Nostalgia Review Digimon World 3– “Kloning Pokemon” yang Mengisi Masa Kecil


Meskipun punya banyak kekurangan, Digimon World 3 adalah salah satu game yang jadi kenangan masa kecil banyak orang.

review-nostalgia-digimon-world-3-featured

Digimon World 3 bukanlah game yang sempurna. Jujur saja, saya bahkan berani bilang game ini punya beberapa kelemahan yang membuatnya buruk di zaman modern ini.

Tapi terlepas dari kelemahan tersebut, Digimon World 3 adalah salah satu game favorit saya saat kecil dulu dan mungkin juga jadi favorit banyak orang. Bahkan saat sudah dewasa sekalipun, saya sesekali memainkan kembali game ini demi nostalgia.

Dunia Game Berisi Digimon Keren

review-nostalgia-digimon-world-3-pilih-tim

Digimon World 3 mencoba hal yang sepenuhnya baru dan sama sekali tidak mengikuti konsep pendahulunya. Jika harus dijelaskan secara singkat, game ini mengambil banyak inspirasi dari seri Pokemon, tapi dengan beberapa sentuhan yang berbeda.

BACA JUGA: 5 Game Nintendo Switch Terbaru Bulan April 2020

Seperti biasa, karaktermu adalah seorang anak yang masuk ke dunia digital. Tapi kali ini ia masuk secara sengaja karena dunia digital yang ia masuki adalah sebuah game bernama Digital World. Bersama dua orang teman, kamu kemudian mendaftar ke dalam game tersebut, memilih tiga Digimon partner, kemudian mulai bermain.

review-nostalgia-digimon-world-3-plug-cape

Dunia Digimon World 3 terdiri dari berbagai area yang sangat luas dalam perspektif isometrik. Ditambah dengan sprite karaktermu yang sangat kecil, dunia dalam game ini akan terasa makin luas lagi. Untungnya ini diseimbangkan dengan gerakan karaktermu yang cukup cepat. Dengan begitu meskipun beberapa area punya layout yang rumit dan mirip labirin, kamu tidak akan pernah merasa terjebak di satu area yang sama.

Encounter dengan Digimon liar juga diganti jadi random encounter layaknya game JRPG klasik. Selain itu pertarungan juga dilakukan satu lawan satu dengan konsep turn-based dengan perspektif tiga dimensi. Kamu bisa memerintah Digimon kamu untuk menyerang, menggunakan jurus, dan beberapa perintah lain. Kamu kalah dan game over jika semua Digimon yang kamu bawa (maksimal tiga) tumbang. Tiap Digimon juga bisa kamu sembuhkan dengan memberikan item atau kamu bawa ke penginapan.

review-nostalgia-digimon-world-3-bertarung

Saya tekankan sekali lagi, game ini punya konsep yang hampir identik dengan Pokemon. Tapi saya yang saat itu masih SD sama sekali belum mengenal Pokemon. Akibatnya dunia dan petualangan Digimon World 3 membuat saya dan banyak teman saya kagum.

Tapi Digimon World 3 sendiri sebenarnya punya satu hal yang membuatnya unik, yaitu evolusi Digimon.

review-nostalgia-digimon-world-3-level-tim

Selain evolusi alaminya (misal Agumon menjadi Greymon, Metalgreymon, dan seterusnya), tiap Digimon yang kamu bawa bisa berubah menjadi Digimon yang lain jika memenuhi syarat yang berbeda. Sejatinya, semua Digimon bisa mengakses evolusi yang sama. Tapi kapan dan cara untuk mengakses evolusi tersebut berbeda untuk masing-masing Digimon. Ini membuat grinding terasa lebih rewarding dan sebagai penggemar collectible moonster, saya selalu senang melihat model visual tiap evolusi.

Tetap Penuh Grinding Dan Fetch Quest

review-nostalgia-digimon-world-3-north-sector

Di luar dari itu, sebenarnya tidak ada alasan lain yang membuat Digimon World 3 berkesan. Meskipun bisa memberikan urgensi, cerita dalam game ini cukup standar terutama untuk standar game Digimon World. Tapi kadang cerita tersebut sangat dilupakan karena desain quest-nya yang buruk serta banyaknya grinding yang harus kamu lakukan, satu masalah yang menurut saya selalu ada di semua game Digimon World.

