[OPINI] Apakah Genre Auto Battler Akan Sepopuler Battle Royale dan MOBA di Indonesia?


Apakah mereka bakal bisa mengikuti jejak genre battle royale dan MOBA di Indonesia?

Indonesia adalah negara yang unik. Kenapa saya bilang seperti itu? Alasannya cukup mudah, karena sesuatu yang disajikan di Indonesia kemungkinan bakal laku. Ya, laku keras bahkan menjadi sebuah industri meskipun tidak selalu seperti itu.

Salah satu yang laku keras tentu saja adalah video game. Jika ingin lebih spesifik lagi membicarakan masalah ini, kita bisa mengambil dua contoh yakni bersinarnya genre battle royale dan Multiplayer Online Battle Arena (MOBA).

Ada banyak sekali game battle royale yang laku keras, namun saya akan menyebutkan satu yakni Playerunknown’s Battleground Mobile (PUBGM). Untuk genre MOBA, Mobile Legends sudah jelas menjadi raja.

Kedua game ini kerap dipertandingkan di pertandingan-pertandingan resmi bahkan menjadi salah satu bagian dari sebegitu banyaknya game esports.

BACA JUGA: Game Alternatif Auto Chess yang Menarik untuk Kamu Coba!

Tapi di tahun 2019 ini, dua buah genre popular tersebut sepertinya bakal mendapatkan saingan ketat dari salah satu genre baru yang cukup segar, bahkan cukup untuk membuat saya tertarik mengunduh game tersebut di ponsel dan PC saya.

Ya, game tersebut adalah game yang genre-nya disebut auto battler. Genre ini tergolong masih sangat hijau di Indonesia. Game-game auto battler diantaranya adalah Auto Chess, DOTA Underlords, Teamfight Tactics, Chess Rush, dan Magic Chess: Bang Bang.

Sebagai game yang sifatnya player versus player (PVP), apakah nantinya genre ini bakal mengikuti kesuksesan genre battle royale dan MOBA? Setidaknya pertanyaan itu muncul di benak saya.

Terkait hal tersebut, saya memiliki sebuah opini untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Kenapa Bisa Sukses dan Jadi Tren Baru?

Yang pertama bakal dibahas adalah terkait faktor yang menyebabkan game genre ini bisa sukses dan menjadi tren baru. Ada beberapa poin yang menarik untuk dibahas terkait hal tersebut. Berikut ulasannya.

Bisa Dinikmati di Smartphone

Faktor pertama yang akhirnya membawa genre tersebut ke ambang kesuksesan adalah karena sifatnya yang mobile. Bukan hanya untuk pengguna PC, genre auto battler bisa dinikmati oleh khalayak melalui smartphone mereka.

Bahkan DOTA yang sangat identik dengan pengguna PC juga mengeluarkan DOTA Underlords di platform mobile. Kerennya, interface yang digunakan, efek, dan grafik yang diberikan juga sama seperti PC.

BACA JUGA: Kembali Dirilis, Bundel Batman: Arkham Collection Kini Tambahkan Arkham Knight di Dalamnya!

Selain itu Auto Chess, sang pelopor dari lahirnya genre ini juga sudah lebih dulu meluncur di platform mobile. Dengan banyaknya pengguna mobile di Indonesia, bukan tidak mungkin nantinya game ini bakal memiliki banyak pengguna, terkenal, dan akhirnya diperlombakan.

Apalagi para publisher dan developer besar telah membuat serta memasarkan game-game auto battler buatan mereka. Untuk yang satu ini, auto battler tinggal menunggu untuk terkenal.

Bisa Bertarung dengan Player Lain

Siapa yang tidak suka bertarung dan beradu otak dengan orang lain? Tentu hampir semua orang suka berkompetisi. Genre auto battler, mau tidak mau, suka tidak suka, menuntut kalian untuk beradu otak dengan orang lain.

Ada candu tersendiri jika mampu menyajikan pertarungan terbaik dengan orang lain. Yang tak kalah dahsyat adalah genre auto battler juga memungkinkan kalian bermain bersama rekan-rekan kalian hingga delapan orang banyaknya!

Yang membuat genre MOBA dan battle royale sukses adalah adanya konsep kompetisi dan adanya konsep main bareng rekan. Berapa banyak rekan di kantor atau sekolah yang sering main bareng game MOBA atau battle royale? Tentu saja banyak.

Jika menilik pada faktor kompetisi dan main bareng, genre auto battler saya rasa memenuhi syarat untuk menjadi terkenal.

