Review Coffee Talk – Cerita Pascasenja, dari Kopi Turun ke Hati

Pernahkah kamu rasakan nikmatnya menyeruput minuman hangat di kala hari sedang hujan? Memainkan Coffee Talk, kurang lebih rasanya seperti itu.


Tidak banyak hal menarik yang bisa kita lakukan ketika hari sedang hujan. Sebagian—atau mungkin kebanyakan—orang akan memilih menghabiskan waktu bersama gawai elektronik kesayangan, menanti kira-kira hujan berhenti kapan gerangan. Tapi tak jarang, hujan datang sambil membawa sesuatu yang berbeda. Menghanyutkan suasana, lebih dari sekadar ruang yang jadi serba basah, situasi hati mereka-mereka di dalamnya juga turut berubah. Dari tadinya cerah lagi ceria, berangsur haru lalu membiru.

Baca Juga: Franchise Game yang Melakukan Lompatan Grafis Paling Signifikan

Saat tiba hujan yang demikian, menyeruput secangkir minuman hangat rasanya akan sebelas dua belas dengan berjumpa sahabat lama. Seiring kopi, teh, atau susu cokelat mengalir menjamah kerongkongan, segala penat dan pikiran turut terbasuh, menjadikan beban jiwa sedikit lebih ringan. “Kau aman ada bersamaku,” kata si kopi andai ia bisa bicara. Aman dan nyaman, setidaknya selama satu momen itu. Momen yang menghasut kita untuk berdoa pada Tuhan agar hujan tak lekas berhenti.

Memainkan Coffee Talk, rasanya seperti berada di dalam momen tersebut untuk waktu yang lama. Seperti diselimuti oleh sesuatu yang hangat, sementara segala sesuatu di sekitar berjalan lambat. Jika memang tujuan kreatornya adalah menciptakan ulang suasana itu, mereka telah berhasil dengan nilai sempurna. Tetapi kita juga tidak boleh lupa, bahwa hal-hal yang baru, belum tentu disukai semua orang.

Kisah dari Dimensi Sebelah

Coffee Talk adalah visual novel buatan Toge Productions yang mengambil inspirasi dari VA-11 Hall-A, karya Sukeban Games yang dirilis tahun 2016 silam. Genre, gameplay, sampai gaya visualnya pun mirip-mirip, tapi tentu dengan berbagai perbedaan yang membuat Coffee Talk punya identitas sendiri.

Sebagai contoh, VA-11 Hall-A menempatkanmu dalam posisi bartender, sementara di Coffee Talk kamu berperan sebagai seorang barista. Kalau cerita VA-11 Hall-A mengambil latar belakang dystopian cyberpunk, Coffee Talk justru masuk dalam kategori urban fantasy. Kamu adalah barista sekaligus pemilik sebuah kafe yang berlokasi di kota Seattle, Amerika Serikat. Tapi dunia tempatmu berada tidak hanya dihuni oleh manusia. Di dalamnya juga hidup vampir peminum darah, manusia serigala, manusia ikan, manusia kucing, dan sebagainya.

Disajikan dalam sudut pandang orang pertama, Coffee Talk memberikan kita kebebasan untuk membayangkan sebenarnya sosok si barista ini seperti apa. Kepribadiannya pun cenderung netral, dan ia lebih banyak mendengar daripada bicara. Ada beberapa karakteristik yang terlihat di permukaan, misalnya bahwa si barista ini adalah orang yang sangat perhatian pada para pelanggannya. Tapi bagaimana penampilan dan sifat si barista secara keseluruhan, imajinasimu dipersilahkan menjawabnya sendiri.

Apa pekerjaan seorang barista? Dasarnya sudah jelas: membuat minuman, terutama minuman berbasis kopi. Namun berada seharian di belakang counter, sedikit banyak kamu akan mencuri dengar pembicaraan para pelanggan. Atau malah bercengkerama dengan mereka, kalau mereka sedang butuh teman. Aksi tukar-menukar cerita inilah inti dari Coffee Talk, sesekali kamu memang membuat Coffee tapi sebagian besar waktu dihabiskan untuk Talk.

