Profil Singkat Hidetaka Miyazaki, Pencipta Genre Souls


Yuk kenalan lebih dekat dengan Hidetaka Miyazaki.

Hidetaka Miyazaki

Dark Souls Series, Bloodborne, Sekiro: Shadow Die Twice. Ketiga game itu dikenal oleh khalayak karena memiliki tingkat kesulitan yang bisa dibilang tidak manusiawi. Menawarkan mekanisme gameplay RPG seperti pada umumnya, siapa yang tahu jika ketiga game itu memiliki AI yang bisa bikin kepala pusing.

Langkah kalian harus diperhitungkan dengan sangat baik. Menyamakan ketiga game itu sama seperti game RPG pada umumnya hanya akan menambah derita kalian.

Tentu yang namanya sebuah karya memiliki pencipta, membicarakan ketiga game tersebut dan mengakui, artinya sama kita menyanjung seorang Hidetaka Miyazaki.

BACA JUGA: Game yang Bisa Ditamatkan Kurang dari 6 Jam

Ya, Hidetaka Miyazaki merupakan seorang yang cukup berpengaruh di industri game. Dia membuat seri Dark Souls yang begitu fenomenal bahkan karena tingkat kesulitannya yang “agak” sinting, beberapa gamer sepakat bahwa Souls itu menjadi genre jenis baru.

Ya, genre di mana game RPG berada di tingkat kesulitan maksimum yang menuntut skill dari si gamer itu sendiri. Lantas bagaimana sebenarnya kiprah seorang Hidetaka Miyazaki di industri game? Kenapa dia bisa membuat sebuah karya fenomenal macam Dark Souls, Sekiro: Shadow Die Twice, dan Bloodborne?

Gimbot bakal membahas mengenai profil singkat seorang Hidetaka Miyazaki, sang pembuat genre Souls.

Pengaruh dan Lifetime Achievement

Hidetaka Miyazaki lahir di Shizuoka, Jepang, dia saat ini berposisi sebagai direktur, perancang, penulis, dan Presiden dari perusahaan game asal Jepang, FromSoftware. Miyazaki tak serta merta menjadi Big Boss di sana karena dia merintis semuanya dari bawah.

Miyazaki awalnya bergabung dengan FromSoftware sebagai desainer game pada tahun 2004 dan saat itu dia mengerjakan proyek pertamanya di seri Armored Core. Sejak saat itu ide Miyazaki semakin luas hingga akhirnya dia menciptakan seri Dark Souls di tahun 2009.

Miyazaki sendiri terinspirasi membuat karya-karyanya dari novelis, mangaka, dan desainer game lainnya misalnya Fumito Ueda atau Yuji Horii. Sebagai salah satu pembuat game kenamaan, Miyazaki pernah memenangi lifetime achievement di Golden Joystick Awards 2018.

Bangkit dari Kemiskinan dan Larangan Bermain Game

Tak seperti kebanyakan teman-temannya, saat kecil Hidetaka Miyazaki tak punya ambisi untuk menjadi seorang yang besar. Maklum saja, Miyazaki hidup dalam kehidupan yang sangat miskin. Tapi seperti halnya manusia lain, Miyazaki memiliki sebuah kelebihan yakni dia suka baca buku.

Meski orang tuanya tidak bisa membelikan buku, Miyazaki masih berusaha untuk memenuhi otaknya dengan meminjam sejumlah buku dari perpustakaan setempat di Shizuoka.

Minat baca inilah yang membuat Miyazaki memiliki wawasan serta imajinasi yang luas apalagi Miyazaki sering membaca buku yang berbahasa Inggris di mana dia terkadang tidak dapat menerjemahkannya dengan baik.

BACA JUGA: Alasan Pro Evolution Soccer 2019 Diganti Menjadi Detroit: Become Human di PS Plus Bulan Juli

Saat ini Miyazaki terkenal karena karyanya di industri game, tapi siapa sangka jika dulu Miyazaki ternyata tidak boleh bermain game oleh orang tuanya sebelum kuliah.

Tapi ketertarikan Miyazaki akan game tak menghentikannya. Dia masih bermain board game seperti Steve Jackson’s Sorcery! dan Dungeons and Dragons.

Kegagalan, Kebangkitan, dan Bloodborne

Hidetaka Miyazaki merupakan lulusan dari Universitas Keio dengan gelar Ilmu Sosial, setelah lulus, Miyazaki bekerja sebagai account manager untuk Oracle Corporation yang berbasis di Amerika Serikat. Sejak saat itu Miyazaki mendapatkan rekomendasi untuk memainkan game Ico tahun 2001. Tertarik dengan Ico, Miyazaki akhirnya tertarik menjadi seorang desainer game.

Di usia ke-29 tahun, Miyazaki bergabung dengan FromSoftware, di mana Miyazaki bekerja untuk proyek Armored Core: Raven tahun 2004. Kemudian Miyazaki melanjutkan Armored Core 4 dan Armored Core: For Answer.

Setelah cukup mendapatkan pengalaman, Miyazaki akhirnya memberanikan diri untuk menggarap proyek Dark Souls yang mendapatkan cibiran di Tokyo Game Show 2009. Dalam sebuah wawancara, Miyazaki hanya bisa pasrah dengan kegagalan Souls.

“Saya pikir, jika saya bisa mengendalikan permainan, saya bisa mengubahnya menjadi apapun yang saya inginkan. Tapi jika ide itu gagal, tidak akan ada yang peduli. Itu sudah gagal.”

BACA JUGA: Cutscene Game Terpanjang yang Paling Fantastis

Tapi ajaibnya, meski gagal di awal rilis, Dark Souls justru mengalami peningkatan penjualan hingga ada publisher yang bersedia merilisnya di luar Jepang. Di tahun 2011, Dark Souls dianggap sukses besar dan pada tahun 2014 dia dipromosikan ke posisi Presiden perusahaan.

Setelah merilis edisi Ready to Die dari Dark Souls pada Agustus tahun 2012, Sony Computer Entertainment mendekati FromSoftware untuk meminta mereka membuat judul baru untuk console generasi kedelapan. Ya, game itu adalah Bloodborne.

Tak mampu menyelesaikan dua proyek sekaligus, Miyazaki lebih memilih menyelesaikan Bloodborne hingga pada Maret 2015, seri ini rilis. Setelah itu Miyazaki menggarap Dark Souls 3 yang rilis di tahun 2016. Satu tahun kemudian, pengembangan seri Dark Souls resmi dihentikan.

Sejak saat itu dia mendapatkan penghargaan Lifetime Achievement Award 2018 atas kontribusinya di industri game. Di tahun 2019, Miyazaki sukses dengan Sekiro: Shadow Die Twice dan kini tengah mengembangkan game berjudul Elden Ring bersama penulis novel Game of Thrones, George R.R. Martin.


Pentombled

Main game gak bakal bikin masa depan suram. Yang bikin suram adalah ketika lo malas berbuat sesuatu! Happy gaming.