Nostalgia Review Kingdom Hearts – Fondasi untuk Sesuatu yang Lebih Besar

Kingdom Hearts telah menjadi franchise besar yang mendunia. Mari kita tengok kembali bagaimana awal perjalanan seri RPG bernuansa Disney ini.


Halo, para pembaca setia Gimbot! Sebelum kita masuk ke pembahasan review nostalgia Kingdom Hearts, Gimbot mau cerita sesuatu dulu nih. Sebetulnya, meksipun Gimbot sudah jadi gamer dan penggemar JRPG sejak lama, Gimbot belum pernah main Kingdom Hearts. Padahal ini merupakan salah satu judul paling terkenal di dunia JRPG. Gimbot pernah mencoba Kingdom Hearts Chain of Memories di GBA, juga Kingdom Hearts Birth by Sleep di PSP, tapi hanya dua itu dan tak sampai tamat. Sementara seri Kingdom Hearts utama justru Gimbot belum pernah coba.

BACA JUGA: DLC Keempat Fire Emblem: Three Houses Perkenalkan 4 Karakter Baru, Rilis 12 Februari 2020

Untung saja Square Enix telah merilis kompilasi yang berjudul Kingdom Hearts The Story So Far. Kompilasi ini mengandung seluruh game Kingdom Hearts dari awal sampai sebelum Kingdom Hearts III, jadi Gimbot bisa memainkan semuanya secara berurutan dan merasakan perjalanan Sora dan kawan-kawan. Tapi karena ini adalah pertama kalinya Gimbot memainkan Kingdom Hearts—atau lebih tepatnya, Kingdom Hearts Final Mix—mungkin kata “nostalgia” itu kurang tepat.

Keuntungannya, Gimbot jadi bisa menilai Kingdom Hearts dengan lebih objektif, tanpa terpengaruh oleh sentimen positif dari nostalgia. Nah, sebagus apa sih Kingdom Hearts itu kalau dilihat dari kacamata gamer di tahun 2020? Apakah game ini tahan terhadap ujian zaman dan tetap seru untuk dimainkan hingga sekarang? Simak ulasan lengkap Gimbot di bawah.

(Ternyata) Bukan Game Anak-Anak

Kalau melihat sekilas tentang Kingdom Hearts tanpa pernah memainkannya, mungkin yang ada di pikiran kita adalah sebuah game petualangan dengan cerita yang bisa menghibur semua umur, karena game ini mengandung banyak karakter dari film Disney. Tapi ternyata asumsi itu salah besar. Sejak pertama kali kita mulai bermain, Kingdom Hearts sudah menunjukkan suasana misterius yang nantinya terkenal sebagai ciri khas seri ini.

Mulai dari adegan, dialog, hingga musik yang menyambut kita di awal game semuanya penuh teka-teki, membuat kita bertanya-tanya sebetulnya game ini bercerita tentang apa. Bagian awal cerita di Destiny Island sempat terlihat sedikit santai, tapi itu tak berlangsung lama. Begitu petualangan sebenarnya dimulai, Kingdom Hearts yang tadinya sudah terasa misterius berubah jadi lebih misterius lagi.

Ngomongin apa sih, Mbak Maleficent?

Ada cukup banyak konsep yang perlu kita pahami untuk bisa menikmati cerita secara keseluruhan. Misalnya bahwa alam semesta Kingdom Hearts itu terdiri dari berbagai “dunia” yang terpisah-pisah, atau tentang keberadaan Princesses of Hearts, asal-usul Heartless, cara kerja Keyblade, dan masih banyak lagi. Yang cukup menyebalkan adalah hal-hal seperti ini tidak langsung dijelaskan seluruhnya, tapi diungkap sedikit demi sedikit seiring kita melanjutkan cerita.

Itu pun, penjelasannya tidak selalu gamblang. Malah kadang-kadang bukannya menjelaskan, penjelasan itu justru memunculkan lebih banyak pertanyaan tambahan. Sepertinya Tetsuya Nomura bertujuan menyampaikan kisah yang membuat penasaran supaya nanti di akhir penyelesaiannya bisa terasa dramatis (atau supaya bisa dibuat sekuelnya). Akan tetapi jujur saja, menurut Gimbot ini bukan cara yang baik untuk menyampaikan cerita.

