Keputusan bisnis yang diambil Koei Tecmo belakangan ini sukses memicu tanda tanya besar di kalangan komunitas gamer tanah air.
Pasalnya, publisher sekaligus developer kenamaan asal Jepang yang biasanya rajin merilis produknya di pasar lokal ini, tiba-tiba memberlakukan kebijakan region-lock untuk deretan gim teranyar mereka yang baru saja diumumkan.

Akibatnya, gim-gim dengan tingkat hype tinggi tersebut mendadak gaib dan tidak dapat ditemukan, apalagi dibeli, melalui platform Steam maupun PlayStation Store resmi region Indonesia.
Dilansir dari Kokang Gaming, kebijakan janggal ini berdampak langsung pada sejumlah judul yang sangat diantisipasi seperti Attack on Titan 3, Atelier Karia: The Night Kingdom & the Guide of Memories, Wo Long 2: Wings of Ember, serta Blue Reflection Quartet.
Kondisi sedikit berbeda terlihat pada halaman Dynasty Warriors 3: Complete Edition Remastered yang sebenarnya masih bisa diakses oleh gamer lokal, namun Koei Tecmo tetap menutup opsi pre-order yang seharusnya sudah tersedia seperti di negara lain.

Demi mendapatkan kejelasan yang valid di balik anomali ini, pihak Kokang Gaming berinisiatif mengirimkan email klarifikasi kepada Koei Tecmo Taiwan selaku perpanjangan tangan yang bertanggung jawab atas distribusi di wilayah Asia Tenggara.
Berdasarkan balasan resmi yang diterima seminggu kemudian, representatif perusahaan mengonfirmasi bahwa alasan utama di balik hilangnya gim-gim terbaru mereka dari pasar Indonesia semata-mata karena produk tersebut belum mengantongi sertifikasi rating resmi dari IGRS (Indonesia Game Rating System).
Pihak Koei Tecmo menegaskan bahwa mereka sebenarnya telah mengajukan aplikasi klasifikasi untuk judul-judul gim tersebut dan saat ini sedang menunggu keputusan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (KOMDIGI) selaku pihak otoritas.

Begitu tanda kelulusan rating tersebut terbit, mereka berjanji akan langsung melepas kembali gim-gim tersebut ke pasaran Indonesia.
Menariknya, perwakilan mereka bahkan sempat meminta panduan tambahan mengenai prosedur ekstra yang sekiranya dapat ditempuh demi mempercepat proses birokrasi ini—sebuah sinyal kuat bahwa pihak manajemen Jepang pun merasakan keputusasaan yang sama dengan para konsumen di Indonesia.
Akar dari sengkarut ini disinyalir bersumber dari langkah KOMDIGI yang tengah menghentikan sementara operasional sistem IGRS untuk keperluan penggodokan regulasi yang lebih mendalam.
Sayangnya, pembekuan sementara ini justru memicu sumbatan komunikasi. Perusahaan sebesar Koei Tecmo tampaknya luput dari pembaruan informasi terkait dinamika internal badan rating lokal tersebut, sehingga mereka memilih langkah super aman dengan mengunci total akses produk mereka demi menghindari risiko pelanggaran hukum di Indonesia.
