Beberapa waktu belakangan ini kita mungkin sering mendengar berita tentang studio atau developer game yang diakuisisi oleh perusahaan besar. Sebagai contoh Microsoft sebagai pemilik konsol Xbox membeli Activision Blizzard dengan nilai fantastis mencapai 986 triliun rupiah.
Seakan tak mau kalah saing kompetitor langsung, Sony juga belum lama ini telah membeli developer game Destiny dan Halo, yakni Bungie dengan nilai 51 triliun rupiah. Bahkan Sony mengkonfirmasi bahwa akuisisi terhadap Bungie ini merupakan tahap awal, di mana perusahaan memiliki rencana untuk membeli beberapa studio game di masa depan.
BACA JUGA: Rockstar Games Resmi Umumkan Kehadiran Grand Theft Auto 6
Sementara Microsoft dan Sony berusaha untuk bertempur habis-habisan dalam perang akuisisi ini, Nintendo justru terlihat lebih santuy dan alih-alih ikutan tren akuisisi studio game, perusahaan asal Jepang ini malah mengabaikan persaingan dan malah berencana tetap menerbitkan first–party game.
Dalam laporan finansial beberapa waktu lalu, sang Presiden Nintendo, Shuntaro Furukawa mengatakan bahwa Nintendo tidak akan mendapatkan benefit dari membeli studio game. Dia menjelaskan kepada investor bahwa semua produk mereka merupakan buah dedikasi karyawan Nintendo.
“Merek kami dibangun di atas produk yang dibuat dari hasil dedikasi karyawan kami, dan bekerja bersama orang yang tidak memiliki DNA Nintendo dalam grup kami tidak akan menjadi nilai tambah bagi perusahaan.
“
Pada bulan November 2021 lalu, Furukawa juga mengatakan kepada investor bahwa perusahaan akan menghabiskan sekitar 100 miliar yen atau sekitar Rp 12,5 triliun, untuk fokus pada pengembangan game internal, lalu perusahaan juga akan menggelontorkan dana hingga 50 miliar yen atau sekitar Rp 6,25 triliun untuk mengembangkan aset software hiburan non-game seperti film. Namun, Furukawa menambahkan bahwa Nintendo pada prinsipnya tidak sepenuhnya anti akuisisi, namun langkah tersebut hanya diambil jika diperlukan saja.
Sebagai contoh adalah developer Next Level Games yang mengembangkan Luigi’s Mansion 3, di mana sang pemegang saham utama studio game memang telah menyatakan minatnya untuk menjual saham mereka.
Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg, konsultan asal Tokyo, Serkan Toto juga berpikir bahwa Nintendo akan membeli developer atau publisher game dalam waktu dekat.
“Saya tidak bisa membayangkan Nintendo memiliki minat untuk membeli developer atau publisher besar. Nintendo akan selalu tetap menjadi Nintendo, perusahaan yang mengandalkan first–party game, dan saya tidak melihat alasan perusahaan untuk mengubahnya.” kata Toto.
