Review Little Nightmares 2 – Lebih Brutal dan Berbahaya!


Little Nightmares 2 memiliki sejumlah improvisasi yang membuatnya punya perbedaan dari game pendahulunya. Seperti apa kira-kira?

little nightmares 2

Little Nightmares mungkin saat ini sudah bisa dibilang sebagai salah satu franchise terbaik di industri game khususnya untuk level indie. Seri pertamanya yang meluncur pada tahun 2017 berhasil sukses besar. Memiliki gaya main yang mirip dengan LIMBO dan INSIDE dari PlayDead, game ini ternyata punya keunikan tersendiri.

Little Nightmares membawa kita ke dunia aneh yang mengerikan. Di dunia itu kita menjadi manusia kecil yang bisa dibunuh kapan pun oleh monster-monster yang ada di sana. Sebagai makhluk yang rentan dibunuh, satu-satunya cara untuk melewati tantangan yang ada adalah dengan stealth.

Game ini juga dipenuhi oleh puzzle yang cukup menarik buat diselesaikan. Hal itu yang kemudian mengangkat game tersebut menjadi game yang ramai dimainkan. Tidak heran popularitas seri pertamanya membuat gamer menunggu seri keduanya.

Empat tahun berselang, gamer akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mencicipi Little Nightmares 2. Ada berbagai hal menarik yang ditawarkan oleh Little Nightmare 2. Setidaknya, saya menganggap bahwa game ini lebih brutal dan berbahaya daripada seri pertamanya.

Lantas, apakah benar demikian? Mari kita bahas satu per satu mengenai Little Nightmares 2.

Satu Karakter Baru dengan Segala Keunikannya

little nightmares 2

Little Nightmare 2 membawa satu karakter baru bernama Mono. Mono berbeda dengan Six yang menggunakan jas hujan kuning yang lengkap menggunakan sepatu. Mono justru memiliki tampilan yang jauh lebih, ya, mungkin garang daripada Six.

Mono menggunakan jubah berwarna cokelat yang sudah sangat lusuh, tanpa sepatu, dan juga topeng kardus kotak. Desain karakter dari Mono sekilas mengingatkan kita sedikit dengan Danbo. Mono meskipun tak pernah diceritakan seperti apa karakternya, namun sepanjang permainan kita tahu bahwa dia sangat setia kawan.

BACA JUGA: 5 Lokasi di Video Game yang Bikin Gamer Kebingungan untuk Cari Jalan

Dia digambarkan sebagai sosok yang peduli dengan orang-orang yang bernasib sama dengannya. Tapi di satu sisi, Mono tak segan menghajar siapapun yang mengganggunya. Keunikan lain dari Mono adalah dia bisa bergonta-ganti topeng.

Ada cukup banyak varian topeng selain topeng kardus yang dia gunakan di awal game. Di samping itu, Mono memang tak punya kehebatan untuk menyalakan lampu seperti Six yang merupakan protagonist di Little Nightmares pertama di awal-awal game. Tapi, Mono punya keunikan lain yaitu bisa berkomunikasi atau berteriak dengan karakter baik lainnya di sepanjang permainan.

Untuk mengetahui apa yang sebenarnya ingin dilakukan Mono di Little Nightmares 2 bisa kalian ketahui dengan memainkan game-nya.

Lebih Brutal dan Berbahaya dari Pendahulunya

little nightmares 2

Little Nightmares pertama membawa keunikan di mana meski dunia yang disajikan cenderung suram, namun Six yang punya warna cerah dan kecenderungannya untuk bisa menciptakan cahaya di tengah gelap menjadikan game ini punya tone warna yang beragam.

Selain itu, di game pertamanya, saya cukup jarang menemukan hal-hal berbau kekerasan atau menghancurkan. Tapi di game keduanya, Tarsier Studios seakan ingin melakukan push sedikit soal franchise ini untuk lebih gelap dari sebelumnya.

Perubahan tone warna tokoh utamanya, perubahan tone dunianya, dan adanya improvisasi sedikit dari sisi gameplay menjadikan game tersebut lebih menantan, brutal, dan berbahaya. Kita bakal sering melihat Mono berusaha membunuh musuh-musuhnya yang mencoba untuk menyerangnya.

BACA JUGA: 5 Alasan Kenapa Shadow of Tomb Raider Merupakan Penutup Trilogy Sempurna

Tak main-main, mulai dari shotgun, kapak, dan centong sayur menjadi senjatanya. Belum lagi boss yang ada di dalam game tersebut lebih gahar dari sebelumnya. Misalnya saja Mono harus dengan cermat dan cerdik untuk melewati boss gurui dengan leher yang bisa memanjang.

Daya jangkau boss ini sangat luas sehingga butuh kecekatan untuk bisa melewatinya tanpa ketahuan. Belum lagi, Little Nightmares 2 tak malu-malu untuk memasukan banyak sekali jebakan demi menjegal langkah kalian.

Jebakan yang diaplikasikannya mirip-mirip dengan The Evil Within. Benar-benar rapi dan susah untuk diketahui. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya mungkin saja kalian harus mati dulu, baru setelah itu sadar bahwa tempat yang kalian pijak penuh jebakan.

Dengan tersebarnya jebakan membuat gamer akan mengalami rasa was-was jika datang ke tempat yang baru. Rasa was-was ini semakin menjadi-jadi jika harus melakukan stealth juga. Ketidak pastian akan menjadi musuh besar kalian di game ini.

Selain itu, puzzle yang tersaji juga cenderung lebih rumit dari sebelumnya. Memang sejak awal game ini diposisikan sebagai game yang memiliki puzzle tanpa memberi petunjuk sama sekali. Petunjuk yang ada ya harus dicari tahu dari dalam game-nya sendiri.

