Review Digimon Survive -Visual Novel dengan Cerita Menggugah dan Gelap


Tidak seperti banyak game pendahulunya, Digimon Survive lebih mengutamakan elemen visual novel dan ceritanya yang memang menarik.

review-digimon-survive-featured

Tidak seperti serial lain di genre yang sama, Digimon adalah serial game dan anime yang terbilang unik. Meskipun awalnya lahir dengan tujuan menjual mainan ke anak-anak, game maupun anime-nya selalu membawa cerita yang unik, lebih dewasa, dan kadang membawa tema yang gelap. Lalu dari segi game, Digimon selalu membawa formula yang berbeda dari satu game ke game berikutnya.

BACA JUGA: Pokemon Scarlet & Violet Janjikan Dunia Terbuka yang Lebih Bebas

Hal yang sama juga berlaku untuk Digimon Survive, baik dari segi cerita maupun gameplay. Tapi jika dulu Digimon selalu membawa porsi cerita dan gameplay yang cukup seimbang, game yang satu ini lebih fokus membawa cerita.

Cerita yang Menarik dan Tidak Setengah-Setengah

review-digimon-survive-free-time

Cerita Digimon Survive membawa premis yang jadi ciri khas di serial Digimon: sekelompok anak terdampar di sebuah tempat asing tanpa mereka ketahui penyebabnya. Tempat ini juga dihuni Digimon, beberapa di antaranya baik dan mau berteman dengan anak-anak tersebut, tapi tidak sedikit yang punya niat jahat. Anaka-anak tersebut beserta teman Digimon mereka kemudian berjuang mengalahkan Digimon jahat tersebut sambil mencari cara untuk kembali ke rumah.

Digimon Survive sendiri merupakan game visual novel dengan elemen gameplay tactical RPG sebagai pelengkapnya. Sebagai visual novel, premis dan alur cerita di atas jadi pemeran utama dan mengambil mayoritas waktu bermainmu. Tapi meskipun premisnya sederhana, cerita di game ini tidak pernah membosankan.

review-digimon-survive-percakapan

Game ini tidak tanggung-tanggung dalam membawa topik yang berat. “Terjebak di dunia asing” di sini bukanlah sebuah petualangan seru penuh keajaiban. Anak-anak yang terdampar di dunia ini punya kepribadian yang unik dan jauh dari sempurna. Dihadapkan dengan situasi yang penuh tanda tanya dan mengancam, masing-masing punya reaksi dan tanggapan yang berbeda. Ada yang bersama Digimon partner-nya perlahan jadi lebih baik, ada juga yang perlu proses yang sangat lama dan tidak menyenangka, atau bahkan mengalami nasib naas.

Cerita di game ini penuh dengan hal yang tidak diduga dan menelusuri kepribadian setiap karakternya. Saya sendiri sesekali jengkel dengan perilaku beberapa karakter yang sangat jelas sedang gelap mata, tapi saya rasa itu jadi bukti bahwa game ini sukses dalam membawa cerita dan karakternya. Karena itu meskipun ada momen dan percakapan yang terkesan tidak perlu atau tidak konsisten, cerita dalam game ini secara keseluruhan sangat menarik untuk disimak, baik dari segi plot maupun karakternya.

Combat yang Murni Hanya Selingan

review-digimon-survive-affinity

Meskipun fokus pada cerita, game visual novel tetap perlu elemen gameplay yang lain, terutama untuk sebuah game Digimon. Jika tidak, hanya menelusuri cerita yang linier akan terasa membosankan bagi banyak orang.

Digimon Survive sendiri punya sistem Affinity yang terikat pada percakapanmu dengan setiap karakter. Menjawab pertanyaan karakter dengan jawaban tertentu akan menambah Affinity-mu terhadap karakter tersebut, dan tergantung dari apa yang kamu lakukan di percakapan sepanjang permainan, alur cerita yang kamu dapatkan akan berbeda.

Agar mendapatkan alur cerita yang ideal, kamu mungkin berpikir untuk rajin mengajak setiap karakter ngobrol. Tapi dalam setiap chapter, kamu hanya punya satu atau dua sesi ngobrol. Tidak hanya itu berapa kali kamu bisa ngobrol dengan karakter lain di setiap sesi juga cukup terbatas. Artinya kamu harus mempertimbangkan siapa yang harus kamu ajak bicara.

review-digimon-survive-pilihan

Tidak hanya itu, alur cerita ini juga akan jadi semakin bercabang di New Game+ alias setelah kamu menamatkan game ini sekali. Artinya kamu punya alasan untuk bermain lebih dari sekali.

Selain mengikuti cerita dan berinteraksi dengan karakter yang ada, kamu akan bertarung dengan Digimon partner-mu menghadapi Digimon jahat. Sayangnya meskipun oke, elemen gameplay yang satu ini punya banyak kekurangan.

Menggunakan sistem tactical RPG, game ini tidak punya elemen yang benar-benar unik. Setiap karakter punya level, atribut, tipe, dan elemen yang jadi kelebihan dan kekurangan. Tapi progres level yang kamu dapatkan untuk setiap Digimon terasa tidak berarti sama sekali. Ini karena setiap level hanya akan memberikanmu bonus atribut. Kamu tidak akan mendapatkan jurus baru dan satu-satunya cara untuk mendapatkan jurus tambahan adalah dengan menggunakan item. Lalu untuk evolusi, setiap Digimon parter akan berevolusi seiring jalannya cerita.

review-digimon-survive-comba

Kamu juga bisa mengajak Digimon liar agar mau bertarung untukmu. Mereka juga punya sistem level dan atribut yang sama. Tapi sekali lagi, agar bisa berevolusi, mereka hanya perlu diberi item khusus tanpa harus memenuhi syarat level tertentu. Tidak hanya itu, karena Experience diberikan merata ke semua Digimon terlepas dari siapapun yang memberikan kontribusi terbesar, Digimon-mu akan jadi terlalu kuat dalam waktu yang relatif cepat.

Singkatnya, combat di game ini memang murni berperan sebagai selingan dan sama sekali tidak berupaya untuk menantangmu dalam berpikir dan meramu strategi.

review-digimon-survive-level

Apakah Digimon Survive layak untuk kamu beli dan nikmati? Jawabannya tergantung pada preferensi game yang kamu mainkan. Jika kamu adalah penggemar game visual novel atau suka dengan cerita yang menarik, lebih dewasa, dan kadang menyeramkan, game ini jelas wajib kamu coba. Tapi jika kamu lebih mencari game tactical RPG yang menantang otak dan kemampuan strategimu, Digimon Survive sepertinya tidak akan bisa memenuhi keinginan tersebut.


Kaoru

Hmmm...