5 Alasan Kenapa Shadow of Tomb Raider Merupakan Penutup Trilogy Sempurna


Menurut saya, Shadow of Tomb Raider adalah penutup yang sempurna dari trilogy Tomb Raider Reboot. Kenapa? Ada beberapa alasan.

shadow of the tomb raider

Mengikuti seri Tomb Raider Reboot yang pertama kali dirilis tahun 2013 membuat saya punya kewajiban untuk memainkan semua serinya. Dua seri pertama yaitu Tomb Raider dan Rise of Tomb Raider sudah berhasil saya selesaikan. Sayangnya, untuk Shadow of Tomb Raider, saya harus menunggu cukup lama untuk memainkannya.

Keperluan satu dan lain hal membuat saya baru memainkan game tersebut di tahun 2021. Sangat terlambat memang, namun saya belum kena spoiler sama sekali mengenai game ini sehingga ketika memainkannya, saya tetap mendapatkan pengalaman terbaik.

BACA JUGA: 5 Pelajaran Hidup yang Diberikan Oleh Sekiro

Menurut saya pribadi, game ini berhasil menjadi penutup trilogy Tomb Raider Reboot franchise yang sempurna. Crystal Dynamics dan Square Enix memang tidak bercanda ketika mengembangkan game ini. Walaupun di beberapa momen ada hal yang bikin saya kurang sreg, tapi overall, game ini sangat luar biasa.

Ada beberapa aspek yang menjadikan game Shaod of Tomb Raider sebagai penutup trilogy yang sempurna dan kita akan membahasnya satu per satu!

1. Puzzle Jauh Lebih Memusingkan

shadow of the tomb raider

Ketika pertama kali membahas mengenai game ini, Crystal Dynamics memang menjanjikan bahwa game tersebut akan lebih difokuskan pada puzzle dan eksplorasi daripada tembak-tembakan. Hal ini memang benar adanya di mana kita benar-benar disuguhkan oleh segudang puzzle.

Berbeda dari dua seri sebelumnya, puzzle di dalam game tersebut benar-benar memusingkan. Kita harus peka dan paham dengan setiap detail yang ada di dalam game demi menyelesaikan puzzle yang ada. Bahkan, kita harus membuka inventory dan melakukan eksplorasi supaya paham apa yang seharusnya dilakukan.

Selain dari inventory atau eksplorasi di sekeliling wilayah tempat puzzle berada, kita juga wajib paham dengan apa yang disampaikan oleh Lara Croft. Untuk urusan puzzle, survival instinct tak banyak membantu sehingga membuat puzzle jauh lebih susah dan mengasyikan.

Crystal Dynamics dan Square Enix benar-benar menjadikan survival instinct sebagai petunjuk arah dan looting bukan petunjuk menyelesaikan puzzle.

2. Lebih Solid, Lebih Kompleks

Harus diakui bahwa sistem gameplay di dalam game tersebut lebih solid dan kompleks. Mulai dari mekanisme combat yang pilihan eksekusinya semakin banyak. Tidak hanya memasuki semak belukar, Shadow of the Tomb Raider juga membuat kita bisa melumuri diri dengan lumpur untuk stealth dan menyamarkan diri dengan semak yang ada di tembok.

Pilihan stealth terasa luas dan realistis, menandakan bahwa game ini memang berbeda dari dua pendahulunya. Untuk urusan pergerakan karakter, kita bisa melihat ada berbagai gaya baru yang bisa dilakukan oleh Lara.

Selain itu, dari sisi pohon skill, Shadow of Tomb Raider terlihat lebih solid dan kompleks. Ada banyak sekali skill baru yang bisa dibuka di sini. Walaupun model skill yang bisa dibuka cukup banyak. Ada tiga core skill yang bisa diakses yaitu Warrior, Scavenger, dan Seeker.

Masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangannya. Tapi jika digabung, ketiganya akan menghasilkan berbagai hal yang berkesinambungan untuk membuat pengalaman bertempur Lara semakin efektif di lapangan.

Di samping skill dan combat, yang paling menarik adalah sistem outfit di dalam game ini dibuat lebih ciamik. Masing-masing outfit yang ada memiliki buff masing-masing. Misalnya, ada outfit yang bikin Lara jadi susah diidentifikasi oleh musuh.

Uniknya, terkadang ada outfit yang bisa didapatkan ketika mengalahkan musuh tertentu. Misalnya, ketika mengalahkan Leopard, Lara akan mendapatkan baju dari kulit Leopard yang mengubah tampilan Lara sekaligus memberikan buff kepadanya.

