Tahukah Kamu? Kisah Perjalanan Studio Ghibli di Dunia Video Game


Ghibli dikenal sebagai pencipta film animasi legendaris, tapi mereka juga terlibat dalam berbagai game sejak era 90an. Bagaimana kisahnya?

Para penggemar Studio Ghibli di Indonesia saat ini pasti tengah bersuka cita. Pasalnya, perusahaan layanan streaming tersebut baru saja mengumumkan bahwa mereka akan memboyong 21 judul film Ghibli untuk tayang di platform mereka. Menurut info dari Kotaku, tidak semua negara akan kebagian konten Ghibli ini. Tapi akun media sosial Netflix Indonesia telah menyampaikan bahwa negara kita termasuk yang beruntung mendapatkannya.

Nama Studio Ghibli sangat ikonik di dunia hiburan, terutama dunia film animasi. Tapi mereka juga punya andil dalam mengerjakan beberapa game yang cukup menarik. Nah, kali ini Gimbot akan membahas beberapa di antaranya, beserta sedikit tentang sejarah masing-masing game. Ayo simak bersama di bawah.

Pendirian Studio Ghibli

Studio Ghibli adalah perusahaan yang didirikan oleh sejumlah veteran film animasi di Jepang pada tahun 1985. Sebelum studio ini didirikan, para pendirinya yaitu Hayao Miyazaki, Toshio Suzuki, dan Yasuyoshi Takuma telah bekerja bersama dalam menciptakan film animasi yang sangat fenomenal, berjudul Nausicaä of the Valley of the Wind. Suzuki kemudian mengajak satu orang lagi untuk bergabung sebagai founder, yaitu Isao Takahata.

BACA JUGA: Nostalgia Review Kingdom Hearts – Fondasi untuk Sesuatu yang Lebih Besar

Di bawah pimpinan Miyazaki dan Takahata sebagai sutradara, serta Suzuki dan Takuma sebagai produser, Studio Ghibli sukses membangun reputasi sebagai produsen film-film panjang atau film bioskop animasi berkualitas tinggi. Mereka dikenal memiliki desain karakter yang khas serta animasi yang sangat detail, dengan cerita-cerita yang mampu dinikmati oleh anak-anak maupun orang dewasa.

Hayao Miyazaki, founder Studio Ghibli | Sumber: The Japan Times

Gaya visual Ghibli yang sangat khas tersebut berasal dari tangan seorang animator dan desainer karakter hebat bernama Katsuya Kondo. Dialah yang mengerjakan animasi kunci sejumlah film Ghibli paling populer di dunia, termasuk Laputa: Castle in the Sky, Kiki’s Delivery Service, My Neighbor Totoro, serta Princess Mononoke. Nama Katsuya Kondo ini kemudian akan jadi jembatan untuk Studio Ghibli menyeberang ke industri video game.

Era PS1 dan Penciptaan Jade Cocoon

Sementara Studio Ghibli sedang berkembang pesat, di Jepang muncul sebuah perusahaan developer video game yang bernama Genki. Perusahaan ini sekarang dikenal sebagai pengembang berbagai judul game balap, termasuk di antaranya Wangan Midnight dan seri Tokyo Xtreme Racer. Tapi di tahun 90an ketika mereka masih baru berdiri, Genki juga mencoba mengembangkan game dari genre lainnya, termasuk JRPG.

Katsuya Kondo (kanan) bersama Hayao Miyazaki | Sumber: GhibliWorld.com

JRPG yang mereka ciptakan di era PS1 adalah Jade Cocoon: Story of the Tamamayu. Ketika game ini dikembangkan, Katsuya Kondo sedang naik daun karena karya-karyanya di Studio Ghibli mendapat penerimaan baik di masyarakat. Selain itu, Kondo juga mengerjakan sebuah komik berjudul D’arc: Histoire de Jeanne D’arc.

Menurut Gaku Tamura yang berperan sebagai sutradara Jade Cocoon, tim desain grafis di Genki menggemari gaya gambar dalam komik tersebut. Sehingga ketika Genki sedang mencari ilustrator untuk mengerjakan Jade Cocoon, nama Katsuya Kondo langsung muncul sebagai kandidat pertama. Genki kemudian berkolaborasi dengan Studio Ghibli, dan Katsuya Kondo menjadi desainer karakter beserta sutradara animasi untuk Jade Cocoon.

