Entah tahun berapa pastinya saya pertama kali pergi ke sebuah arcade center. Mungkin tahun 1995 atau 1996, yang jelas saat itu kalau siang saya masih pergi ke sekolah mengenakan setelan seragam putih merah. Saya juga belum bisa naik sepeda dengan lancar, dan belum berani naik angkutan umum sendiri.
Saya cukup beruntung karena arcade center terdekat dari rumah masih berada dalam jangkauan jalan kaki seorang bocah SD. Oh iya, saat itu saya juga belum mengenal istilah arcade center. Kami semua menyebut tempat itu sebagai “ding dong”, yang sampai sekarang juga saya masih belum tahu dari mana asal istilahnya.
Ketika Arcade Menjadi Genre Game

Saya masih ingat serunya menukarkan uang dengan koin-koin, kemudian memainkan berbagai game seru yang tidak pernah saya temukan di console NES kepunyaan saya. Street Fighter II Turbo, Darkstalkers, serta game bertema Marvel entah apa judulnya, yang jelas bisa dimainkan hingga empat orang. Oh dan tentu saja Michael Jackson’s Moonwalker, apakah kamu pernah dengar game ding dong legendaris yang satu ini?
Sayangnya karena uang saku yang terbatas, saya jadi tidak bisa terlalu sering main di arcade center. Selain kendala dana, tempatnya pun selalu ramai dengan anak-anak yang badannya lebih besar dari saya, serta selalu penuh dengan asap rokok. Bagi saya yang masih kecil dan lugu, jelas tidak nyaman. Walaupun rasa tidak nyaman itu menurut saya masih cukup worth it diterjang demi main Street Fighter II Turbo, sepertinya orang tua saya tidak berpendapat serupa.

Lebih sayang lagi ketika kemudian arcade center tersebut tutup. Kampung halaman saya adalah kota kecil di Jawa Timur yang tidak punya shopping mall, jadi arcade center adalah sesuatu yang sangat langka. Begitu satu arcade center itu tutup, praktis kesempatan saya pergi ke arcade center hanyalah ketika kebetulan sedang diajak pergi oleh orang tua ke kota besar.
Setiap mendatangi kota baru, yang saya ingat-ingat pastilah game ding dong apa yang dimiliki kota tersebut. Street Fighter Zero 2 dan Sailor Moon ada di Surabaya. Kalau mau main Art of Fighting atau Captain Commando, adanya di Sidoarjo. Begitu seterusnya, selama bertahun-tahun.

Seiring bertambahnya usia, saya jadi lebih sering merantau sendiri, dan pengalaman main di arcade center tak lagi jadi sesuatu yang langka. Hingga sekarang pun ketika usia sudah melewati kepala tiga, saya masih rajin pergi ke mall sekadar untuk “jajan” di arcade center, main Pump It Up dua credit atau mengoleksi kartu Ultraman. Tapi saya sadar ada sesuatu yang berubah. Game yang ada di arcade center zaman sekarang, kebanyakan tidak lagi seperti dulu.
Arcade center sekarang sudah sangat canggih, dengan berbagai game yang memanfaatkan teknologi layar sentuh, motion sensor, hingga efek-efek “4D”. Seru memang, tapi tak jarang saya menemukan diri saya sedang memindai seluruh ruangan lalu menghela napas kecewa, karena tidak menemukan game seperti masa kecil saya dulu lagi.

Sekarang tampaknya sudah jarang sekali ada arcade center yang menyediakan game tipe side-scrolling beat-em-up, atau vertical scrolling shoot-em-up. Mencari game semacam Captain Commando, atau Raiden dan Sonic Wings, rasanya sulit sekali. Mungkin game simpel semacam itu sudah tidak diminati oleh pengunjung arcade zaman now, atau mungkin dirasa kurang menguntungkan oleh pengelola tempat. Padahal justru game simpel itulah cikal bakal arcade center sesungguhnya, dan melihatnya pelan-pelan menghilang rasanya agak sedih juga.
Karena itulah ketika mencoba The King of Fighters All Star di Android, saya merasa sedikit terharu. Game ini simpel sekali, cukup menekan satu tombol saja saya sudah bisa menggebuki musuh dengan jurus yang keren-keren. Tidak ada pengumpulan senjata, armor, atau aksesoris seperti kebanyakan game mobile, meskipun masih ada juga elemen grinding lain sebagai gantinya. Berkali-kali saya memainkan The King of Fighters All Star dan berpikir, “Andai saja game ini ada di arcade center.”

Sekarang “arcade” sudah jadi sebutan untuk genre game, dan sebetulnya game bergenre “arcade” hingga kini juga masih terus diproduksi. Kalaupun tidak beredar di ding dong, setidaknya masih ada di PC atau console. Sekuel Streets of Rage misalnya, sebentar lagi bakal dirilis, dan beberapa developer indie lain juga telah menciptakan game dengan gaya serupa. Arc System Works beberapa tahun lalu merilis sekuel baru untuk seri Double Dragon, sementara kalau ingin shoot-em-up saya rasa Astebreed masih pilihan terbaik.
Tapi game semacam ini hanya jadi sebuah genre yang niche. Jumlah orang yang memainkannya tidak begitu banyak, jauh dibandingkan game bergenre modern seperti first person shooter atau 3D action. Ini sama sekali bukan hal yang buruk, malah wajar karena selera gamer tentu juga akan berkembang mengikuti apa yang ditawarkan teknologi terbaru.
Game Bagus Tak Harus Kompleks

Hanya saja, ketika saya memainkan The King of Fighters All Star, saya seperti diingatkan kembali bahwa sebuah game yang bagus dan menyenangkan itu tidak harus selalu game yang kompleks. Cukup bag big bug begini saja juga sudah bisa menghibur, dan dulu, ketika saya masih kecil, game seperti ini sudah yang paling canggih. Sudah paling keren, sudah “cutting edge”, kalau kata orang londo.
Sekarang, genre game warisan ding dong sudah jadi sesuatu yang kuno. Tapi setidaknya saya ingin generasi gamer yang lahir setelah saya menyadari bahwa apa yang kuno itu sebetulnya bisa menyenangkan juga. Silahkan saja bermain game modern, saya juga suka main game modern kok (tunggu review Final Fantasy VII Remake dari saya sebentar lagi). Tapi ketika kamu suntuk, jenuh dan butuh sesuatu yang sederhana untuk menyegarkan pikiran, mungkin kamu harus mencoba main berbagai game simpel yang dulu sempat jadi rajanya arcade center.
Yah, kira-kira seperti The King of Fighters All Star ini.
