Preview Biwar: Legend of Dragon Slayer – Sangat Menjanjikan Sekali!


Devata Game dengan percaya diri merilis pre-alpha dari Biwar: Legend of Dragon Slayer. Satu kata saja, game ini sangat menjanjikan!

Biwar: Legend of Dragon Slayer

Devata Game yang merupakan salah satu studio game asal Indonesia mencuri perhatian mayoritas gamer. Setelah sebelumnya mengumumkan bahwa mereka sedang menciptakan sebuah game action, kini Devata Game sudah merilis demo dari game besutan mereka tersebut yang diberi nama Biwar: Legend of Dragon Slayer.

Tertarik dengan konsep yang berbeda dari game Indonesia kebanyakan, Gimbot akhirnya mencoba Pre-Alpha dari Biwar: Legend of Dragon Slayer. Ada beberapa poin yang menjadi perhatian kami mulai dari gameplay, combat system, dan tentu saja visualisasinya.

BACA JUGA: [Nostalgimbot] Mengulik Serba-serbi Emulator PS1, Mulai dari Sejarah dan Jenisnya

Harus diakui, meski mereka memberikan demo yang sangat-sangat singkat, namun bisa dikatakan jika demo singkat itu sudah diisi oleh sejumlah mekanisme gameplay yang akan kita temui di versi final-nya nanti. Menurut saya, game ini sangat menjanjikan sekali dan kualitasnya tidak bisa dianggap remeh meski hanya dibuat oleh tim yang jumlah personilnya tergolong kecil.

Lantas apa saja catatan kami ketika memainkan game tersebut? Kenapa kami mengatakannya sebagai game Indonesia yang kualitasnya sangat menjanjikan?

Punya Gameplay yang Baik

Biwar: Legend of Dragon Slayer nantinya akan bersaing di game dengan genre action. Tentunya untuk bisa bersaing, mereka harus memiliki gameplay yang solid dan action sekali. Di sini Devata Game berhasil meracik gameplay yang sangat baik dan solid.

Devata Game membuat setidaknya dua sudut pandang kamera dalam game ini Pertama adalah third person over the shoulder seperti God of War, Resident Evil 4, Hellblade, dan A Plague Tale Innocence. Sudut pandang kamera ini digunakan ketika melakukan eksplorasi atau hal-hal yang berhubungan dengan non-combat.

Ketika bertemu musuh dan masuk ke mode combat, kamera akan menjauh hingga membuat game ini mirip-mirip seperti Souls Series atau Assassin’s Creed. Dengan sudut pandang kamera lebih luas, gamer bisa melihat secara luas juga gerombolan musuh yang hadir nantinya.

Tentunya perbedaan kamera ini adalah hal yang sangat menarik karena berhasil membuat sensasi antara combat dan non combat terasa berbeda.

Selain itu, yang wajib diperhatikan dari sisi gameplay lainnya selain soal sudut pandang kamera adalah mengenai motion atau pergerakan karakter yang dihadirkan di game tersebut. Sebagai game aksi modern, Biwar: Legend of Dragon Slayer menghadirkan banyak pergerakan karakter mulai dari melewati dinding-dinding sempit khas Tomb Raider Reboot, menunduk, merangkak, dan melompat.

Perubahan gerakan-gerakan ini juga terasa sangat natural meskipun masih kaku di beberapa momen. Namun wajar saja karena ini masih produk Pre-Alpha yang membutuhkan banyak perbaikan. Lantas bagaimana kualitas game ini dalam menonjolkan aspek pertarungan? Saya bisa bilang cukup baik.

Momen ketika bertarung dengan musuh di dalam game ini mirip dengan Hellblade atau Souls Series. Musuh yang ada memang tidak begitu susah dikalahkan, tapi cukup menantang buat dilalui. Kalian butuh banyak variasi gerak serta serangan untuk menaklukan musuh.

Karena jika tidak, musuh bisa melukai kalian dengan mudah. Belum lagi musuh tidak hanya menyerang saja melainkan juga bisa bertahan dari serangan-serangan kalian. Ada efek khusus jika serangan kita berhasil ditahan musuh di mana karakter utama akan terpental dan berhenti bergerak beberapa detik yang menyebabkan dia rentan sekali untuk diserang lawan yang lainnya.

Sejauh ini pertarungan yang dihadirkan Biwar: Legend of Dragon Slayer sangat menjanjikan dan asyik. Mungkin jika variasi musuh yang dihadirkan sangat banyak, momen-momen pertarungan akan menjadi bagian yang patut ditunggu.

Tapi jika variasi musuh sedikit, kemungkinan game ini akan jadi sangat membosankan dari sisi mekanisme pertempuran.

Menariknya, di sisi pertempuran ini gamer akan disuguhi sebuah cutscene khusus. Jika berhasil melukai musuh sampai titik tertentu, kita bisa mengeksekusi finishing attack dengan visual yang dramatis khas game-game action kekinian.