Ngomongin apa sih, Mas Leon?

Karena begitu banyak hal yang disembunyikan, motivasi kita untuk melanjutkan cerita jadi tidak begitu kuat. Begitu pula dengan motivasi si tokoh utama, Sora. Selama kurang lebih 75% permainan, tujuan Sora bertualang ini agak kurang jelas. Tidak ada “ultimate goal” pasti yang membuat kita bisa merasakan empati. Petualangan Sora dari satu dunia ke dunia lainnya hanya terasa seperti menonton cerita Doraemon di Minggu pagi, antara satu cerita dengan cerita lainnya tidak saling berkesinambungan.

Satu hal lagi yang membuat memainkan Kingdom Hearts terasa datar-datar saja, adalah tidak adanya ketegangan. Ada ketimpangan yang aneh, karena di satu sisi Square Enix ingin kita merasa bahwa dunia sedang terancam bahaya besar, sementara di sisi lain mereka terus-terusan mengajak kita menjelajah dunia film kartun Disney yang berwarna-warni.

Ngomongin apa sih… ah, sudahlah.

Dalam suatu adegan Riku sempat berkata pada Sora, “Kamu bukannya pergi mencari Kairi, tapi malah berjalan-jalan tak jelas bersama teman-teman barumu.” Gimbot rasa, ini kalimat yang sangat tepat untuk menggambarkan rasanya main Kingdom Hearts.

Butuh Lebih dari Sekadar Novelty

Karena ketimpangan yang Gimbot sebutkan tadi, Kingdom Hearts jadi terasa seperti sebuah produk dengan target pasar yang agak aneh. Gimbot kenal orang yang sering bilang bahwa dia ingin coba main Kingdom Hearts, karena dirinya penggemar Disney dan Kingdom Hearts banyak mengandung elemen Disney. Tapi Gimbot rasa, kalau dia benar-benar main, dia tidak akan menikmati cerita utama Kingdom Hearts yang misterius, edgy, dan berpusat pada Sora.

Reka ulang adegan film Disney selalu menarik untuk dilihat

Sebaliknya, orang yang kemungkinan akan menikmati cerita utama Kingdom Hearts belum tentu menyukai film-film Disney. Cerita utama Kingdom Hearts lebih cocok untuk mereka yang memang dari awal sudah menyukai JRPG, dan terbiasa dengan cerita-cerita petualangan remaja seperti seri Final Fantasy.

Orang-orang seperti inilah yang kemudian akan jadi penggemar berat Kingdom Hearts, mau memainkan sederet sekuelnya, menyelami ceritanya, serta menyelesaikan berbagai tantangan yang memang cukup susah. Sementara mereka yang datang karena menyukai Disney mungkin akan sedikit “tertipu”, karena pada akhirnya elemen-elemen Disney dalam Kingdom Hearts sifatnya hanya novelty. Sesuatu yang baru, unik, dan aneh, tapi kalau kita lihat secara gambaran besarnya, sebetulnya tidak penting dan dihilangkan pun tak apa-apa.

Kenapa kamu dipanggil Pooh, bukan Winnie?

Sebagai contoh, sepanjang permainan kita menemukan beberapa tokoh jahat dari film Disney seperti Jafar (dari Aladdin), Maleficent (dari Sleeping Beauty), dan Captain Hook (dari Peter Pan). Di film-film aslinya, mereka adalah penjahat utama yang jadi tujuan akhir jagoan kita. Tapi di Kingdom Hearts, peran mereka kebanyakan minor saja, dan seringnya mereka langsung kalah begitu dikonfrontasi oleh Sora satu kali.

Karena peran mereka begitu minor, diganti dengan karakter lain dari luar Disney pun rasanya tidak apa-apa. Ada sebagian kecil karakter Disney yang berperan cukup penting di cerita, seperti Maleficent. Tapi nantinya ketika sudah masuk inti konflik pun, ujung-ujungnya peran mereka kalah dengan karakter orisinal seperti Ansem. Apalagi kalau kita lanjutkan cerita sampai ke judul-judul Kingdom Hearts berikutnya, peran tokoh-tokoh Disney ini akan jadi semakin kecil.

Elemen Disney dalam cerita sebagian besar hanya jadi filler saja.

