Di tengah hiruk-pikuk peluncuran berbagai judul gim pada tahun 2026, industri gim dunia kini berada di persimpangan jalan krusial yang ditentukan oleh satu nama: GTA VI.
Bukan hanya soal pencapaian teknis atau visual, sorotan tajam kini mengarah pada kebijakan harga yang akan diambil oleh Rockstar Games dan Take-Two Interactive, yang diprediksi akan mengubah lanskap ekonomi gim AAA secara permanen.
Dalam ajang IICON Video Game Conference yang berlangsung di Las Vegas, Bank of America (BofA) secara terbuka menyuarakan desakan strategis agar GTA VI tidak dipasarkan dengan harga standar.
BofA mendorong agar gim ini dibanderol setidaknya pada angka USD 80, meningkat dari standar industri saat ini yang berada di level USD 70.

Harapan ini didasari oleh posisi unik GTA VI sebagai produk yang memiliki fleksibilitas tinggi untuk menjustifikasi harga premium melalui konten dan detail masif yang ditawarkannya.
Bagi Bank of America, langkah ini sangat penting demi keberlangsungan industri secara luas. Mereka mungkin mengkhawatirkan adanya “efek jangkar” jika GTA VI tetap dijual seharga USD 70; hal tersebut akan membuat pengembang lain merasa tidak rasional jika ingin menjual gim mereka dengan harga lebih tinggi, mengingat perbandingan kualitas yang ditawarkan oleh Rockstar akan sangat sulit ditandingi.
Dengan kata lain, BofA melihat GTA VI sebagai satu-satunya “kiblat” yang mampu menetapkan standar harga baru tanpa memicu penolakan ekstrem dari konsumen.
Meski desakan dari sektor finansial terus menguat, Take-Two Interactive tetap pada pendiriannya untuk tidak mencari pendapatan tambahan melalui kerja sama dengan jenama dunia nyata di dalam gim.
Hingga saat ini, belum ada pengumuman resmi mengenai harga final untuk gim yang dijadwalkan meluncur pada 19 November 2026 di PlayStation 5 dan Xbox Series ini. Keputusan Rockstar nantinya akan menjadi jawaban apakah era gim seharga USD 80 akan resmi dimulai atau tidak.