Hanya buka malam hari hingga menjelang pagi, kafe milikmu kerap jadi tempat singgah para pelanggan yang jumlahnya tak banyak namun setia. Mereka datang mencari tempat tenang untuk bekerja, lokasi janji bertemu, atau karena dengar kabar bahwa minuman buatanmu cukup layak dicoba. Dan setiap pelanggan itu punya kisah, masalah, juga keluh kesah masing-masing. Kadang ada juga pelanggan yang hanya datang minum lalu pergi. Tapi lebih sering mereka menikmati suguhan bersama sebuah pembicaraan.

Sering, keterlibatanmu dalam obrolan tak bisa dihindari. Entah mereka memang mengajakmu berbicara atau karena kamu tak sengaja mendengar percakapan mereka, yang pasti antara dirimu dan pelanggan akan terjadi sebuah interaksi. Mungkin langgananmu yang bernama Freya datang untuk curhat seputar pekerjaannya, atau mungkin kamu mencuri dengar argumen sepasang kekasih tentang problem asmara. Sekali waktu Jorji si polisi butuh minuman hangat karena ia tak enak badan, lain hari kafemu didatangi gadis muda yang baru bertengkar dengan orang tuanya dan kini sedang dalam pelarian.

Tiap tokoh dalam Coffee Talk memang hanya karakter fiksi, namun masalah-masalah yang mereka hadapi terasa nyata dan bisa jadi pernah juga kita alami di keseharian. Relatable, kalau kata orang londo, walaupun tentu saja your mileage may vary. Beberapa di antara pelanggan itu punya tanduk, sirip, atau kulit pucat bagai rembulan, tapi kisah-kisah yang mereka sampaikan sangat manusiawi.

Menyentuh Hati Lewat Secangkir Kopi

Sebagai sebuah game, Coffee Talk punya keunikan dibandingkan visual novel kebanyakan. Kalau biasanya kita menentukan cerita dengan cara memilih suatu dialog, dalam Coffee Talk cerita justru berubah tergantung dari minuman apa yang kita buat. Minuman dipercaya dapat mengubah suasana hati, dan Toge Productions mengimplementasikan hal itu secara literal.

Proses peracikan minuman itu sendiri sederhana, tapi cukup menantang karena banyaknya kemungkinan yang bisa dihasilkan. Kamu bisa memilih satu dari lima bahan dasar minuman: kopi, teh, teh hijau, cokelat, atau susu; kemudian mengkombinasikannya dengan sejumlah variasi bahan lain seperti mint, madu, jahe, dan sebagainya. Salah takaran bahan maka racikanmu akan gagal, dan kamu hanya boleh membuang minuman sebanyak maksimal lima kali dalam satu hari.

Terkadang pesanan dari pelanggan cukup mudah dimengerti, seperti Freya Fatima yang pesan Espresso hampir setiap hari. Tapi tak jarang juga ada pesanan yang membuatmu harus berpikir. “Tolong berikan aku minuman yang dingin tapi sekaligus juga hangat,” kata pelanggan suatu ketika, misalnya. Pesanan kerap kali terasa seperti sebuah teka-teki, dan jelas jawabannya tidak sesederhana meracik Es Teh Panas.

Menariknya, jenis-jenis minuman yang ada dalam game ini sering kali berkaitan dengan kepribadian si pemesan. Kamu juga jadi bisa berkenalan dengan bermacam-macam jenis minuman dari berbagai belahan dunia, yang mungkin beberapa di antaranya belum pernah kamu dengar. Sugar and Spice, Lemon Snippet, atau Midsummer Night’s Dream contohnya. Untuk pemain di belahan dunia lain, Toge Productions tak lupa menyisipkan perkenalan terhadap jenis-jenis minuman yang ada di Asia Tenggara. Seperti Teh Tarik, STMJ, hingga Jahe Tubruk.