Kompleksitas yang ada menjadikan game ini semakin solid dan realistis dari sebelumnya. Bisa dibilang, Shadow of Tomb Raider adalah titik puncak dari trilogy ini berkat semua pembaharuannya di berbagai sisi. Banyak aspek berbeda dari dua game sebelumnya yang akan kita temui di game ini.

3. Lebih dalam Lagi Menceritakan Kisah Lara Croft

Di seri pertama, kita disajikan dengan jalan cerita bertahan hidup Lara Croft dari gadis petualang manja biasa menjadi seorang survivor. Sedangkan di seri kedua, Lara sudah lebih mahir namun masih menyembunyikan ketakutan dalam dirinya.

Di seri ketiga, Lara sudah tumbuh menjadi seorang wanita pemberani dan tak ragu membunuh siapapun yang mengancam dia dan temannya. Sebagai seorang pribadi, ini adalah puncak Lara sebagai seorang survivor. Crystal Dynamics dan Square Enix praktis harus mencari cara lain untuk membuat karakter ini tetap menarik.

Jadilah mereka mengambil sisi masa lalu Lara. Di game ini kita diceritakan masalah yang dia dan ayahnya hadapi plus kita diperlihatkan masa kecil Lara. Walau singkat, itu sudah cukup membuat karakter ini menarik.

Belum lagi di sepanjang jalan kita selalu disuguhkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Lara bingung mengenai dia, ayahnya, dan organisasi Trinity. Di samping itu, Crystal Dynamics dan Square Enix juga memberikan berbagai gambaran jelas bahwa sehebat-hebatnya Lara Croft di game ini, dia hanyalah seorang manusia biasa. Lara terkadang digambarkan pemberani, sedih, dan egois bahkan jauh dari kata heroik.

Pesan ini bisa disampaikan dengan baik. Dibungkus dengan kisah personalnya yang menarik semakin menjadikan game ini penutup yang luar biasa. Semua pertanyaan-pertanyaan kita soal hidup Lara dan kaitannya dengan Trinity mayoritas terjawab di game tersebut.

4. Punya Kekurangan yang Seharusnya Bisa Diantisipasi

Walau dianggap menjadi penutup yang sempurna, bukan berarti game ini tak punya kekurangan. Mungkin di review lain sudah dijelaskan apa saja kekurangannya. Tapi, ada satu kekurangan yang menurut saya cukup fatal karena tidak logis.

Kekurangan ini terjadi di chapter Croft Manor ketika kita mengendalikan Lara Croft kecil. Di sana, Lara sudah digambarkan sebagai anak yang suka dengan misteri dan eksplorasi. Sayangnya, Crystal Dynamics dan Square Enix terlalu jauh menggambarkan Lara Croft.

Bayangkan, suka misteri dan eksplorasi bukan berarti membuat dia bisa memanjat rumahnya yang sangat besar dan tinggi sesuka hati. Nah, Crystal Dynamics dan Square Enix membuat Lara sudah ahli panjat memanjat sejak kecil. Bayangnya, dia melakukan panjatan yang sangat tinggi tanpa pengamanan apapun.

Bergelantungan sana sini demi mencapai sebuah tempat rahasia di salah satu bagian rumahnya. Gilanya, usaha ini berakhir dengan gagal di mana Lara terjatuh dari ketinggian tanpa cedera berarti. Memang ini hanya video game, tapi alangkah baiknya jika dibuat lebih realistis, apalagi Shadow of the Tomb Raider bukanlah game dengan genre fantasy.

Mungkin bagian itu bisa diganti di mana Lara tak bisa memanjat dan hanya fokus pada puzzle mengingat usianya yang masih kecil dan tak mungkin melakukannya. Jika dia sudah semahir itu dari kecil, buat apa Crystal Dynamics dan Square Enix susah-susah membuat Lara menjadi survivor amatiran di Tomb Raider 2013?

Kekurangan minor lainnya adalah soal percakapan Lara dan penduduk di Mexico. Orang Mexico menjawab menggunakan bahasa daerahnya tapi Lara malah menjawabnya dengan bahasa Inggris.

Kesimpulan

Walaupun ada satu kekurangan yang saya rasa cukup fatal dalam membuat game ini menjadi lebih realistis, tapi tak bisa dipungkiri bahwa aspek positif di game ini memang lebih banyak daripada kekurangannya. Jika mengabaikan kekurangan tadi plus kekurangan minor yang ada, game ini sudah sangat bagus.

Kalian pecinta petualangan dan puzzle akan dimanjakan dengan segala aspek yang ada. Ditambah lagi jalan cerita yang diangkat juga terasa lebih emosional dari sebelumnya. Saya sangat merekomendasikan memainkannya khususnya bagi yang sudah memainkan dua seri sebelumnya.


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Will Ramos