Langkah Valve menaikkan harga Steam Deck OLED hingga ratusan dolar AS baru-baru ini tampaknya tidak hanya membuat dompet para gamer menangis, melainkan juga memicu perang dingin baru antar-petinggi industri gim.
Perangkat yang awalnya dipuja-puja sebagai handheld PC paling ramah kantong ini, kini mendadak berubah menjadi panggung adu sindir yang melibatkan bos besar Epic Games.
Melalui unggahan di akun resmi X miliknya, CEO Epic Games, Tim Sweeney, kedapatan melayangkan sindiran tajam yang langsung mengarah ke bos Valve, Gabe Newell.
Everyone’s being too harsh here. There has been a significant rise in the cost of components that Steam customer spending ultimately funds, and economic trends have created severe disruptions in the component parts supply chain for megayachts. pic.twitter.com/w8iHVdSatK
— Tim Sweeney (@TimSweeneyEpic) May 28, 2026
Dalam cuitannya, Sweeney secara sarkas mengaitkan keputusan Valve menaikkan harga Steam Deck dengan gaya hidup mewah Newell—yang emang sudah rahasia umum dikenal hobi mengoleksi kapal pesiar bernilai fantastis.
Sindiran menohok ini sengaja menyoroti kontras yang ironis: di saat konsumen dipaksa membayar lebih mahal, para petinggi teknologi di belakang layarnya justru asyik menikmati simbol kekayaan ekstrem.
Namun, alih-alih mendapatkan dukungan penuh dari komunitas, aksi pahlawan kesiangan dari Tim Sweeney ini malah berbalik menjadi bumerang. Netizen dan para gamer di X justru menyerang balik Sweeney dengan mengingatkan dosa masa lalu Epic Games yang gak kalah kelam, di mana perusahaan mereka pernah melakukan PHK massal terhadap sekitar 1.000 karyawan.

Banyak warganet menilai Sweeney munafik dan kurang berkaca, karena Epic Games sendiri terbukti tega mengambil keputusan bisnis kejam yang berdampak langsung pada nasib para pekerjanya demi efisiensi finansial perusahaan.
Di sisi lain, mayoritas pencinta teknologi juga paham kalau kenaikan harga Steam Deck ini gak sepenuhnya murni karena keserakahan Valve semata. Faktor kelangkaan RAM dan NAND flash global yang diborong habis oleh industri AI menjadi alasan utama di balik membengkaknya biaya modal komponen.
Selain itu, sebagai perusahaan privat, Valve memang tidak memiliki otot rantai pasok sebesar pabrikan konsol raksasa seperti Sony atau Nintendo yang bisa menekan harga vendor seminimal mungkin.
Pada akhirnya, perseteruan ini berkembang menjadi sebuah realita menarik yang lebih dari sekadar urusan harga gadget. Kasus ini memperlihatkan bagaimana kita, sebagai konsumen dan gamer di era modern, sudah makin kritis dalam menilai tingkah laku para CEO teknologi.
Publik kini gak bakal tinggal diam dan makin pintar menyoroti setiap keputusan bisnis yang merugikan konsumen ataupun karyawan, terutama ketika hal itu terjadi di bawah bayang-bayang gaya hidup mewah para pemiliknya.

https://shorturl.fm/fWS4i