Cara Life is Strange Menggambarkan Kiat Menghadapi Bully di Kehidupan Nyata

Life is Strange muncul menjadi suatu game yang bisa memberikan kita banyak pelajaran salah satunya mengenai melawan tindakan bully.


Life is Strange

Harus diakui bahwa bully memang menjadi salah satu perilaku yang sering dilakukan anak muda di seluruh dunia. Bully menjadi momok menakutkan bagi anak-anak remaja bahkan dewasa. Selain transformasinya yang tak hanya soal fisik dan verbal saja, kini ada banyak sekali jenis bully salah satunya adalah mengenai bully melalui media sosial.

Bully di media sosial bahkan tak kalah bahaya dibandingkan bully verbal atau bully fisik yang notabene dilakukan secara langsung oleh si pelaku kepada korban. Meski melalui media sosial, korban bully bisa tetap merasa malu bahkan tak jarang berujung pada kasus yang sangat fatal seperti bunuh diri atau kasus kriminal lainnya.

Konsep soal bully-lah yang sebenarnya dibawa oleh game besutan Dontnod Studios melalui Life is Strange. Menjadikan pergaulan anak remaja sebagai fokus utama, bully menjadi raja dan musuh utama di sini. Bahkan saking dalamnya penggarapan bully di game ini, kita bisa belajar memahami soal bully dan bahayanya terhadap kehidupan seseorang.

Bahkan Life is Strange sendiri menjadikan karakter utamanya yang bernama Max sebagai seorang minoritas dan nerd yang memang menjadi target bully rekan-rekannya yang lebih superior. Hal ini jelas memberikan kita lebih banyak kesempatan untuk mengeksplorasi dan memahami mengenai bully. Kira-kira seperti apa Life is Strange menggambarkan kiat menghadapi bully di kehidupan nyata? Saya akan menjelaskannya satu per satu.

Bully Bisa Menyasar Siapa Saja!

Life is Strange

Siapa sangka jika pandangan kita soal bully bisa salah. Misalnya saja adalah kita beranggapan bahwa bully akan menyasar orang atau anak yang lemah dan dipandang aneh oleh kalangan tertentu. Di Life is Strange, mereka meluruskan hal tersebut dengan membuat konsep di mana bully ini ternyata menyasar juga orang yang normal dan baik-baik saja secara mentalitas.

Hal ini tercermin dari kasus yang diterima karakter bernama Kate Marsh yang datang ke acara party namun justru harus mendapatkan masalah akibat dikerjai oleh karakter laki-laki antagonis bernama Nathan Prescott. Bahkan Life is Strange juga menjadikan bully media sosial sebagai sebuah pedang tajam yang bisa mengakhiri siapapun.

BACA JUGA: Perlu Tahu! 5 Fitur Rahasia Menarik yang Ada di PlayStation 4

Kate kembali menjadi korban bully media sosial karena video tak senonohnya diunduh orang tak bertanggung jawab ke internet setelah party tersebut. Akhirannya kalian sudah tahu bahwa Kate mengalami depresi hebat hingga memutuskan untuk bunuh diri. Lagi-lagi Life is Strange kembali menjelaskan bahwa bully bisa berdampak sangat hebat bagi korbannya.

Perlu diketahui bahwa untuk mengobati sebuah depresi berat harus dilakukan terapi yang cukup panjang dan diagnosanya juga tak main-main karena harus dilakukan oleh orang-orang terdekat korban plus seorang psikolog. Life is Strange memberikan pemahaman jika bully bukanlah hal yang mesti dilakukan karena dampaknya akan sangat buruk bagi psikis seseorang.

Pandangan bully bisa mengincar siapa saja juga bukan hanya pada sosok Kate saja. Karakter bernama Chloe juga menjadi target bully dari sang ayah tiri bernama David Madsen yang merupakan Kepala Security di Blackwel School, tempat sang karakter utama, Max Caulfield sekolah.

David adalah sosok yang temperamental dan buruk dari sisi mental. Dia bahkan tak segan untuk memukul Chloe dan berbuat kasar kepadanya. Sangat disayangkan memang karena seharusnya seorang ayah meski itu adalah ayah tiri seharusnya melindungi anaknya bukan malah menyiksanya. David juga kerap berkata kasar kepada Chloe dan sering sekali mengancamnya.

Belum lagi ada perilaku tidak baik yang dilakukan salah satu guru di Life is Strange, Mark Jefferson yang mengancam para murid di sekolah ini.

Kasarnya orang tua atau orang terdekat kepada target bully merupakan makanan sehari-hari yang biasanya kita lihat di berita dan media sosial. Hal ini nyata adanya, bukan sebuah karangan dari game ini semata. Hal ini membuat kita sebagai seseorang harus lebih aware lagi mengenai bully karena bully bisa menyasar siapa saja bahkan yang dianggap tidak mungkin sekalipun.

Jadilah Pemaaf, Jangan Menghakimi Seorang Pembully

Life is Stranges

Menjadi orang yang dibully memang menyebalkan apalagi jika bully yang dilakukan sudah mengarah ke arah berbahaya hal ini jelas membuat kita kesal. Namun apa salahnya kita untuk berjiwa besar jika orang yang membully kita terkena masalah dengan cara membantunya, melupakan kesalahannya, dan memaafkannya.

Hal ini jelas bisa menjadi tameng terkuat agar di kemudian hari kita tidak kena bully lagi bukan? Life is Strange lagi-lagi mengajarkan hal tersebut kepada kita. Satu momen di mana karakter antagonis bernama Victoria ketiban sial dengan tertimpa sebuah cat tembok yang mengguyur tubuhnya. Di sini Max mendapatkan dua pilihan yaitu melakukan bully balik pada Victoria dengan memotretnya atau membuat hatinya tenang.