Satu lagi, meskipun kedengarannya Biwar seperti game action biasa, kenyataannya tidak begitu adanya. Biwar membawa sejumlah elemen horor di dalamnya. Bahkan dalam versi Pre-Alpha ini sempat ada jumpscare yang membuat saya terkejut.

Kemungkinan, elemen-elemen horor ini akan terus muncul di sepanjang permainan meskipun ada beberapa bagian dalam cerita yang tidak menggunakan elemen horor. Pilihan memasukan sejumlah elemen horor menurut saya adalah hal yang cerdas demi menjaga ketegangan gamer sepanjang permainan.

Visual dan Sound Luar Biasa

Untuk sebuah game yang dibuat oleh studio indie dengan orang yang sedikit, visual dari Biwar: Legend of Dragon Slayer bisa bersaing dengan game-game kekinian. Saya tidak tahu dari basis engine apa game ini dibuat, namun sepertinya dari Unreal Engine. Devata Game terbukti bisa memanfaatkan kehebatan engine yang mereka gunakan dengan baik.

Tata cahaya terlihat dramatis dan karakter yang mereka ciptakan juga terlihat cukup realistis. Memang beberapa efek seperti kobaran api belum bisa menyamai kualitas dari A Plague Tale of Innocence yang sangat luar biasa di mana visualisasi yang dibuat dibangun di atas Unreal Engine.

BACA JUGA: 5 Teori Gamer Atas Video Game Populer yang Terbukti Benar

Namun setidaknya Biwar sudah bisa mendekati kualitas game-game indie kelas atas bahkan game AAA kebanyakan. Selain sisi visualnya yang baik, game ini memiliki kualitas sound yang bagus. Suasana horor yang dibangun benar-benar sangat terasa berkat sound yang ada.

Begitu pula ketika kita melintasi wilayah yang terkesan non horor, sound akan menyesuaikan. Soal sound, Devata Game berhasil membangunnya dengan baik dan selama permainan, tidak ada bug sound juga yang kami temui.

Punya Beberapa Kekurangan

Tentunya Biwar versi Pre-Alpha memiliki berbagai kekurangan yang ada dan harus dibenahi oleh sang developer. Kekurangan pertama, pergerakan ketika melompat masih terasa sangat kaku. Butuh beberapa polesan lagi hingga kita merasakan lompatan yang terasa realistis.

Kemudian yang kedua, saya masih banyak menemui bug di mana karakter bisa menembus berbagai objek solid seperti pohon dan bebatuan. Selain itu, ketika saya mengarahkan kursor ke bagian kaki, terkadang kaki dari karakter utama tenggelam ke tanah.

Memang hal tersebut terkesan remeh, namun tentunya keseriusan dari developer akan terlihat dalam hal-hal detail kecil macam ini. Semakin punya kualitas bagus dalam hal-hal remeh, semakin diakui detail juga sebuah game.

Ketiga, penggunaan obor di game ini terlampau ribet dan seakan-akan berguna untuk memanjang-manjangkan gameplay. Pasalnya, jika ingin membakar benda, kita harus mencari obor, menyalakan api, dan membakar benda itu sampai habis.

Setelah selesai terbakar, maka obor secara otomatis akan hilang. Ketika melihat benda untuk dibakar di depannya, gamer dipaksa mencari obor dan api lagi. Soal hal yang satu ini, mungkin Devata Game bisa meniru gameplay dari Tomb Raider Reboot di mana Obor dan Api bisa digunakan lagi secara instan walau sudah dimatikan.

Selain itu, di Tomb Raider, obor tidak akan hilang jika tidak terkena air atau kita matikan secara sengaja. Hal ini terbukti lebih simpel dan sempurna dari bagian aksi. Dari sisi realitas permainan, mekanisme Tomb Raider juga lebih realistis.

Karena akan jadi hal mengesalkan kita melakukan eksplorasi beberapa menit hanya demi mencari obor yang seharusnya bisa disimpan dan digunakan kembali secara instan oleh sang karakter utama.

Kekurangan keempat adalah petunjuk dari misi tidak dijelaskan sehingga membuat kita kebingungan. Ada baiknya Devata Game menyediakan beberapa hint supaya orang tidak bingung nantinya. Namun ini belum versi final, ke depannya wajib dilihat apakah mereka menyertakan petunjuk terkait misi atau tidak.

Kesimpulan

Sejauh ini, Biwar: Legend of Dragon Slayer merupakan game indie asal Indonesia yang sangat menjanjikan. Harus diakui memang butuh penyempurnaan yang harus dilakukan demi menjadikan game ini full polished, layak diluncurkan, dan layak dijual.

Tema yang dibawa juga menarik dan cenderung berbeda dari game Indonesia kebanyakan yang mengambil tema mengenai horor. Biwar: Legend of Dragon Slayer justru mengambil tema action meskipun ada unsur serta kesan horor di dalamnya.

Jadi, semangat buat Devata Game, Biwar adalah game yang menjanjikan dan layak ditunggu versi final-nya!

Tertarik coba demo-nya? Ke sini saja langsung


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Will Ramos