Bagaimana Pokémon Mengenalkan Konsep Self-Learning AI pada Anak-Anak


Game bisa jadi medium untuk mengenalkan wawasan baru kepada pemainnya. Contohnya seperti yang dilakukan Nintendo lewat Pokémon Sun and Moon.

Gimbot selalu percaya bahwa video game punya manfaat untuk membuat pemainnya jadi lebih pintar. Tentu pintar yang dimaksud di sini bukan pintar dalam hal pelajaran sekolah—jago main Mobile Legends tidak akan membuatmu mendadak ahli matematika—tapi video game dapat mengenalkan kita pada segudang wawasan baru yang mungkin tidak kita temui dalam kehidupan atau obrolan sehari-hari. Kurang lebih sama saja seperti wawasan yang kita dapat ketika membaca buku, hanya saja mediumnya berbeda.

Penambahan wawasan adalah hal yang berguna bagi semua orang, tapi punya pengaruh khusus untuk anak-anak. Ketika seorang anak merasakan bahwa mengetahui hal baru itu menyenangkan, minat dan rasa “lapar” untuk belajar itu bisa tertanam seumur hidup. Mungkin kamu kenal orang-orang yang hobi membaca di masa dewasanya, ternyata sejak kecil memang dibiasakan untuk membaca. Hal yang sama, juga berlaku untuk video game.

Rotom Dex

Nintendo dan Game Freak adalah contoh penerbit dan developer yang pernah melakukan hal menarik dalam pemanfaatan video game sebagai medium edukasi. Di dalam game serta serial animasi Pokémon Sun and Moon, mereka memperkenalkan sebuah gadget yang cukup menarik, bernama Rotom Dex.

Fungsi dasar Rotom Dex ini sama dengan Pokédex biasa, yaitu alat penyimpan segala macam data tentang Pokémon. Namun bedanya, Rotom Dex adalah gadget yang “hidup”, dan dapat belajar tentang hal baru dengan cara mengumpulkan data dari lingkungan sekitarnya. Ya, Rotom Dex adalah komputer dengan kecerdasan buatan yang mampu belajar secara mandiri, dengan kata lain, sebuah self-learning artificial intelligence (AI).

Sebenarnya sih, secara cerita Rotom Dex adalah sebuah Pokédex yang menyatu dengan Pokémon listrik, Rotom. Jadi Rotom Dex ini separuh komputer dan separuh makhluk hidup. Tapi dalam cerita serial animasi Pokémon Sun and Moon, Nintendo cenderung menonjolkan identitas Rotom Dex sebagai sebuah alat. Mulai dari gaya bicaranya yang kaku seperti robot, hingga karakter profesor yang menyebutnya dengan istilah “item”.

BACA JUGA: Rekap Berita Esports dalam Sepekan – 6 Januari 2020

Lalu apa saja yang bisa dilakukan oleh Rotom Dex? Selain dapat bicara dan berpikir seperti seorang manusia, benda ini dapat mengenali Pokémon maupun orang-orang dengan cara mengambil gambarnya. Rotom Dex juga selalu memantau Pokémon yang ada di sekitarnya, kemudian melakukan update data bila Pokémon tersebut melakukan hal baru yang belum diketahui.

Yang paling kocak, Rotom Dex dapat mempelajari gaya bicara orang lain, kemudian mempelajari istilah-istilah (slang) baru dan meniru gaya bicara mereka. Ketika bertemu dengan Professor Oak yang gemar membuat pelesetan dari nama-nama Pokémon, Rotom Dex menirunya dengan mengucapkan pelesetan-pelesetan serupa.

Di dalam game Pokémon Sun and Moon, Rotom Dex memiliki fitur berupa kepribadian yang dapat berubah sesuai aksi-aksi yang kita ambil. Bila kita sering bertarung melawan Pokémon lain misalnya, Rotom Dex akan berubah menjadi cenderung lebih agresif. Rotom Dex juga bisa menunjukkan ekspresi sedih atau senang, dan bila kita memperlakukannya dengan baik, Rotom Dex akan memberikan imbalan berupa item tertentu.

Rotom Dex versi game | Sumber: Siliconera

Dengan memasukkan Rotom Dex ke dalam cerita, Nintendo dan Game Freak secara tak langsung mengajak para penggemar Pokémon untuk berkenalan dengan berbagai konsep yang ada di dunia kecerdasan buatan. Hal-hal seperti image recognition, speech recognition, natural language processing, self-learning, hingga artificial personality, muncul dalam perilaku-perilaku Rotom Dex. Terlebih Rotom Dex bukan sekadar figuran, tapi salah satu karakter utama yang selalu ada di sisi Ash. Kemampuan-kemampuan Rotom Dex kerap kali jadi topik yang menonjol di episode-episode serial animasi Pokémon Sun and Moon.

Bagi penggemar Pokémon yang sudah dewasa, apalagi yang update terhadap perkembangan teknologi, melihat Rotom Dex mungkin rasanya biasa saja. Tapi jangan lupa bahwa Pokémon adalah hiburan yang ditujukan untuk anak-anak. Bagi mereka yang berusia lima, enam, atau tujuh tahun, melihat Rotom Dex bisa jadi sama mengherankannya dengan melihat Doraemon untuk pertama kali.

Memperkenalkan konsep self-learning AI pada anak-anak jelas bukan hal mudah—bahkan Ash sendiri pun berkata bahwa dia tidak begitu mengerti cara kerja Rotom Dex—tapi penyajian seperti ini dapat memperluas wawasan mereka dengan cara yang menyenangkan. Malah jangan-jangan anak-anak itu tidak sadar bahwa mereka sebenarnya sedang belajar!

Kecerdasan buatan adalah bidang keilmuan yang sedang naik daun dalam beberapa tahun terakhir. Nintendo dan Game Freak tampaknya memahami hal ini, sehingga mereka menciptakan karakter Rotom Dex untuk memperkenalkan tren teknologi tersebut kepada masyarakat. Salah satu karakter di serial animasi Pokémon Sun and Moon juga adalah anak yang menyukai pemrograman, persis seperti tren dunia pendidikan sekarang yang mulai banyak mengenalkan programming ke pelajar usia belia.

Mungkin suatu hari akan ada penggemar Pokémon Sun and Moon yang terinspirasi olehnya untuk menjadi programmer juga. Dan suatu hari ketika mereka bertemu dengan kecerdasan buatan yang sebenarnya, mungkin saja mereka akan teringat, “Oh, ini kan mirip dengan Rotom Dex!” Mempelajari tentang dunia dengan cara seperti ini, rasanya menyenangkan sekali, bukan?


Ayyub Mustofa

Jarang main game sampai tamat kecuali untuk review. Menyukai hampir semua genre, dan hingga kini masih menunggu kemunculan Megaman X9.