Ketika pada akhirnya kita sampai di Kingdom Hearts III, yang kita ingat dari franchise ini bukanlah petualangan bersama Aladdin atau Hercules, melainkan kejahatan Xehanort dan kroni-kroninya. Tapi mungkin Gimbot harus berhenti membicarakan sekuel, karena di sini kita sedang mengulas Kingdom Hearts pertama.

Disney, Tidak Penting Tetapi Penting

Kalau tadi Gimbot sudah menggambarkan bahwa keberadaan Disney di aspek cerita pada akhirnya adalah hal yang tidak penting, sebaliknya justru berlaku di bagian gameplay. Elemen Disney di gameplay Kingdom Hearts adalah hal sangat penting dan merupakan daya tarik besar yang tidak akan kita temukan di game lain. Gimbot harus mengacungkan dua jempol bagi para desainer dan programmer di Square Enix yang berhasil mengintegrasikan nuansa Disney ke dalam gameplay Kingdom Hearts dengan begitu kreatif, karena hal itu pasti sangat sulit untuk dilakukan.

“Hai, Nak. Mau beli serbuk putih yang bisa membuatmu fly?”

Kita ambil contoh misalnya Atlantica, dunia yang diambil dari film The Little Mermaid. Ketika Sora dan kawan-kawan pergi ke dunia yang berada di bawah laut ini, mereka akan berubah wujud menjadi setengah ikan, layaknya Ariel dan penghuni-penghuni Atlantica lainnya. Perubahan ini tidak hanya mempengaruhi tampilan visual, tetapi juga mengubah permainan secara drastis.

Selama di Atlantica, Sora tidak bisa berjalan, berlari, atau melompat, tapi harus berenang-renang seperti putri duyung. Mendadak kita merasa seperti memainkan game yang berbeda, karena kini semua gerakan kita lakukan sambil berenang. Desain tempat-tempat yang bisa dieksplorasi pun jadi variatif karena kita bergerak dalam ruang tiga dimensi dengan bebas di dalam air.

Dipikir-pikir, review ini mengandung banyak spoiler ya?

Hal serupa juga terjadi ketika kita mengunjungi beberapa dunia lain. Contohnya, saat Sora pergi ke Neverland, dia akan mendapatkan kemampuan untuk terbang seperti Peter Pan dan teman-temannya. Memang perubahan drastis begini tidak selalu terjadi, ada juga dunia yang biasa-biasa saja atau bahkan agak membosankan (misalnya dunia Tarzan). Tetapi hal itu tidak akan kita ketahui sebelum pergi ke dunia tersebut.

Setiap kali muncul dunia baru, kita akan dibuat penasaran dan bertanya-tanya, kira-kita hal menarik apa yang akan terjadi di dunia selanjutnya. Kalau pun kita tidak bisa terbang atau berubah menjadi ikan, masih ada kemungkinan-kemungkinan menarik lain. Misalnya dari segi desain level, desain pertarungan boss, senjata yang kita dapatkan, dan sebagainya. Keberadaan Disney membuat Square Enix bisa “menggila” dalam merancang variasi permainan, dan saya hanya bisa membayangkan betapa sulitnya mengimplementasikan semua ide mereka ke dalam satu game.

Kamera dari Tahun 2002

Aku mau duel lawan Sephiroth!

Ketika sedang tidak terjadi perubahan gameplay yang drastis seperti contoh Atlantica tadi, elemen-elemen Disney tetap membuat battle jadi lebih menarik dibanding JRPG biasa. Kalau kamu sudah bosan melihat summon seperti Ifrit, Bahamut, atau Leviathan, Kingdom Hearts menghadirkan suasana baru dengan summon yang terdiri dari Simba, Genie, Dumbo, dan semacamnya. Begitu pula anggota party yang bisa kamu bawa, kamu bisa bertualang bersama karakter-karakter Disney seperti Donald, Goofy, Aladdin, dan lain-lain, meskipun kadang hanya untuk sementara.

