Setelah lama ditunggu, film live action Street Fighter akhirnya tayang di bioskop Indonesia sejak 14 Oktober 2026, dua hari lebih cepat dari jadwal global. Sebagai orang yang tumbuh besar dengan Hadouken dan Shoryuken, jujur ekspektasi saya campur aduk.
Di satu sisi senang Ryu dan Ken balik ke layar lebar, di sisi lain trauma sama adaptasi-adaptasi sebelumnya masih membekas. Jadi, apakah film ini akhirnya berhasil? Lewat review film Street Fighter ini, jawaban saya: tergantung kamu datang ke bioskop untuk apa.
Sekilas Soal Film Street Fighter
Legendary dan Paramount menggarap Street Fighter versi 2026 ini bersama sutradara Kitao Sakurai, sosok di balik The Eric Andre Show dan Bad Trip. Ceritanya berlatar tahun 1993. Chun-Li (Callina Liang) mempertemukan kembali Ryu (Andrew Koji) dan Ken Masters (Noah Centineo), dua sahabat yang sudah lama renggang, lewat World Warrior Tournament. Turnamen ini ternyata menyimpan konspirasi yang memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu masing-masing.
Deretan pemain pendukungnya juga nggak kalah keren, mulai dari Jason Momoa sebagai Blanka, Roman Reigns sebagai Akuma, David Dastmalchian sebagai M. Bison, Cody Rhodes sebagai Guile, 50 Cent sebagai Balrog, Vidyut Jammwal sebagai Dhalsim, sampai Orville Peck sebagai Vega.

Gaya, Fight, dan Pemain yang Total
Hal pertama yang terasa, film ini kelihatan peduli banget sama nuansa game-nya. Nuansanya mirip banget dengan environment di dalam game. Bagian yang paling berkesan buat saya adalah adegan yang mengadaptasi start screen Street Fighter II: perkelahian jalanan di malam hari, lengkap dengan kerumunan orang, tong api, dan mobil terbakar, berlatar gedung-gedung tinggi kota.
Serunya lagi, Danny dan Michael Philippou, duo RackaRacka yang sempat dijadwalkan menyutradarai film ini, ikut tampil sebagai dua petarung di adegan tersebut.

Momen ini juga sempat muncul di trailer resminya sekitar menit ke-1:00:
Soundtrack bernuansa 90-an dan flashback bergaya anime 2D waktu Ryu dan Ken berlatih di bawah Gouken juga jadi bagian yang bikin saya nostalgia.
Koreografi fight-nya juga solid. Melihat jurus-jurus khas keluar di layar, lengkap dengan Hadouken Ryu, jadi momen tersendiri buat fans lama yang tumbuh besar dengan Street Fighter. Detail kecilnya juga nggak luput, dari rambut ikonik Guile sampai momen-momen Zangief yang terasa sangat khas.
Soal pemain, Andrew Koji pas sebagai Ryu yang pendiam dan Noah Centineo cocok jadi Ken yang flamboyan. Callina Liang juga kebagian beberapa adegan aksi terbaik sebagai Chun-Li. Tapi buat saya pencuri perhatiannya justru Cody Rhodes sebagai Guile yang sayangnya tidak terlalu dimaksimalkan di film ini. Jason Momoa juga kelihatan total dan bersenang-senang jadi Blanka, jauh lebih menyenangkan dibanding perannya di film Minecraft.
Alur Cerita dan Editing Bikin Garuk Kepala
Masalah terbesarnya ada di cerita. Plotnya sering lompat-lompat dan di paruh kedua mulai kehilangan arah. Menurut saya, film ini juga kurang ramah buat penonton awam. Film ini memasukkan terlalu banyak karakter tanpa pendalaman yang jelas. Contohnya E. Honda yang muncul sedang sauna, buat yang nggak pernah main game-nya pasti bingung dia siapa. Begitu juga Dhalsim, film ini nggak pernah benar-benar menjelaskan siapa dia dan apa keahliannya. Sementara buat fans lama, banyak karakter favorit yang akhirnya cuma numpang lewat.
Editing-nya juga bikin pusing. Ada potongan adegan yang terasa acak dan beberapa kali memotong momentum aksi. Yang paling bikin gemas, sejumlah duel yang harusnya jadi momen besar malah terjadi di luar layar atau cuma jadi keributan singkat di bar. Adegan bar ini pun terasa dipaksakan. Dugaan saya, tujuannya untuk memperkenalkan personality dan kekuatan tiap karakter, tapi eksekusinya malah jadi berantem random ala battle royale WWE. Haha.
Villain-nya pun kurang menggigit. M. Bison versi Dastmalchian kurang berwibawa, dan Akuma yang diperankan Roman Reigns sayangnya nggak kebagian banyak porsi. CGI Blanka juga masih nanggung.
Ya Udahlah, Nikmatin Aja
Kalau harus merangkum review film Street Fighter ini dalam satu kalimat: mungkin bukan film yang bagus, tapi jelas tontonan yang seru kalau nontonnya rame-rame. Ini action comedy yang sengaja lebay, dan justru di situ letak serunya sekaligus kelemahannya.
Buat saya, nilai plusnya ada di gaya visual dan nuansa 90-an yang kental, koreografi fight yang solid, fan service yang detail, plus Guile dan Blanka yang mencuri perhatian. Minusnya, ceritanya berantakan, editing-nya lompat-lompat, villain-nya kurang greget, dan humornya sering meleset.
Kalau kamu fans lama yang cuma ingin lihat Ryu, Ken, Guile, dan kawan-kawan saling hajar dengan gaya khas 90-an, film ini kemungkinan besar bakal menghibur. Ajak teman satu geng, jangan pasang ekspektasi tinggi soal cerita, dan nikmati saja kekacauannya.
Tapi kalau kamu berharap adaptasi game yang solid secara cerita, siap-siap kecewa. Dan kalau mau ajak adik atau keponakan, perlu diingat humornya cukup nyeleneh untuk ukuran rating 13+.

