Tragedi pilu kembali menyelimuti industri gim global di balik gemerlapnya kesuksesan sebuah produk.
Ironi luar biasa ini harus dialami oleh tim pengembang di balik proyek remake yang tengah naik daun, Assassin’s Creed Black Flag Resynced. Hanya berselang beberapa hari setelah gim tersebut meledak di pasaran, gelombang pemutusan hubungan kerja massal justru langsung menghantam para kreatornya.
Jurnalis investigasi senior Insider Gaming, Tom Henderson, melaporkan bahwa sebanyak 51 karyawan yang mendedikasikan waktu bertahun-tahun untuk meracik gim ini resmi kehilangan pekerjaan mereka.

Pihak manajemen Ubisoft dikabarkan telah mengambil langkah ekstrem dengan membubarkan total studio Ubisoft Barcelona, sekaligus mendepak seluruh staf yang ada di dalamnya.
Menurut sumber internal, keputusan eksekusi mati studio ini sejatinya sudah direncanakan sejak lama oleh jajaran eksekutif, sehingga angka penjualan yang masif ataupun respons super positif dari komunitas sama sekali tidak mampu mengubah nasib buruk para developer tersebut.
Normalnya, Ubisoft selalu menyiapkan rancangan proyek baru untuk sebuah tim setidaknya satu tahun sebelum proyek berjalan selesai. Namun, kejanggalan mulai dirasakan oleh tim Ubisoft Barcelona sejak pertengahan tahun 2025 lalu karena mereka tak kunjung mendapatkan penugasan baru.
Hingga Black Flag Resynced rampung digarap, proyek masa depan yang dinanti tidak pernah datang. Kepedihan para staf bahkan sudah terasa saat pesta perayaan peluncuran gim yang hanya digelar secara ala kadarnya di area kantor, jauh dari kemewahan pesta rilis gim Ubisoft pada umumnya.
Situasi ini terasa sangat menyakitkan mengingat Assassin’s Creed Black Flag Resynced sebenarnya mencetak performa komersial yang luar biasa. Sebelum resmi mengudara, gim ini dinobatkan sebagai produk yang paling banyak dipesan di mayoritas wilayah PlayStation Store.

Sementara di platform Steam, angka penjualan masa pra-rilis gim ini dilaporkan melonjak drastis hingga lima kali lipat melampaui performa Assassin’s Creed Shadows—menjadikannya salah satu peluncuran tersukses Ubisoft dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.
Sayangnya, prestasi gemilang tersebut harus tunduk pada agenda restrukturisasi radikal yang tengah dijalankan Ubisoft. Demi efisiensi finansial, korporasi asal Prancis ini terus agresif memangkas jumlah karyawan dan menutup berbagai studio cabang.
Beberapa pekan sebelumnya, sekitar 100 staf di Ubisoft San Francisco juga didepak, menyusul penutupan permanen studio di Winnipeg dan Belgrade. Tercatat sejak tahun 2022, Ubisoft telah membuang sekitar 20% dari total tenaga kerja global mereka, dan program penghematan biaya ini dikonfirmasi akan terus digulirkan secara kejam hingga tahun 2028 mendatang.

https://shorturl.fm/5wW4a