Analisis Arthas – Putra Mahkota yang Menjelma Menjadi Lich King


Dari banyak karakter yang iconic di dunia Warcraft, Arthas adalah satu-satunya yang paling iconic dan berpengaruh di cerita Warcraft.

analisis-karakter-arthas-featured

Warcraft III adalah sebuah game dengan cerita yang sangat kompleks tapi juga menggugah. Dalam cerita itu juga ada banyak karakter yang iconic dan dikenal bahkan hingga saat ini. Tapi dari banyak karakter tersebut, satu-satunya yang paling iconic dan berpengaruh di dunia Warcraft tentu saja Arthas Menethil.

Sekilas, Arthas terlihat seperti karakter fallen heroes yang jatuh ke dalam kegelapan. Tapi perjalanannya dari seorang ksatria menjadi pangeran kegelapan adalah sebuah perjalanan karakter yang memang memiliki sisi gelap sejak awal.

Ksatria yang Jatuh ke Kegelapan

analisis-karakter-arthas-1

Arthas adalah seorang putra mahkota sebuah kerajaan manusia bernama Lordaeron. Ketika pertama kali diperkenalkan, ia terlihat seperti ksatria dan putra mahkota pada umumnya. Ia setia dan mau membantu sesama, dan akan bekerja keras dan bertarung tanpa kenal lelah untuk melindungi rakyatnya. Karakteristik ini juga diperlihatkan ketika rakyatnya terjangkit wabah yang membuat mereka berubah menjadi zombi akibat perbuatan pasukan Undead.

BACA JUGA: Analisis Karakter Mario – Dari Tukang Kayu Jadi Maskot Negara

Tapi di saat yang sama, ia juga merupakan seorang yang keras kepala dan cepat panas. Ketika rakyatnya dalam bahaya, ia seolah ingin membalas api dengan api dan langsung memilih kekerasan sebagai jalan keluar. Bahkan wejangan dari seniornya bahwa balas dendam bukanlah jalan Lordaeron seolah ditepis begitu saja olehnya.

Kisah Arthas berawal dari invasi pasukan Undead yang menyebarkan wabah ke rakyat Lordaeron. Ia bersama pasukannya berusaha mengelilingi tiap kota untuk memastikan keadaan, tapi di setiap kesempatan ia selalu terlambat dan harus menyaksikan kota milik kerajaannya hancur.

Ia kemudian sampai di sebuah kota bernama Stratholme di mana rakyatnya masih hidup tapi sudah mulai terjangkit dan cepat atau lambat akan berubah menjadi zombi. Tapi secara mengejutkan, Arthas memerintahkan pasukannya untuk membakar habis kota tersebut dan membantai seluruh penduduknya. Alasannya adalah agar mereka tidak berubah menjadi zombi dan mendapatkan kematian yang layak. Keputusan itu membuat orang-orang yang awalnya percaya pada Arthas mulai meninggalkannya. Meskipun begitu, ia tetap menjalankan keputusannya membantai dan menghabisi sebuah kota.

Momen tersebut kemudian menjadi awal jatuhnya Arthas ke dalam kegelapan. Ia kemudian bersumpah mengejar komandan Undead yang menjadi dalang dari semua ini. Perjalan tersebut juga membuatnya haus akan kekuatan yang bisa mengalahkan para Undead, dan ia tidak akan berhenti sampai bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Pada akhirnya, setelah perjalanan yang penuh kebohongan dan pengkhianatan, ia mendapatkan pedang Frostmourne, pulang untuk membunuh ayahnya dan menjadi raja Lordaeron, menjadikan kerjaaan tersebut sebuah kerajaan Undead, dan kemudian menjadi Lich King.

Cerita Arthas setelah itu sebenarnya masih panjang dan berpengaruh ke dunia Warcraft secara umum. Tapi perjalanannya dari ksatria dan putra mahkota yang kemudia menjadi Lich King adalah bagian cerita yang membuatnya menjadi sangat iconic.

Monster yang Tertidur

analisis-karakter-arthas-2

Sekali lagi, kisah Arthas terlihat seperti kisah seorang ksatria yang ingin membela kebenaran dan harus mengambil keputusan sulit hingga akhrinya ia diselimuti kegelapan. Tapi jika dilihat sekali lagi, ia tidak layak disebut sebagai ksatria.

Arthas tidak hanya keras kepala, mudah tersulut amarah, dan bahkan haus akan kekerasan. Semua perbuatannya memperlihatkan bahwa ia adalah karakter egois yang haus akan kekuatan dan kekuasaan.

Keputusan Arthas untuk membantai kota kerajaannya sendiri demi mencegah wabah mungkin bisa diperdebatkan. Tapi setelah itu ia kemudian mencari kekuatan dan berusaha membalas dendam. Alasan balas dendam ini sendiri bukan karena membela kebenaran, tapi karena ada orang yang merampas apa yang ia miliki. Tekadnya untuk melindungi muncul bukan hanya karena tugasnya sebagai ksatria dan putra mahkota, tapi juga karena apa yang ia lindungi adalah sesuatu yang ia miliki, atau tanda kekuasaan yang ia pegang.

Perilaku ini tidak terjadi satu atau dua kali saja. Ia dengan sengaja tidak membunuh Sylvannas, tapi menjadikannya Banshee dan membuatnya sebagai balasan karena membuatnya kerepotan. Ketika ia dijemput oleh kapal kerajaan Lordaeron untuk pulang dan mengabaikan misi balas dendamnya, ia justru merekrut orang bayaran untuk menghancurkan armada kapal tersebut, lalu kemudian menyalahkan orang-orang bayaran tersebut.

Ketika mengangkat pedang Frostmourne, ia tidak dikendalikan oleh suarah misterius dan menjadi jahat. Keinginannya untuk meraih kekuatan membawanya ke sana, dan Forstmourne hanyalah tanda puncak kekuatan tersebut. Jatuhnya Arthas ke dalam kegelapan bukanlah karena perubatan para Undead yang menggiringnya, tapi keinginannya sendiri yang haus akan kekuatan dan kekuasaan.


Apakah perbuatan Arthas layak diberi pengamunan mungkin bisa jadi perdebatan panjang yang menarik. Tapi terlepas dari itu, saya rasa tidak bisa dipungkiri bahwa Arthas bukanlah seorang fallen hero yang jatuh ke kegelapan melainkan monster dengan sisi gelap yang terbangun.

Lalu suka atau tidak kamu dengan Arthas dan apapun perspektif kamu terhadap karakter ini, harus diakui juga bahwa ia merupakan salah satu karakter dengan kisah yang sangat menarik tidak hanya di dunia Warcraft, tapi juga di sejarah video game secara keseluruhan.


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Kaoru

Hmmm...