Punya Celah untuk Dipertandingkan

Sebagai game dengan cita rasa kompetisi yang tinggi plus adanya fitur untuk bermain bersama-sama rekan, genre auto battler memiliki celah untuk nantinya dilirik oleh event-event besar.

Di luar negeri, genre auto battler sudah cukup banyak dipertandingkan. Salah satu yang mempertandingkan turnamen ini adalah WePlay! yang merupakan salah satu event organizer dan media esports luar negeri.

Selain WePlay, ESL ONE Hamburg juga mempertandingkan genre auto battler yakni DOTA Underlords.

BACA JUGA: Di Balik Pembuatan Kantor Polisi Raccoon City Resident Evil 2 Remake

Di dalam negeri, gaung dari genre auto battler memang belum terdengar. Komunitasnya pun masih belum banyak. Tapi jika sudah dipertandingkan di ESL dan pertandingan lainnya, lagi-lagi kita hanya tunggu waktu sampai nantinya game bergenre auto battler meledak.

Karena untuk MOBA khususnya Mobile Legends, butuh waktu hingga kurang lebih tiga season (1,5 tahun) hingga menjadi salah satu game yang rutin dipertandingkan di esports.

Kenapa Bakal Flop Nantinya?

Nah, yang kali ini bakal kita bahas adalah apa yang membuat genre yang satu ini melempem? Setidaknya ada beberapa faktor yang bisa mewakilinya.

Tidak Semua Orang Suka Game Strategi

Untuk yang satu ini, tentu masalah psikologis dari gamer sendiri yang menentukan. Untuk game bergenre strategi, tidak semua orang suka pada kenyataannya.

Jika mau memberikan contoh, hampir semua orang suka olahraga sepak bola sedangkan sebaliknya, hampir semua orang tidak suka bermain catur. Artinya apa? orang-orang suka sesuatu yang mengandalkan aksi dan membuat mereka terlibat secara aktif.

BACA JUGA: Mengenal Sony Monica Studio, Developer di Balik Kesuksesan God of War

MOBA dan battle royale merupakan genre yang menuntut gamer untuk aktif di sepanjang pertandingan. Selain menentukan equipment, gamer juga harus menggerakkan hero mereka untuk bertahan dan menyerang.

Sedangkan untuk genre auto battler, gamer hanya bisa mengatur equipment, pick hero, dan melakukan positioning terhadap hero yang mereka punya. Ketika menyerang, hero akan melakukannya secara otomatis.

Game ini murni mengandalkan strategi yang cukup membingungkan layaknya catur. Bedanya, catur tidak ada equipment. Kurang sukanya orang terhadap game strategi yang tidak menuntut player-nya untuk aktif rasa-rasanya akan sulit untuk berkembang, khususnya di Indonesia. Meskipun kenyataannya kemungkinan memang selalu ada.

Mode Permainannya Hanya itu-itu Saja

Sebagai sebuah kompetisi, game auto battler memang cukup punya syarat. Game ini bisa dikompetisikan. Tapi sebuah kompetisi tidak akan berlangsung jika peminatnya kurang.

Apa yang kemudian membuat orang-orang berminat untuk melirik sebuah game? Menurut saya pribadi karena game tersebut punya beberapa jenis permainan. MOBA dan battle royale punya berbagai jenis mode seperti ranked, solo, team, dan lain-lain.

Untuk genre auto battler, tidak ada banyak mode. Hanya ada bertanding melawan orang lain, bot, atau tutorial. Memang sejauh ini beberapa game genre auto battler baru memasuki masa Beta.

Minimnya mode permainan tentunya bakal membuat gamer cepat bosan terutama jika mereka kalah terus.

Kesimpulan

Entah nantinya genre auto battler akan meledak seperti MOBA atau battle royale atau tidak, yang jelas game ini memiliki potensi khususnya sebagai game yang dipertandingkan di banyak event.

Tapi game yang terlalu segmented dan tidak membuat gamer aktif beraksi akan menjadi batu sandungan. Tapi bagi saya pribadi, saya sih optimis nantinya game ini akan jadi tren baru khususnya di Indonesia.

Sekarang tinggal para publisher dan developer-nya saja, apakah mereka bisa memberikan sesuatu yang membuat gamer tertarik atau tidak. Bagaimana menurut kalian?


Pentombled

Main game gak bakal bikin masa depan suram. Yang bikin suram adalah ketika lo malas berbuat sesuatu! Happy gaming.