Dua pilihan ini menyebabkan konsekuensi luar biasa ke depannya di mana jika kita membalas perbuatan tersebut, Victoria akan semakin benci dengan kita dan bully yang dilakukan akan jauh lebih berbahaya. Namun jika kita menghiburnya, dia lama kelamaan akan luluh nantinya dan bakal menjadi salah satu orang yang cukup menolong.

Selain contoh itu, Life is Strange juga mengajarkan banyak hal mengenai pilihan untuk berjiwa besar. Game ini seakan ingin memberikan pesan bahwa “tidak ada salahnya untuk menjadi seseorang yang berjiwa besar bahkan pada musuh sekalipun,”.

Jangan Diam! Tapi Dilawan

Life is Stranges

Kadang kala yang menjadi masalah bagi korban bully adalah dia tidak mampu untuk melawan. Mereka lebih banyak memendam cerita karena malu hingga akhirnya depresi dan berujung hal-hal berbahaya yang tidak diinginkan. Kasus seperti ini sudah sering kali terjadi dan itulah sebabnya para korban bully didorong untuk melakukan speak up! Seberat dan segila apapun perlakuan yang mereka terima.

Life is Strange juga tidak lupa mengemas konsep ini dengan sangat solid dan sempurna. Pertama, menceritakan keluh kesah kepada teman yang dirasa nyaman adalah hal yang perlu dilakukan. Chloe dan Max benar-benar menjelaskan secara gamblang hal itu di mana kedua sahabat ini saling berbagi cerita hingga mereka mampu menjaga kewarasan masing-masing. Tidak ada yang depresi, tidak ada yang terluka meski kedua karakter ini adalah korban bully. Dengan didampingi sahabat, kepercayaan diri seseorang jelas bertambah sehingga mereka mampu untuk melawan bully yang mereka terima.

BACA JUGA: End Game Credit Terbaik Versi Gimbot

Konsep perlawanan bully juga diperlihatkan secara gamblang oleh Max di mana dia berani untuk meginterupsi David ketika berusaha memberikan tekanan kepada Kate. Di sini Max secara gamblang menggertak hingga akhirnya David pergi.

Belum lagi ketika Warren Graham yang juga merupakan karakter nerd dan minoritas berani untuk adu jotos dengan Prescott yang memang dikenal menjadi karakter yang superior. Dia bahkan memukuli Nathan sampai babak belur. Hal yang cukup luar biasa bagi seorang bocah pendiam.

Selain itu, ada juga momen di mana Max harus menarik pelatuk pistol yang digenggamnya agar Frank Bowers yang cukup bad boy tidak lagi kasar kepada Chloe. Semua perlawanan ini memang akan menimbulkan masalah baru, namun setidaknya para pelaku bully akan lebih mewaspadai dan tak meremehkan sang korban lagi.

Saya membaca salah satu media di Indonesia soal bully di mana perilaku bully adalah perilaku yang harus dilawan balik, bukan didiamkan saja. Menceritakan banyak hal kepada orang yang dirasa nyaman dan dapat dipercaya itu perlu. Bagi yang mendapatkan kesempatan sebagai seorang pendengar cerita dari korban bully, ada baiknya untuk menyarankan dan mendukung sang korban alih-alih ikut memojokkannya.

Membantu secara moral adalah hal luar biasa! Semakin banyak yang ikut serta mendorong, semakin mudah untuk menyingkirkan bully. “Harus lebih banyak yang mendorong agar bersuara. Jangan sampai korban bunuh diri terutama dalam melindungi anak-anak,” kata Psikolog, Livia Iskandar dikutip dari CNN.

Orang Tua, Guru, dan Sekitar Bertanggung Jawab Mengawasi

Life Is Strange lagi-lagi menyoroti bahwa terkadang orang tua, guru, dan orang sekitar luput sehingga mereka baru sadar jika seorang korban bully bunuh diri. Kate menjadi contohnya dan bully secara verbal yang tak terhitung jumlahnya di game ini juga menjadi contoh.

Padahal untuk menangani bully, sudah jelas bahwa orang tua, guru, dan orang sekitar wajib mengawasi serta mengontrol tindak tanduk anak-anak bahkan orang dewasa sekalipun. Jika dirasa sudah masuk kategori bully, apa salahnya untuk menegur sang pelaku.

Mark Jefferson menjadi contoh di mana orang dewasa gagal mengerem perilaku bully. Di episode kedua Life is Strange, karakter Kate Marsh meminta tolong kepada Jefferson. Namun sayangnya, dia enggan melakukannya dan berujung pada depresinya Kate.

Life is Strange seakan ingin mengkritik bahwa jika bukan orang-orang yang punya kapabilitas tertentu? Siapa lagi yang bakal menghentikan perilaku bully, padahal perilaku ini ada di dekat mereka. Life is Strange menyoroti hal ini dan seharusnya memberikan pemahaman mengenai butuhnya concern orang dewasa pada bully di kalangan anak remaja.

Kesimpulan

Life is Strange adalah arena yang cukup sempurna dan tidak terbantahkan untuk belajar memahami bully. Apa yang saya tulis hanyalah sedikit contoh dan untuk mengetahui serta memahaminya lebih banyak, kalian bisa mencoba memainkan game ini. Apalagi Dontnod membawa banyak elemen cerita dan pandangan yang benar-benar lekat kehidupan sehari-harinya dengan kita.

Jika boleh beropini, mungkin Life is Strange ingin memberikan pesan kepada kita, “Pahamilah dan Pelajarilah Bully karena dia sangat dekat dengan kita,”.

Beli Life is Strange di Steam


Azzizil Adam

Main game gak bakal bikin masa depan suram. Yang bikin suram adalah ketika lo malas berbuat sesuatu! Happy gaming.