Gelombang kritik terhadap Indonesia Game Rating System (IGRS) mencapai puncaknya setelah petinggi dari salah satu pengembang gim terbesar di dunia, Riot Games, memberikan pernyataan pedas.
Nic McConnell, selaku Manager Age Rating Riot Games, secara blak-blakan menyoroti rapuhnya infrastruktur keamanan data serta kurangnya tenaga ahli yang menangani sistem klasifikasi gim di Indonesia tersebut.
Kritik dari McConnell ini muncul di tengah mencuatnya dugaan kebocoran data sensitif yang melibatkan ribuan email pengembang dan informasi proyek gim rahasia. Menurutnya, celah keamanan pada sistem IGRS saat ini berada pada level yang mengkhawatirkan.

Sebagai perusahaan yang menaungi judul besar seperti League of Legends dan Valorant, keamanan data adalah prioritas utama, dan kerentanan pada sistem regulator lokal seperti IGRS dianggap dapat mengancam ekosistem kerja sama internasional.
Selain masalah teknis, McConnell juga menyoroti aspek fundamental lainnya: jumlah sumber daya manusia (SDM) di bawah Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Ia menilai personil yang bertugas mengelola IGRS terlalu sedikit dan tidak sebanding dengan skala industri gim yang terus tumbuh pesat.
Keterbatasan tenaga ahli ini dianggap sebagai akar masalah lambatnya respons terhadap ancaman siber dan kurangnya pengawasan terhadap integritas sistem yang kini sudah terintegrasi dengan platform global seperti Steam.

Kritik keras dari pihak eksternal sekelas Riot Games ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia sangat membutuhkan perbaikan serius dari sisi regulasi dan penyediaan tenaga ahli keamanan siber. Jika tidak segera dibenahi, kepercayaan pengembang global terhadap pasar Indonesia bisa menurun, yang pada akhirnya akan merugikan industri lokal.
Komunitas kini menanti apakah Komdigi akan merespons kritik ini dengan langkah nyata atau justru membiarkan sistem IGRS berjalan di tempat dengan segala risikonya.