Dalam game ini kamu akan melakukan banyak fetch quest untuk mendapatkan progres dalam cerita. Kamu seringkali harus pergi ke area yang cukup jauh hanya untuk bicara dengan satu NPC lalu ke area lain yang tidak kalah jauhnya untuk bicara dengan NPC lain sebelum kembali ke tempat kamu pertama kali berangkat. Lalu di tengah perjalanan kamu akan melakukan banyak random encounter yang mungkin tidak kamu inginkan.

review-nostalgia-digimon-world-3-tim
Khusus area ini, kamu akan sering membuka menu untuk melakukan heal.

Tapi di tengah jalan kamu mungkin harus mengesampingkan quest tersebut karena dua Digimon kamu harus mendapatkan level tambahan dan kebetulan area yang kamu tempati sangat cocok untuk grinding. Setelah berjam-jam melakukan grinding, kamu mungkin lupa ke mana kamu harus pergi. Grinding pun lama kelamaan terasa membosankan karena pertarungan di game ini sejatinya adalah adu serangan sampai lawanmu tumbang lebih dulu.

Untungnya, berkat gerakan karakter yang cukup cepat, area yang cukup ekspresif, dan musik yang cukup oke, waktu grinding dan berpindah tempat yang kamu habiskan jadi tidak terlalu menjengkelkan. Tapi akan ada satu titik di mana kamu jenuh bolak-balik dari satu area ke area lain atau melakukan pertarungan yang sama terus menerus. Jika kamu ingin bermain game ini saat ini, saran saya adalah bermain dengan satu Digimon saja untuk memangkas waktu grinding tiga kali lebih singkat.

Digimon dan Nostalgia Masa Kecil

Terlepas dari kekurangannya, Digimon World 3 tetap cukup menarik dimainkan untuk penggemar JRPG dan saya tetap suka memainkannya kembali setiap beberapa satu atau dua tahun untuk nostalgia. Karena pada akhirnya, harus diakui bahwa saya menghabiskan banyak masa kecil saya dengan game ini.

Banyak interaksi dengan teman yang terjadi ketika game ini populer di sekolah dulu. Karena belum mengerti bahasa Inggris dan tidak begitu memperhatikan alur cerita, salah satu cara untuk mencari tahu cara untuk mendapatkan progres adalah dengan bertanya pada teman. Ia mungkin tahu karena membeli majalah game yang menyediakan walkthrough, but whatever.

Esoknya teman tersebut mungkin menceritakan salah satu Digimon-nya berubah menjadi Skullgreymon dan menceritakan caranya. Kemudian kamu bertanya bagaimana mengalahkan Zanbamon yang sepertinya sangat kuat dan mengerikan. Lalu di hari minggu kamu berkunjung ke teman yang berbeda untuk melihat atau mengajarkannya bermain.

review-nostalgia-digimon-world-3-ertarung-2

Selama beberapa minggu, Digimon World 3 adalah topik hangat di sekolah yang tidak bisa dihindari, and it was fun! Mungkin itu jugalah yang membuat beberapa game lain juga memberikan kesan nostalgia sendiri meskipun game tersebut sebenarnya tidak begitu bagus. Ditambah saat itu kamu mungkin masih di usia sekolah, kamu punya banyak waktu untuk memainkan apapun yang sedang tren saat itu.

Jika diingat kembali, saya rasa Digimon World 3 dan game pendahulunya tidak akan begitu populer di Indonesia jika anime Digimon tidak tayang di hari minggu dan/atau game sertai anime Pokemon muncul dan populer lebih dulu. Tapi pada akhirnya di Indonesia Digimon bisa dibilang lebih populer, dan Digimon World 3 adalah salah satu game yang mengisi masa kecil saya dan mungkin banyak orang lain.


Saat artikel ini ditulis, saya tengah memainkan game ini sekali lagi dengan solo Renamon. Saya yakin satu atau dua tahun lagi saya akan kembali memainkan game ini, sekali lagi solo tapi dengan Digimon lain.

Semua gambar diambil dari Let’s Play Archive


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Kaoru

Hmmm...