat berbagi di tengah situasi sulit seperti sekarang.


Gimbot

Gimbot adalah platform informasi game di Indonesia, kamu bisa menemukan konten seperti berita, review, dan guide seputar game menarik di sini. Kalau kamu punya saran, kritik, pertanyaan, atau penawaran kerja sama, jangan sungkan untuk menghubungi kami di hello@gimbot.com ya!