Nah, di Little Nightmares 2, puzzle yang diberikan lebih menantang dan rumit. Bahkan beberapa puzzle sering menentukan dengan hidup dan mati kalian. Pasalnya, puzzle di Little Nightmares 2 kerap kali juga diaplikasikan jebakan.

BACA JUGA: 5 Pelajaran Hidup yang Diberikan Oleh Sekiro

Menyelesaikan puzzle dan melanjutkan permainan tanpa mati menjadi salah satu menu utama di game tersebut. Hal itu pulalah yang membuatnya menjadi lebih mengerikan dan brutal dari sebelumnya.

Aksi bunuh membunuh, boss yang susah dilewati, puzzle yang susah, dan jebakan-jebakan gila akan menemani kalian sampai akhir permainan. Tarsier berhasil menjaga ketegangan hingga akhir tanpa adanya pengurangan intensitas. Mampunya Tarsier menjaga nafas horor di game ini dari awal sampai akhir patut diacungi jempol.

Mono dan Six, Duet Maut yang Baru

Di masa lalu, kita sudah sering diperkenalkan dengan game yang memiliki dua karakter sekaligus yang melakukan perjalanan. Joel dan Ellie, atau Bill Rizer dan Lance Bean merupakan contohnya. Little Nightmares 2 secara langsung memperkenalkan kita duet maut yang baru di industri game yaitu Mono dan Six.

Dari awal game, kita selalu disajikan kerjasama dan digambarkan soal hubungan keduanya. Jika melihat dari sudut pandang saya, Mono dan Six ini sebenarnya adalah sahabat. Mono bahkan rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan Six yang terjebak, setidaknya beberapa kali.

Begitu juga dengan Six, dia tidak segan untuk membantu Mono sepanjang permainan. Kebersamaan dan kekompakan keduanya tak diperlihatkan lewat cutscene saja melainkan juga diimplementasikan di dalam gameplay-nya.

Ada banyak sekali puzzle yang mengharuskan Mono dan Six bekerjasama. Komunikasi tentu saja dipegang kendalinya oleh Mono yang bisa memberikan instruksi lewat suara atau sebuah isyarat. Apa yang dilakukan oleh Mono dan Six mirip seperti kerjasama yang dilakukan Joel dan Ellie.

Di samping itu, rasa kebersamaan semakin diperkuat dengan Tarsier yang menyematkan sebuah detail kecil pada karakter Mono. Dalam gameplay-nya, Mono bisa menuntut tangan dari Six. Bahkan tak hanya sekadar pergerakan tanpa arti, ada cukup banyak momen yang mengharuskan kalian untuk saling menuntun, khususnya ketika sedang dalam bahaya misalnya dikejar monster atau sebagainya.

Prekuel atau Sekuel, Kalian yang Menentukan

Sama seperti game pertama, tidak ada cerita yang dijelaskan secara nyata di game tersebut. Itu artinya, Tarsier membebaskan tiap-tiap gamer merepresentasikan game ini sesuai dengan pengalaman mereka. Walaupun menggunakan angka dua pada judulnya, tapi sebenarnya, game ini punya potensi juga diinterpretasikan sebagai prekuel.

Hal ini tentunya sah-sah saja. Bahkan menurut saya, gaya cerita seperti ini cenderung bagus karena bisa menghadirkan teori-teori unik dari para gamer sehingga game tersebut akan terus dibahas dalam waktu lama karena banyaknya teori yang bisa disampaikan.

Keleluasaan ini menjadi nilai plus buat kami karena masing-masing gamer punya sudut pandangnya sendiri untuk memahami game ini sehingga sensasi soal jalan cerita bisa berbeda-beda antara gamer yang satu dan yang lainnya. Sekuel atau prekuel, kalian yang menentukan sendiri.

Di Beberapa Sisi Puzzle Cenderung Mudah Dibaca

Walaupun saya mengatakan jika puzzle yang dihadirkan cukup merepotkan dan menyegarkan. Namun di satu sisi, ada pengulangan-pengulangan puzzle yang dilakukan khususnya ketika bertarung dengan boss. Pengulangan ini membuat puzzle sangat mudah terbaca sehingga kita akan sadar apa yang langsung harus dilakukan.

Tapi, walaupun begitu, hal ini tak begitu mengganggu sensasi permainan yang menegangkan. Walaupun kita sudah tahu apa yang harus dilakukan soal puzzle, namun Tarsier berhasil menjaga tensi permainannya dengan baik sehingga kekurangan ini mungkin hanya masuk kategori minor.

Kesimpulan

Menurut kami, tidak ada alasan untuk tidak mencoba game yang satu ini. Di rentang harga yang cukup terjangkau yaitu sekitar Rp200 ribuan, game ini sudah bisa memuaskan kalian. Walaupun game indie dengan jam gameplay yang singkat, tapi percayalah, Little Nightmares 2 akan terus membuat kalian sibuk.

Apalagi, karena tingkat horornya yang melebihi game pertamanya, Little Nightmares 2 seakan tak pernah memberikan kalian ruang untuk bernafas dengan santai. Dari sisi puzzle, minimnya petunjuk dan semakin beragamnya penyelesaian yang dihadirkan akan membuat waktu gameplay kalian sangat menjadi panjang.

Walaupun ada beberapa puzzle yang sensasinya terasa berulang dan mudah dibaca. Tapi Tarsier mampu menjaga tensi permainan dengan baik sehingga tetap bisa membuat kita ketakutan dan kebingungan di saat yang bersamaan.


Azzizil Adam

Pencinta musik keras yang hobi main game! Orangnya fun, gak neko-neko.