Nostalgia Review Resident Evil 3: Nemesis – Memahami Alasan Kenapa Perlu Di-Remake

Setelah memainkannya sampai tuntas, akhirnya Gimbot tahu kenapa game ini begitu melegenda dan perlu di-remake.


Nostalgia Review Resident Evil 3: Nemesis

Jujur, tahun 2020 adalah kali pertamanya Gimbot mampu menamatkan Resident Evil 3: Nemesis yang merupakan game besutan Capcom yang rilisnya sudah dari tahun 1999. Hal ini sengaja Gimbot lakukan tentunya untuk menyambut Resident Evil 3: Remake yang bakal meluncur bulan April 2020. Dari segi lore, Gimbot tentu tidak terlalu buta dengan kisah Resident Evil yang rumit itu, namun demi mengetahui seluk beluk dari Resident Evil 3: Nemesis, akhirnya Gimbot menamatkannya.

Meski dari segi visual bisa dikatakan buruk, namun Gimbot merasa atmosfer survival horor yang ditawarkan tidak pernah hilang dan terus membekas sampai saat ini. Gimboy pun akhirnya tahu mengapa game ini begitu legendaris dan dikenang sampai sekarang.

Selain itu ada berbagai hal yang juga membuat Gimbot takjub dalam game ini. Nah, kira-kira, apa saja yang ingin Gimbot bahas? Kenapa Gimbot mengatakan bahwa game ini memang layak dianggap sebagai legenda, berikut ulasannya!

Kharisma Dibangun dari Berbagai Fitur Jempolan

Resident Evil 3: Nemesis

Yang membuat Resident Evil 3: Nemesis begitu kharismatik hingga jadi legenda adalah banyaknya fitur jempolan yang secara pas dieksekusi dengan manis oleh Capcom. Di sini peran Shinji Mikami memang layak diberi apresiasi. Pertama, game ini dibangun dari sebuah tema survival horor mengenai aksi bertahan hidup salah satu anggota S.T.A.R.S, Jill Valentine yang terjebak di Racoon City.

Dengan tema yang cukup personal, game ini berhasil membuat para gamer merasa simpatik dengan Jill hingga akhirnya mereka seperti merasakan apa yang dirasakan oleh sang protagonist. Selain itu, unsur survival yang konsisten seperti seri sebelumnya juga patut menjadi hal yang diperhatikan di sini.

BACA JUGA: Fenomenal di Mata Penggemarnya! Inilah 5 Game Ikonik Bikinan FromSoftware

Sistem storage, puzzle, dan combat yang dihadirkan sama seperti Resident Evil 2 yang merupakan pendahulunya. Kita harus mau ribet untuk sekadar membuka pintu yang terkunci, atau mau ribet untuk menyelesaikan puzzle yang ada. Tak hanya itu, untuk sekadar reload saja, kita membutuhkan waktu karena harus mampir ke storage dulu.

Untuk saat ini, hal tersebut memang akan dikomplain sejumlah gamer, namun di zaman dulu, itu adalah cara untuk membangun unsur menyeramkan di game tersebut. Sebagai contoh, ketika kita digempur zombie, kemudian peluru habis, kita akan panik sebelum akhirnya sadar jika yang kita butuhkan hanya ke storage untuk reload saja.

Selain dari sisi teknis, untuk masalah pembangunan atmosfer melalui jumpscare cukup membuat bulu kuduk merinding. Dengan mekanisme tank control, gamer akan memiliki lebih banyak sudut tak terlihat yang membuat kita bertanya-tanya, ada apa di balik tembok. Sound design yang tak sebaik sekarang juga membuat kita tak bisa mendengar suara zombie sebelum kita mendatangi belokan tersebut.

Tak jarang ketika ke belokan, kita akan langsung dihadapkan pada zombie yang tiba-tiba langsung mencekik kita. Hal-hal remeh semacam ini memang sebenarnya sudah ada dari Resident Evil terdahulu, namun entah kenapa, sensasinya cenderung berbeda di mana Resident Evil 3: Remake lebih menyeramkan dari seri sebelumnya. Tapi menurut pandangan Gimbot pribadi, landmark Racoon City yang porak poranda itulah yang membuat atmosfer mengerikan terbangun dengan sangat intense.

Dengan adanya fitur jempolan yang pas dieksekusi, Resident Evil 3: Remake punya kharisma tersendiri di mata para gamer. Namun sebenarnya, ada satu lagi yang membuat game ini sangat kharismatik, yakni karena Nemesis dan soal Nemesis, itu akan kita bahas di pembahasan yang lain.

Punya Puzzle yang Sangat Susah

Resident Evil 3: Nemesis

Seperti yang Gimbot bilang, game ini dibangun dari beberapa fitur yang pas dieksekusi hingga menghadirkan sebuah game yang solid. Salah satu dari fitur itu adalah fitur puzzle yang benar-benar nampak cukup mengerikan dan menguras otak. Oleh sebab itu, jika ada gamer yang mampu menyelesaikan game ini di zaman dulu, tanpa walkthrough, Gimbot bisa menganggap dia adalah sosok luar biasa.

Bayangkan, baru sampai stage di Racoon City Police Department (RPD) saja yang notabene masih dekat, kita akan disuguhkan sebuah puzzle yang susahnya minta ampun. Bagi yang familiar, kita berbicara mengenai locker yang berisikan S.T.A.R.S Key yang berguna untuk membuka salah satu ruangan di PRD.