Sistem permainan berbasis racikan minuman ini menjadikan Coffee Talk sebuah visual novel yang cukup unik dan mengajak kita untuk memperhatikan setiap kalimat secara detail. Tak hanya harus menganalisis minuman apa yang mesti disajikan, kita juga perlu mencari tahu bagaimana cara meracik minuman itu. Kamu memiliki sebuah smartphone yang bisa digunakan untuk mencatat resep-resep minuman, tapi sebelum kamu menemukan resepnya, tak ada cara selain menerka-nerka. Jangan kira gampang, lo! Gimbot pun sempat perlu membuka guide untuk mencari tahu minuman apa yang tepat di beberapa pesanan.

Aku, Kamu, Kita, dalam Sebuah Cerita

Keberhasilan (atau kegagalan) menyajikan minuman akan memicu terjadinya event tertentu, dan akhirnya menentukan ending seperti apa yang kamu dapatkan. Memang variasi ending yang ada tidak terlalu banyak, tapi Toge Productions memberikan plot twist cukup menarik yang mengaitkan sistem gameplay ke dalam cerita. Kalau kamu sudah menamatkan Coffee Talk, memainkannya untuk kedua kali bisa jadi akan membuatmu memandang ceritanya dengan cara berbeda. Tidak sampai radikal seperti An Octave Higher perubahan ceritanya, tapi sudah cukup berkesan.

Mungkin satu kekurangan yang ada dalam Coffee Talk, yang sebenarnya Gimbot ragu untuk menyebutnya sebagai kekurangan, adalah durasi. Kalau kamu main ngebut, game ini bisa ditamatkan dalam waktu dua atau tiga jam saja. Pasti akan ada orang yang mengeluhkan bahwa konten Coffee Talk terlalu pendek, namun mengingat harganya hanya Rp83.999 (versi Steam) keluhan tadi jadi tak begitu berarti.

Gimbot merasa main ngebut bukanlah “cara yang benar” untuk menikmati Coffee Talk. Game ini hadir sebagai pengejawantahan nikmatnya bersantai di hari hujan, bukan pacuan adrenalin di sirkuit balapan. Jadi sebaiknya kamu pun menikmatinya dengan cara yang santai. Atur kecepatan teks sesuai keinginan lalu nyalakan mode percakapan otomatis, setelah itu duduklah sambil mendengarkan tokoh-tokoh Coffee Talk bergosip ria. Lebih afdal, dibarengi menikmati secangkir kopi juga.

Agak kontradiktif dari game yang merupakan media interaktif, kesenangan terbesar dari Coffee Talk justru Gimbot rasakan ketika pemain sedang tidak ikut berpartisipasi. Kesenangan itu hadir dari mendengarkan kisah-kisah para karakternya, melihat bagaimana mereka berdebat, berpikir, dan berkontemplasi. Bertengkar, bercanda, atau bercurah isi hati. Bukan sesuatu yang lazim, Coffee Talk adalah game yang mengajakmu mengapresiasi nikmatnya berdiam diri.

Kalau boleh menciptakan nama genre sendiri, Gimbot akan menyebut game ini sebagai sebuah “conversation listening simulator”. Entah nama genre itu masuk akal atau tidak, namun demikianlah kata-kata yang paling cocok untuk menggambarkan Coffee Talk. Sekarang pertanyaannya tinggal, apakah deskripsi itu sesuai dengan apa yang sedang kamu cari dari sebuah game, atau tidak?

Steam: Coffee Talk, Rp83.999

Nintendo Switch: Coffee Talk, US$12,99

PS Store: Coffee Talk, US$13,99


Ayyub Mustofa

Jarang main game sampai tamat kecuali untuk review. Menyukai hampir semua genre, dan hingga kini masih menunggu kemunculan Megaman X9.