Jade Cocoon, didesain oleh Katsuya Kondo | Sumber: kitsunebi77/Retromags

Jade Cocoon mendapat penerimaan yang cukup baik di pasaran, walaupun banyak juga yang mengritik beberapa aspek di dalamnya. Seperti sistem kontrol “tank” ala Resident Evil yang menyulitkan, juga sistem pertarungannya yang kurang fleksibel. Tapi Jade Cocoon mendapat pujian di sisi tampilan visual, juga berhasil terjual cukup memuaskan sehingga Genki memutuskan membuat sekuel di PS2.

Era PS2, Lebih Eksperimental

Jade Cocoon 2 mengambil cerita 100 tahun setelah prekuelnya, dan tidak banyak berkaitan dari segi cerita. Di sini Genki melakukan sejumlah perubahan gameplay, sambil tetap mempertahankan gaya visual yang ditangani oleh Katsuya Kondo. Akan tetapi perubahan gameplay yang cukup drastis tersebut justru membuat sebagian penggemar tidak menyukainya.

Jade Cocoon 2 | Sumber: MobyGames

Dalam wawancara resmi Genki, Tamura berkata bahwa hal ini memang disengaja. Ia ingin membuat Jade Cocoon 2 berbeda dari Jade Cocoon pertama. Orang yang dulu menyukai Jade Cocoon mungkin akan kurang suka Jade Cocoon 2, tapi sebaliknya, orang yang dulu kurang suka Jade Cocoon (karena terlalu susah) bisa jadi justru suka Jade Cocoon 2. Andai suatu saat nanti ia membuat Jade Cocoon 3, Tamura ingin sesuatu yang berbeda lagi.

Di samping Jade Cocoon 2, Studio Ghibli juga bekerja sama dengan perusahaan Taito untuk mengembangkan game berjudul Magic Pengel: The Quest for Color. Dalam game ini, kamu dapat mengontrol sebuah kuas untuk menggambar monster, kemudian monster tersebut bisa digunakan untuk bertarung layaknya seri Pokémon.

Walaupun perusahaan developernya beda, seri Jade Cocoon dan Magic Pengel punya kemiripan, yaitu sama-sama memiliki tema monster collecting. Menariknya, tema monster collecting ini terus berlanjut hingga ke proyek game Ghibli berikutnya yaitu Ni no Kuni. Entah disengaja atau tidak, pada akhirnya semua game yang dikerjakan oleh Ghibli adalah game dengan tema seperti ini.

Magic Pengel, di Jepang bernama Rakugaki Oukoku (Doodle Kingdom) | Sumber: Noble Woods/Pinterest

Magic Pengel mendapat ulasan yang cukup baik dari para kritikus pada zamannya. Taito kemudian menggarap sekuel yang dirilis dengan judul Graffiti Kingdom, tapi mereka tidak lagi bekerja sama dengan Studio Ghibli. Graffiti Kingdom justru menggunakan desain visual yang lebih mirip gaya anime Astro Boy.

Ni no Kuni, Awalnya Hanya Mengisi Kekosongan

Magic Pengel: The Quest for Color dirilis pada tahun 2002, dan setelah itu cukup lama Studio Ghibli tidak terlibat dalam pengembangan game. Mereka sibuk menggarap beberapa film animasi besar seperti Howl’s Moving Castle, Tales from Earthsea, dan Ponyo. Film terakhir ini dirilis pada tahun 2008, dan setelahnya, Studio Ghibli sempat punya waktu lowong tanpa mengerjakan proyek apa pun.

Kebetulan, saat itu perusahaan Level-5 sedang berulang tahun yang ke-10 dan ingin meluncurkan game yang spesial. Seorang musisi bernama Naoya Fujimaki, yang pernah bekerja bersama Level-5 dan Studio Ghibli, kemudian memperkenalkan bos Level-5 (Akihiro Hino) kepada bos Studio Ghibli saat itu (Toshio Suzuki). Mengingat bahwa tim animasi mereka sedang senggang, dan terdorong oleh semangat Akihiro Hino, Suzuki akhirnya mau untuk berkolaborasi dengan Level-5 untuk menggarap proyek bernama Ni no Kuni.

Ni no Kuni: Wrath of the White Witch, didesain oleh Yoshiyuki Momose | Sumber: Nintendo

Beda dari Jade Cocoon, kali ini posisi sutradara animasi dan desainer karakter bukan dipegang Katsuya Kondo melainkan Yoshiyuki Momose. Ia adalah animator yang mengerjakan film Spirited Away, Porco Rosso, serta Whisper of the Heart. Momose menciptakan latar belakang dunia Ni no Kuni dengan inspirasi dari Amerika di tahun 50an, serta dunia fantasi yang menyerupai diorama mainan.

