Sejarah Dimulainya Electronic Entertainment Expo(E3)


Pekan E3 akan berakhir minggu ini, yuk simak seperti apa sejarahnya!

E3

Electronic Entertainment Expo (nanti disebut E3) adalah salah satu ajang yang begitu melekat dalam diri pada gamer. Ajang yang satu ini digelar sebagai ajang tahunan yang wajib disimak dan dilihat.

Kenapa demikian? pasalnya, di ajang E3, para developer kerap membagikan trailer dan cuplikan-cuplikan mengenai game yang sedang mereka kerjakan. Selain itu, para developer juga kerap memberikan informasi detail mengenai game yang sedang mereka garap.

Tapi apakah kalian tahu awal mula dimulainya E3? Jika belum tahu, Gimbot bakal membahasnya.

Awal Terciptanya

Sebelum adanya E3, para developer dan publisher game menggunakan ajang Consumer Electronics Show (CES) dan European Computer Trade Show untuk menampilkan produk yang sedang mereka garap. Tapi sayangnya, para developer serta publisher mendapatkan pelayanan yang bisa dikategorikan kurang bagus di CES.

Menurut CEO Sega America, biasanya para aktor yang terlibat di industry game ditempatkan jauh di belakang dan mereka harus berjuang keras untuk bisa tampil di CES. Hal itu diungkapkannya di tahun 1990an ketika saat itu industri game sedang berkembang pesat.

“Penyelenggara CES biasanya menempatkan industri video game di belakang dan kalian harus melewati semua vendor barulah bisa melihat kami. Saya sangat geram dengan sikap CES yang memperlakukan industri game seperti itu,” tutur Tom Kalinske kala itu.

Satu tahun berselang Sega absen di CES diikuti dengan sejumlah perusahaan game yang juga turut hengkang dari acara tersebut.

BACA JUGA: Layak Ditunggu, Ini Deretan Game Horor Menarik dari Ajang E3 2019

Di tahun 1994, industri video game membentuk sebuah Asosiasi Perangkat Lunak Digital Interaktif (IDSA) yang kemudian berubah nama menjadi Asosiasi Perangkat Lunak Hiburan (ESA) di tahun 2003.

IDSA sendiri dibentuk untuk menanggapi kurangnya perhatian terhadap industri game. Salah satu hasil dari perkumpulan IDSA adalah adanya Dewan Peringkat Perangkat Lunak Hiburan (ESRB). Singkat cerita, para penggiat industri game akhirnya berusaha untuk membentuk sebuah acara pameran game.

Akhirnya, Pat Ferrell, pencipta GamePro yang dimiliki oleh International Data Group (IDG) berinisiatif untuk membentuk Electronic Emtertainment Expo (E3). Ferrell berkonsultasi untuk IDG sebelum dia membentuk E3.

Tapi jalan terjal harus dilalui oleh Ferrell. Meskipun E3 mendapatkan sambutan dari beberapa perusahaan yang terlibat di industri game, ada juga beberapa perusahaan yang justru lebih suka dengan CES. Nintendo dan Microsoft menjadi salah dua perusahaan yang mendukung pendekatan CES.

Tapi kemudian E3 dinyatakan menang suara dan menjadikan E3 sebagai pameran dagang utama untuk industri video game mengalahkan CES.

Meraih Kesuksesan di Satu Dekade Pertama (1995-2006)

Acara pertama diadakan pada 11-13 Mei 1995 di Los Angeles Convention Center yang pada akhirnya lokasi ini selalu dipilih sebagai tempat digelarnya ajang E3. Sebanyak 40.000 peserta hadir di ajang pertama E3 ini bahkan ajang ini langsung dinobatkan sebagai acara terbesar di industri video game.

IDSA kemudian sadar bahwa E3 memiliki nama dan kekuatan yang bisa bertahan hingga bertahun-tahun mendatang. Kemudian IDSA mencoba mengambil kepemilikan penuh atas merk dagang E3. Sedangkan IDG yang menjadi pioneer menjadi perusahaan yang membantu pelaksanaan acara tersebut. Hingga tahun 2006, acara E3 digelar di bulan Mei.

Tapi meski sukses, ada yang menarik dari gelaran E3. Di tahun 1996, IDSA dan IDG mencoba untuk membuat E3 versi Jepang. Tapi sayangnya, sedikitnya sponsor untuk acara ini berakhir dengan kegagalan. Dalam praktiknya, hanya Nintendo yang bertahan untuk ikut ajang ini sedangkan Sony Computer Entertainment dan Sega memilih mundur.

BACA JUGA: [OPINI] Alasan Mengapa Kamu Perlu Menunda Pre-Order Death Stranding

Buruknya E3 Jepang membuat niat untuk menggelar E3 Singapura dan Kanada urung terjadi. Di samping itu jalan terjal juga terjadi di ajang E3 1997 dan 1998 di mana Los Angeles Convention dan para penitia gagal mencapai kesepakatan.

Ajang ini kemudian sempat digelar di Atlanta dan akhirnya kembali ke Los Angeles Convention Center di tahun 1999. Sejak saat itu E3 terus berkembang mulai dari 60.000 peserta hingga 70.000 peserta selalu hadir.

Membatasi Hadirin yang Datang ke Acara

Selama satu dekade, E3 terus membesar tapi pada akhirnya di tahun 2006, beberapa vendor mengeluhkan bahwa sebagian peserta yang hadir di ajang ini adalah blogger dan para peserta yang tidak dianggap sebagai professional.

Untuk menanggulangi hal tersebut, akhirnya ESA selaku pihak yang bertanggung jawab mengumumkan pembatasan hadirin yang menghadiri E3. Hal ini diumumkan pada Juli 2006. Di tahun 2007, peserta yang hadir hanya 10.000 sedangkan di tahun 2008 semakin menyusut hanya menjadi 5.000 orang.

Keputusan ini membuat ESA dikritik keras oleh berbagai pihak. Salah satunya adalah Analis Industri, Michael Pachter. Menurutnya, tidak hadirnya konsumen di ajang itu bakal membuat E3 macet dan akhirnya punah.

Mengembalikan Keputusan Lama

Keluhan dari berbagai pihak tersebut akhirnya memaksa ESA untuk mengambil langkah. Akhirnya E3 2009 membuat ESA membuat E3 lebih terbuka. Ajang ini menambah para peserta menjadi 45.000 tapi tetap menjadi acara tertutup untuk umum.

Di tahun 2013, beberapa perusahaan video game ternama memutuskan untuk tidak ikut E3. Perusahaan tersebut adalah Nintendo dan Electronic Arts. Dari tahun tersebut ESA terus mencari cara agar E3 menjadi ajang yang tetap ramai dan ditunggu oleh para penonton.

Pada akhirnya sebuah kebijakan lama kembali dibuat tepatnya di tahun 2018 di mana publik diizinkan untuk masuk. Peraturannya, public biasa baru bisa masuk ke ajang E3 setelah E3 digelar selama tiga jam. Ini berlaku untuk dua hari gelaran E3.

Source: E3 Wiki


Adam Imadudin

Penulis olahraga yang suka bermain games, disela-sela kesibukannya suka isi konten di Youtubenya, pendengar musik Dream Theater, dan punya cita-cita di endorse berbagai hardware PC!