Sebuah kebocoran data berskala besar kembali mengguncang Rockstar Games. Kali ini, kelompok peretas ShinyHunters menyebarkan dokumen finansial rahasia milik perusahaan tersebut setelah permintaan tebusan sebesar USD 200.000 diabaikan.
Data yang tersebar mengungkap angka-angka yang mencengangkan mngenai performa ekonomi GTA Online, yang ternyata telah meraup total pendapatan lebih dari USD 5 miliar (sekitar Rp80 triliun) sejak pertama kali diluncurkan.
Berdasarkan dokumen tersebut, terungkap bahwa sumber pendapatan utama bukan berasal dari penjualan gim dasar, melainkan dari mikrotransaksi. Penjualan Shark Cards menyumbang angka luar biasa, yakni sekitar 74% dari total pendapatan keseluruhan.

Puncak kejayaan finansial gim ini tercatat terjadi pada masa pandemi tahun 2020, di mana GTA Online berhasil mengantongi USD 743 juta hanya dalam waktu satu tahun.
Meski mata dunia kini tertuju pada penantian GTA VI, performa finansial GTA Online terbukti tetap stabil tanpa menunjukkan tanda-tanda penurunan yang berarti. Sepanjang tahun 2026 ini saja, gim tersebut tercatat sudah mengantongi lebih dari USD 109 juta.
Rata-rata pemasukan hariannya mncapai lebih dari USD 1 juta (sekitar Rp16 miliar), dengan pendapatan mingguan yang bisa menyentuh angka USD 28 juta. Angka ini menegaskan loyalitas basis pemain yang tetap masif dalam memberikan dukungan finansial bagi Rockstar.
Kebocoran data ini memberikan gambaran jelas mengapa Rockstar sangat berhati-hati dalam menentukan jadwal rilis sekuelnya.
Dengan pemasukan harian yang masih sangat stabil di angka miliaran rupiah, Rockstar memiliki keleluasaan finansial untuk menyempurnakan GTA VI tanpa tekanan modal. Namun, hal ini juga memicu diskusi di kalangan penggemar mengenai apakah skema mikrotransaksi serupa akan diimplementasikan lebih agresif lagi di seri berikutnya nanti.
