Di tahun 2014, sebuah game horror diluncurkan dan langsung kembali membuat industri horror yang kala itu lesu menjadi naik kembali. Setelahnya kita bisa menjumpai game-game horror berkualitas. Ya, Shinji Mikami melalui The Evil Within-nya layak mendapatkan apresiasi di tahun-tahun tersebut yang menjadi periode kegelapan industri game horror.
Tapi ketika diluncurkan, game ini bukan game sembarangan karena Shinji Mikami selaku pencipta dari seri Resident Evil di masa lalu menggarapnya dengan serius. Semua pergerakan kalian harus hati-hati karena game ini memiliki banyak sekali jebakan yang tersebar mulai dari jebakan bomb hingga jebakan untuk menjepit kaki beruang.
Terkena jebakan juga berarti dekat dengan kematian. Selain jebakan, zombie yang lebih kuat juga bakal menjadi batu sandungan kalian. Tentu saja, hal tersebut semakin dilengkapi dengan boss yang susah ditundukkan plus juga dengan susahnya resource yang kalian temukan. Setidaknya, selain peluru, kalian juga harus mengumpulkan korek api karena setelah zombie roboh, kalian harus membakar mayatnya agar tak respawn kembali.
Kesulitan Tak Manusiawi Menjadi Daya Tarik

Bagi sebagian gamer hardcore, cara ini merupakan cara paling asyik menikmati sebuah game. Kalian akan merasa setiap tindakan kalian harus didadasari akan kewaspadaan. Bahkan tak jarang ada yang mengatakan ini adalah game horror survival yang sesungguhnya. Gilanya lagi, ada beberapa orang yang mengagungkan game ini. Salah satu syaratnya, kalian harus menamatkan game ini di tingkat kesulitan Akumu atau one hit Kill.
Memang jarang yang melakukannya, tapi ada yang mampu melakukannya. Lantas jika cara The Evil Within mengajak gamer hardcore untuk bersenang-senang, bagaimana dengan gamer casual yang hanya bertemu zombie saja dia menjerit? Bahkan sebagian orang berkata, apa tak ada cara lain untuk menikmati game ini lebih dalam. Bahkan saking susahnya, menikmati ceritanya saja akan terasa susah karena progress permainan yang stagnan.
BACA JUGA: 5 Marketing konyol yang Pernah Dilakukan di Industri Game – Part 2
Saya jadi salah satu gamer yang berteriak akan hal itu. Pertama memainkannya, saya cukup enjoy sebelum akhirnya bosan dan takut karena terus mati berulang-ulang. Kemudian beberapa hari yang lalu, saya mengulangnya kembali. Mencobanya namun rasanya tetap sama seperti dahulu. Apalagi sekarang saya mencari game yang memang bisa diajak bersenang-senang dengan cara yang simpel, bukan cara yang hardcore seperti ini.
Bersenang-senang Tanpa Perlu Khawatir
Teringat bahwa dulu ada pembahasan mengenai cheat dari game ini, saya akhirnya mencari lagi, menggali internet dan akhirnya menemukan cheat. Di versi Steam, kalian bisa memasukan command console khusus untuk membuka fitur ini. Setidaknya ada beberapa cheat yang bisa diaplikasikan, namun menurut saya, yang bisa dibuat untuk bersenang-senang adalah God Mode dan InfiniteAmmo.
Kalian butuh peluru terakhir untuk mengaktifkan cheat InfiniteAmmo dan bersenang-senang.
Tapi untuk InfiniteAmmo, ada syarat khusus yakni setidaknya dibutuhkan satu peluru untuk mengaktifkan cheat ini. Karena saya kebetulan kehabisan peluru, jadi saya mencoba untuk menggunakan God Mode dengan harapan, Sebastian Castellanos selaku karakter utama tidak akan mati sampai saya dapat peluru kembali. Cheat itu aktif, saya kebal, hingga akhirnya dapat peluru dan mengaktifkan InfiniteAmmo. Namun sayangnya, penggunaan cheat ini terlalu menyenangkan hingga untuk menonaktifkannya akan terasa sayang! Membantai zombie tanpa takut kehabisan peluru dan kehabisan darah menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi gamer penakut. Ya, akhirnya mereka mampu membalas dendam!!
Dengan adanya cheat ini, seakan Shinji Mikami tahu bahwa game buatannya ini bisa dimainkan siapapun. Meski memasukan idealismenya soal game survival horror, Mikami tahu betul bagaimana cara mengajak gamer bersenang-senang dan berpesta dengan game ciptaannya. Dengan ini dia juga belajar bagaimana caranya menyempurnakan game besutannya.
Baik gamer hardcore maupun casual, mereka tetap bisa bersenang-senang dengan game ciptaan milik Mikami. Tentu cara mengajak bersenang-senangnya sangat berbeda bak langit dan bumi. Pintar, itulah yang saya akui dari The Evil Within milik Shinji Mikami. Karena seperti kata pepatah, bermain game adalah untuk pelepas stress dan kesenangan. The Evil Within mampu melakukannya dengan baik.