Sayangnya, di sini Square Enix belum berhasil menghadirkan pengalaman aksi yang maksimal. Ada sejumlah hal dari sistem pertarungan Kingdom Hearts yang Gimbot rasa tidak nyaman, salah satu yang paling parah adalah pergerakan kamera. Mungkin karena Kingdom Hearts aslinya game tahun 2002, di mana teknologi 3D belum secanggih sekarang, kamera dalam game ini sangat rewel dan suka berputar-putar tanpa diminta.

Lorong sempit + kamera buruk = chaos

Bahkan ketika Gimbot mengganti setting menjadi manual seluruhnya (termasuk mematikan auto lock-on ke musuh), kamera Kingdom Hearts tetap seolah-olah hidup dan punya pikiran sendiri. Ini diperparah dengan lokasi-lokasi permainan yang cukup sering terdiri atas lorong atau ruang sempit. Belum lagi kalau ada lubang atau jebakan di lantai, terkadang di tengah-tengah rusuhnya pertarungan kita bisa tercemplung ke dalamnya tanpa sengaja dan itu rasanya sangat menyebalkan.

Cara Sora menyerang musuh dalam pertarungan juga agak aneh, dan Gimbot rasa ini keputusan desain yang cukup fatal karena membuat seluruh permainan jadi kurang menyenangkan. Kingdom Hearts adalah game berbasis aksi, dan Sora dapat menyerang musuh dengan gerakan combo bertubi-tubi. Akan tetapi ada syaratnya. Pukulan pertama Sora harus berhasil mengenai musuh. Kalau tidak, dia tidak akan bisa melanjutkan ke pukulan berikutnya, dan malah jadi terdiam sesaat tanpa bisa bergerak.

Ketika semua berjalan lancar, pertarungan Kingdom Hearts sebetulnya lumayan seru.

Sistem seperti ini membuat pertarungan jadi terasa sangat kaku, apalagi bila sedang melawan musuh yang terbang dan mampu bergerak dengan cepat. Sering kali saya merasa seperti orang bodoh ketika serangan meleset dan melihat Sora terdiam di layar. Sebetulnya masalah ini bisa dihindari kalau Kingdom Hearts menerapkan sistem canceling, misalnya dodge cancel atau jump cancel, sehingga animasi serangan meleset bisa diperpendek. Tapi sayangnya sistem tersebut tidak ada.

Kesimpulan: Fondasi untuk Sesuatu yang Lebih Besar

Saat ini Kingdom Hearts sudah jadi franchise yang melegenda, dan pasti sudah mendapatkan banyak sekali peningkatan kualitas. Mengingat-ingat kembali Kingdom Hearts Birth by Sleep yang dulu pernah Gimbot mainkan pun, rasanya tidak banyak yang perlu dikomplain dari game tersebut. Tapi kalau kita kembali menilik Kingdom Hearts pertama, jelas sekali terasa bahwa game ini masih punya banyak kekurangan.

Konsep menggabungkan dunia Disney dengan Final Fantasy dan cerita orisinal Square Enix, di masa itu, adalah sesuatu yang baru dan kemungkinan besar sangat hype. Perasaan senang yang kita dapatkan ketika bertualang bersama karakter-karakter kartun kesayangan semasa kecil, serta integrasi elemen-elemen Disney ke dalam eksplorasi dan pertarungan, semuanya terasa begitu unik, menarik, dan mengherankan. Mungkin karena aspek novelty inilah, pada akhirnya kekurangan-kekurangan tadi berhasil tertutupi dan yang diingat oleh para pemain hanyalah hal-hal positifnya.

Hold me, whatever lies beyond this morning is a little later on.

Kingdom Hearts menyimpan potensi yang sangat besar untuk berkembang menjadi sebuah franchise panjang. Dengan begitu banyaknya film Disney yang telah beredar (dan terus bermunculan), para penggemar pasti akan selalu bertanya, kira-kira film Disney apa yang akan muncul di game Kingdom Hearts berikutnya? Yang perlu dilakukan Square Enix adalah memperbaiki cara mereka menyampaikan cerita dan memoles lagi gameplay pertarungan agar lebih nyaman dikontrol.

Kalau mereka berhasil melakukannya, mungkin saja Kingdom Hearts II akan jadi sebuah game yang sempurna.


Ayyub Mustofa

Jarang main game sampai tamat kecuali untuk review. Menyukai hampir semua genre, dan hingga kini masih menunggu kemunculan Megaman X9.