Ubisoft lagi-lagi berada di bawah sorotan tajam. Raksasa gim asal Prancis ini baru saja mengetok palu untuk menyudahi riwayat dua studio mereka, yaitu Ubisoft Winnipeg di Kanada dan Ubisoft Belgrade di Serbia.
Langkah drastis ini terpaksa diambil sebagai bagian dari skenario darurat perusahaan untuk menekan pengeluaran dan menyelamatkan kondisi finansial yang kian terjepit di tengah sengitnya kompetisi industri modern.

Di Kanada, penutupan Ubisoft Winnipeg mengakhiri kiprah delapan tahun mereka di industri, sekaligus melempar sekitar 65 karyawannya ke jurang pemutusan hubungan kerja.
Efek domino dari perampingan organisasi ini juga merembet ke Eropa, di mana selain penutupan fasilitas di Serbia, Ubisoft turut memangkas jumlah staf di unit Global Publishing serta studio mereka di Barcelona.
Secara total, badai efisiensi kali ini diprediksi bakal mengeliminasi hingga 380 posisi pekerjaan di seluruh jaringan global Ubisoft.

Keputusan pahit ini seolah menjadi puncak dari akumulasi masalah internal Ubisoft, setelah sebelumnya mereka sempat terseok-seok akibat pembatalan beberapa proyek gim ambisius serta penundaan jadwal rilis sejumlah judul penting.
Demi membalikkan keadaan, manajemen Ubisoft kini tengah mencoba mendesain ulang model bisnis mereka agar menjadi lebih ramping. Salah satu strategi baru yang diterapkan adalah melebur tim-tim mereka ke dalam konsep “creative houses”, sebuah kelompok khusus yang nantinya hanya akan fokus menukangi genre gim tertentu secara spesifik.
Melalui restrukturisasi radikal ini, Ubisoft berharap bisa memangkas biaya tetap dan membangun fondasi perusahaan yang jauh lebih adaptif dalam menghadapi dinamika pasar global.
