Pro Evolution Soccer (nanti disebut PES) dan FIFA merupakan salah satu game simulasi sepak bola terbesar yang ada saat ini. Kedua game ini selalu menampilkan sesuatu yang epik di setiap tahunnya.
Tak heran jika dari tahun ke tahun para pencinta game sepak bola selalu dibingungkan apakah mereka harus membeli FIFA atau PES. Persaingan keduanya pun akhirnya berlanjut ke tahun 2020 di mana keduanya sudah meluncurkan trailer terbarunya di ajang E3 2019 beberapa hari yang lalu.
Setelah bertahun-tahun selalu menjadi user PES, di tahun 2020 nanti saya memutuskan untuk menjadi user FIFA. Alasannya beragam dan bakal saya bahas satu per satu.
Butuh Suasana Baru
Jujur saja, salah satu hal yang membuat saya sebagai user PES selama bertahun-tahun akhirnya pindah ke FIFA karena saya sendiri membutuhkan sebuah suasana baru.
Dalam trailer yang dimunculkan, PES 2020 memang memiliki sebuah polesan baru tapi sejauh ini hanya dalam skala yang sedikit misalnya saja dari segi gameplay dan master league remastered saja.
Dari sisi gameplay, memang tidak ada yang menyangkal bahwa improvisasi PES cukup terasa signifikan di tiap tahunnya. Khusus untuk PES 2020 sendiri, gameplay digarap sempurna dengan menggunakan Andres Iniesta sebagai konsultan.
Master League Remastered juga bakal menjadi salah satu hal baru yang menyajikan dialog yang lebih realistis dan bursa transfer yang juga diklaim semakin mendekati aslinya.
BACA JUGA: Deretan Game PC yang Mewarnai Ajang E3 2019
Tapi dari sisi konten, saya tidak melihat sesuatu yang spesial. Setidaknya menurut pendapat saya pribadi setelah bolak-balik membaca berita dan trailer di Youtube.
Konten yang ditawarkan PES sama seperti sebelumnya. Sedangkan FIFA 2020 membawa angin segar dengan menghadirkan Volta. Ya, setelah di seri sebelumnya menghadirkan fitur berupa The Journey yang menceritakan petualangan seorang Alex Hunter untuk jadi pesepak bola ternama, kini FIFA 2020 hadir dengan Volta.
Apa itu Volta? Volta merupakan fitur mini yang memungkinkan kita bermain sepak bola jalanan. Bagi yang dulu pernah bermain FIFA Street, kira-kira seperti itulah Volta.
Dengan menawarkan suasana baru tersebut, saya akhirnya memantapkan diri untuk mengambil FIFA 2020 nantinya.
Lisensi, Lisensi, Lisensi
Lisensi tak bisa dipungkiri menjadi sesuatu yang penting saat ini, setidaknya bagi saya. Setelah bertahun-tahun selalu menjadikan PES sebagai mainan sepak bola utama di PC, saya mulai merasa jenuh soal masalah lisensi.
Membeli sebuah game yang harganya cukup mahal tapi harus melakukan patch lisensi kemudian, saya mulai merasa bahwa ini adalah hal yang konyol. Apalagi, patch ini sifatnya tidak otomatis karena ketika bursa transfer, jersey, lapangan, score board semuanya berubah, kita juga harus menggunakan patch yang baru.
Tak jarang untuk user yang pertama kali melakukan patch, eror pasti bisa terjadi ketika melakukannya. Saya sendiri yang sudah berkali-kali melakukannya terkadang masing mengalami eror.
BACA JUGA: Sejarah Dimulainya Electronic Entertainment Expo(E3)
Seiring bertambahnya usia menjadi lebih matang, saya malas dengan hal-hal yang rumit. Untuk itulah pada akhirnya saya berniat untuk meminang FIFA 2020 nantinya.
Dari segi lisensi, FIFA jauh lebih lengkap khususnya di level klub. Selain itu, lisensi Liga Champions juga kini hanya dipegang FIFA saja. Rasanya membuang uang ratusan ribu tanpa harus melakukan hal yang rumit lagi menjadi sesuatu yang worth untuk dilakukan.
Selain itu, FIFA juga kerap memasukkan klub kecil yang kurang terkenal di dalamnya. Sebagai pencinta sepak bola, hal ini sangat wajib untuk diperhitungkan.
Untuk melihat soal lisensi, kalian bisa melihatnya di sini.
Pertandingan In Game yang Lebih Hidup
Sebagai pencinta sepak bola, salah satu yang saya harapkan dari PES adalah bahwa suasana pertandingannya bakal dibuat seciamik mungkin. Selama beberapa tahun saya menunggu hal ini terjadi namun Konami urung melakukannya.
Dulu teman saya pernah berkata bahwa FIFA memiliki atmosfer pertandingan yang lebih hidup. Saya sudah membuktikannya dan tidak menampik bahwa memang suasana pertandingan di FIFA lebih hidup.
BACA JUGA: Layak Ditunggu, Ini Deretan Game Horor Menarik dari Ajang E3 2019
Tapi saya lebih memilih untuk bertahan dengan PES. Lagi-lagi karena faktor usia, saya menginginkan hal yang lebih dari pertandingan sepak bola virtual.
Salah satu penyebab nantinya saya membeli FIFA 2020 adalah bahwa susana pertandingan yang lebih detail berhasil ditawarkan oleh game yang dibesut oleh EA ini.
Di FIFA, komentator memandu pertandingan lebih garang bak seperti aslinya sedangkan PES dari tahun ke tahun selalu monotong meskipun saya tidak tahu apakah ada improvement yang terjadi di PES 2020.
Selain itu sorak penonton dan motion saat penonton bersorak di pinggir stadion masih jauh lebih baik milik FIFA menurut pendapat saya.
Sepertinya itulah pendapat pribadi saya mengenai alasan mengapa saya yang seorang pencinta PES malah jatuh hati dan memilih FIFA di tahun 2020. Ketiga hal di atas merupakan hal yang saya anggap krusial.
Intinya, saya sebagai pencinta PES menginginkan sesuatu yang baru dan sesuatu yang baru tersebut justru malah ada di FIFA.