BACA JUGA: Farming Simulator 19 Gratis di Epic Games Store!!

 Pasalnya, loker itu memiliki kombinasi beberapa jenis angka. Mau tau yang lebih gilanya? Kombinasi angka itu memiliki beberapa kemungkinan. Maksudnya adalah misalnya si A bisa membuka loker dengan kombinasi angka 12345 tapi belum tentu jika gamer B bisa membuka loker dengan kombinasi angka tersebut. Jika tidak salah, ada tiga atau empat kemungkinan dari rangkaian angka untuk membuka loker itu.

Sebenarnya hal tersebut bisa kita selesaikan dengan melakukan eksplorasi. Namun eksplorasi yang harus dilakukan tidak mudah karena kita harus cek dokumen dan lain sebagainya satu per satu. Itu baru permulaan karena ke depannya gamer harus menghadapi puzzle yang jauh lebih susah dari sebelumnya salah satunya adalah Water Sample Puzzle.

Nemesis

Monster Mengerikan di Resident Evil

Ini adalah sosok yang paling sukses membuat Resident Evil 3: Remake menjadi sesuatu yang kita kenal saat ini. Menyeramkan dan ikonik. Ya, tidak seperti Resident Evil 2 yang memberikan judulnya tanpa embel-embel, di seri ketiga ini, gamer disuguhkan sebuah nama di belakang Resident Evil 3 yaitu Nemesis. Di cover-nya pun terpampang jelas wajah Tyrant yang satu ini.

Sistem marketing yang seperti ini ditambah dengan memang dimunculkannya Nemesis dalam sosok yang mengerikan membuat nama game tersebut melambung tinggi. Apalagi Nemesis digambarkan sebagai sosok yang memang sangat mengerikan.

Awal bertemu Tyrant ini adalah di RPD dan Nemesis tanpa senjata apapun. Tapi kemudian dia akan muncul mengikuti kita dengan tentakelnya atau Bazooka-nya yang ikonik. Tidak ada yang bisa dikomentari dari Nemesis karena sosok ini sudah cukup sempurna untuk mampu mengkatrol popularitas sebuah video game.

Tentu akan sangat penasaran bagaimana Nemesis di Resident Evil 3: Remake. Gimbot yakin akan jauh lebih menyeramkan dari versi aslinya. Tapi sebagai sebuah karya, ada satu hal yang Gimbot rasa menjadi kekurangan dari game ini yakni tingkat kesulitan yang terbagi dua saja dan ini adalah hal konyol.

Tingkat Kesulitan Hanya Terbagi Dua

Resident Evil 3: Nemesis

Tingkat kesulitan di game ini seperti yang sudah Gimbot sebut di atas terbagi hanya dua saja yakni Easy Mode dan Hard Mode. Untuk Hard Mode, Gimbot yakin ini akan menjadi neraka khususnya bagi gamer-gamer penakut yang semuanya mau serba mudah. Gimbot sendiri tidak berani mencoba mode tersebut dan memilih untuk bermain aman di Easy Mode.

Tapi sayangnya, bermain di Easy Mode justru membuat Gimbot juga tidak nyaman. Apa yang membuatnya tidak nyaman? Tentu saja karena di Easy Mode, game ini tidak lagi mencirikan survival horor dari segi combat dan resource. Benar, Gimbot menganggap game ini menyeramkan dari Nemesis, puzzle, dan atmosfer yang dibangun dari visualisasinya saja. Tapi dari sisi combat dan resource, di Easy Mode, Resident Evil 3: Remake justru terasa lebih sebagai game aksi.

Di Easy Mode, Jill akan diberikan resource yang ada di brankas. Gilanya, resource ini akan ada sangat banyak dan membuat kita bisa asal-asalan tembak tanpa peduli apakah di depan akan dapat peluru atau tidak. Musuh juga lebih mudah dikalahkan di Easy Mode.

Tak cuma itu, damage yang dihasilkan zombie juga tidak begitu signifikan di mana kalian harus tergigit sebanyak dua hingga tiga kali sampai akhirnya health kalian menjadi kuning.

Kesimpulan – Pantas Jadi Legenda

Dengan segala elemen yang dimiliki game ini plus satu kekurangannya soal tingkat kesulitan, game ini memang pantas menjadi legenda terlebih lagi ada sosok Nemesis yang tampil sangat ganas di game ini. Tingkat kesulitannya yang memaksa kita bermain Easy Mode juga tak serta merta membuat semuanya gampang saja. Dari segi musuh dan resource memang tidak ada tantangan yang begitu signifikan khususnya bagi para gamer dewasa. Tapi dari segi puzzle, semuanya akan terasa sama rumitnya.

Kita dipaksa untuk berpikir untuk selamat dari puzzle yang susah serta selamat dari kejaran Nemesis itu sendiri. Selain itu, yang wajib mendapatkan sambutan hangat adalah soal visualisasi Racoon City yang suram. Nah, visual yang cukup baik pada masanya sudah cukup dalam membangun kesan horor dan mengerikan dari game tersebut.


Azzizil Adam

Main game gak bakal bikin masa depan suram. Yang bikin suram adalah ketika lo malas berbuat sesuatu! Happy gaming.