Mungkin satu hal yang kamu belum tahu adalah bahwa sebenarnya proyek Ni no Kuni ini dikembangkan sebagai dua game sekaligus. Pertama adalah Ni no Kuni: Dominion of the Dark Djinn untuk NDS, dan kedua Ni no Kuni: Wrath of the White Witch untuk PS3. Dua game ini memiliki konsep dasar yang sama, tapi implementasi gameplay serta ceritanya cukup berbeda.

Bisa dibilang, Ni no Kuni: Wrath of the White Witch adalah “versi alternatif” dari Ni no Kuni: Dominion of the Dark Djinn. Sayangnya, Ni no Kuni versi NDS ini tidak pernah dirilis di luar Jepang, dan saat ini menjadi salah satu game langka yang diincar para kolektor game di platform tersebut.

Sumber: PlayStation.Blog/Flickr

Dampak dari Restrukturisasi

Ni no Kuni: Wrath of the White Witch dirilis dalam bahasa Inggris pada tahun 2013, dan langsung dipuja-puja sebagai salah satu JRPG terbaik untuk PS3. Meneruskan kesuksesan tersebut, Level-5 pun menyiapkan proyek sekuelnya. Tapi di sini ada masalah. Hayao Miyazaki, yang merupakan founder dan salah satu sutradara terpenting Studio Ghibli, mengumumkan bahwa ia akan pensiun.

Hal ini disusul dengan restrukturisasi perusahaan yang dilakukan oleh Toshio Suzuki (saat itu menjabat sebagai General Manager) di tahun 2014. Suzuki menempatkan Studio Ghibli pada kondisi hiatus untuk merombak cara kerja perusahaan secara drastis, dan mulai titik ini, Studio Ghibli tidak lagi bertindak sebagai sebuah “studio animasi”. Mereka hanya menjadi “studio produksi”, lebih banyak menangani manajemen ketimbang pembuatan animasi itu sendiri.

Ketika Ni no Kuni II dikembangkan, Level-5 tidak lagi mencantumkan nama Studio Ghibli sebagai kolaborator. Tapi sebetulnya orang-orang besar dari Ghibli masih terlibat. Yoshiyuki Momose kembali sebagai sutradara animasi, begitu pula komposer Joe Hisaishi yang karyanya sudah identik dengan film-film Ghibli. Hanya saja, secara formal mereka tidak bekerja membawa bendera Studio Ghibli, melainkan berkolaborasi dengan Level-5 secara personal.

Ni no Kuni II: Revenant Kingdom, tidak membawa nama Studio Ghibli | Sumber: Bandai Namco

Era 2014-2015 adalah masa yang cukup sulit bagi Studio Ghibli. Setelah restrukturisasi ini, sejumlah animator veteran—termasuk Yoshiyuki Momose—meninggalkan perusahaan, dan mendirikan studio animasi baru dengan nama Studio Ponoc. Studio baru ini kemudian menciptakan film animasi bioskop berjudul Mary and the Witch’s Flower. Sementara Studio Ghibli justru berhenti membuat film bioskop dan beralih mengerjakan proyek-proyek animasi yang lebih kecil.

Ni no Kuni: Wrath of the White Witch adalah game terakhir yang dikerjakan oleh Studio Ghibli secara resmi. Namun setidaknya ada kabar gembira di tahun 2017. Hayao Miyazaki yang tadinya telah pensiun, memutuskan kembali aktif dan membuat film baru bersama Ghibli. Perusahaan ini juga mengalami pergantian kepemimpinan, dan perkembangan terbarunya adalah perilisan lisensi film Ghibli untuk tayang secara global di platform streaming HBO Max serta tentu saja Netflix.

Dengan beberapa perubahan baru ini, mudah-mudahan saja Ghibli bisa bangkit dan kembali menjadi pencipta film animasi terdepan di Jepang. Siapa tahu, nantinya akan ada developer game lain yang mengajak Ghibli berkolaborasi lagi, begitu pula dengan Studio Ponoc yang didirikan oleh para mantan animator Ghibli. Lagi pula, nuansa visual dan gaya penceritaan khas yang ada di karya-karya Studio Ghibli dan Studio Ponoc terlalu sayang bila tidak dinikmati oleh lebih banyak orang.


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Ayyub Mustofa

Jarang main game sampai tamat kecuali untuk review. Menyukai hampir semua genre, dan hingga kini masih menunggu kemunculan Megaman X9.