[OPINI] Seberapa Relevan Game Remake di Zaman Sekarang?


Remake saat ini memang kerap menjadi tren. Sehingga Gimbot menyebut jika remake adalah senjata marketing terbaru di dunia video game.

Opini Game Remake

Wah, rasa-rasanya sudah lama tidak menulis opini di Gimbot.com. Kali ini saya kumpulkan niat untuk menulis opini mengenai remake. Hampir semua gamer di Indonesia pasti sudah paham dengan kata remake yang berarti dibuat ulang. Untuk menyegarkan pikiran kembali, saya mau kasih tahu dulu soal remake dan remaster.

Karena terkadang masih banyak yang salah arti di mana remake itu sama dengan remaster. Padahal keduanya berbeda dan singkatnya, remake adalah pembuatan ulang sebuah karya agar lebih fresh sedangkan remaster hanya menyempurnakan di beberapa sisi tanpa mengubah apapun yang ada di dalam game-nya kecuali visual biasanya.

Kembali ke soal remake, saat ini para developer memang kerap melakukan hal tersebut pada karya-karya lawas mereka. Dengan bermodalkan pondasi yang sudah solid, remake tentu akan lebih mudah diterima daripada membuat IP baru. Ajaibnya, mayoritas game versi remake selalu sukses di pasaran dan hampir selalu mendapatkan respons positif ketika meluncur.

Mungkin hanya beberapa persen saja yang tidak sukses di pasaran. Formula remake ini saking ajaibnya bisa dikatakan menjadi senjata marketing baru yang benar-benar efektif. Ya, jualan nostalgia kini sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh developer. Dengan nostalgia, mereka bisa menggenjot penjualan game dengan sangat masif.

Namun meski begitu, kenyataannya formula remake jika dilakukan berlebihan dikatakan akan membuat dunia game menjadi negatif. Benarkah demikian?

Bukti Jualan Nostalgia itu Menguntungkan

Formula remake sebenarnya lebih dulu diperkenalkan oleh industri film atau televisi. Biasanya para produser atau orang-orang yang terlibat di industri itu melakukan remake demi membuat penonton mendapatkan sensasi baru pada film lawas kesayangan mereka. Modifikasinya bermacam-macam bisa dari cerita yang dibuat sedikit berbeda, penambahan karakter, sampai visualnya yang dipercantik.

Sama! Di industri game juga kurang lebih seperti itu di mana para developer kembali mengangkat game lama mereka namun dengan vermak sana sini hingga membuat gamer merasakan sensasi berbeda dari game lawas tersebut.

Crash Bandicoot, Spyro the Dragon, Final Fantasy VII, Resident Evil 2, Resident Evil 3, atau The Legend of Zelda merupakan contoh game yang cukup sukses di remake. Bahkan dari game yang saya sebutkan di atas,beberapa diantaranya berhasil memecahkan rekor di console PlayStation 4 sebagai game dengan penjualan tercepat.

Tentu seperti yang saya bilang, nostalgia menjadi ujung tombak agar game tersebut laku keras. Tentunya opini saya ini didukung dari kalimat Asisten Profesor Bahasa Inggris di Regis University sekaligus penulis buku Super Mario Bros. 3, Alyse Knorr.

Menurut Knorr, faktor nostalgia memang menjadi hal yang luar biasa dalam penjualan video game. Pasalnya, orang yang sudah tua sekalipun akan merasakan seperti anak kecil lagi, sama seperti ketika mereka menjajal game itu pertama kalinya.

“Mengunjungi hal yang berbau virtual memang bisa membuat nostalgia menjadi lebih kuat. Kalian akan kembali ke masa itu, masa di mana kalian masih anak-anak,” tuturnya.

Menguntungkannya nostalgia bisa didukung juga dengan angka penjualan game-game remake yang gila-gilaan. Resident Evil 2: Remake mampu terjual sebanyak 6,6 juta copy di seluruh dunia bahkan melebihi versi aslinya. Bahkan segagal-gagalnya Resident Evil 3 di pasaran, game ini masih sanggup terjual hingga 2,5 juta copy, padahal baru dirilis bulan April lalu.

Dengan konsep remake dan branding nostalgia, para developer juga tidak hanya menjual dan membuat kembali game, melainkan juga membuat ulang console yang dianggap memorable. Nintendo pertama kali melakukan terobosan ini dengan menjual replikas console NES. Banyak yang tertarik dengan ide tersebut dan lagi-lagi console itu laris manis. Langkah ini kemudian diikuti oleh Sega dan Sony yang juga membuat console memorable mereka, sama seperti Nintendo.

Menurut Direktur Riset Game dan VR/AR dari Firma Riset Pasar Teknologi IDC, Lewis Ward, nostalgia memang menjadi daya tarik tersendiri buat para gamer sehingga jika yang dijual barang berusia 10 atau 20 tahun yang dibuat kembali, otomatis laku-laku saja.

“Menyaksikan sebuah hal yang tidak lama dilihat, itu akan membuat gelombang nostalgia hadir dengan sangat kuat. Ini membuka kesempatan untuk menjualnya kepada para penggemar lama dan juga penggemar baru yang tak pernah memainkannya,” ucapnya.

Punya Kontradiksi

Meskipun remake menjadi trik marketing baru saat ini yang sudah jelas akan menguntungkan, tapi di sisi lain, ada gelombang kontradiksi yang juga menyelimuti metode remake ini. Menurut beberapa orang, melakukan remake terus menerus akan menghambat kreatifitas. Saya sendiri setuju dengan ungkapan ini karena meskipun membuat karya dari awal lagi, tapi tetap saja developer sudah punya ide mumpuni misalnya dari sisi cerita yang sudah pasti disukai oleh gamer dan juga karakter di dalam game yang sudah punya modal kuat.

BACA JUGA: Game Ini Rela Melakukan Hal Unik Demi Mengalahkan Pemain

Berbeda dengan membuat IP baru yang ceritanya harus dipikirkan secara matang karena dibuat dari awal dan juga pembuatan karakter yang sangat mungkin nantinya dibenci oleh para gamer karena tidak sesuai dengan keinginan mereka. Namun saya sendiri meski setuju tidak setuju 100 persen.

Karena menurut saya, yang betul-betul membuat inovasi di dalam industri game melambat adalah remaster. Benar, remaster tidak mengubah apapun kecuali visual yang menyesuaikan dengan kemampuan console masa kini. Penambahan kontennya pun biasanya menambahkan konten yang sudah ada.

Bedanya, jika dulu dipecah menjadi beberapa bagian, di versi remaster, semuanya disatukan dalam satu paket game. Benar-benar buruk bukan?

Tugas Melakukan Remake itu Berat

Bagi yang mengatakan jika membuat game remake adalah hal mudah, mungkin mereka harus berpikir kembali. Produser dan Pengembang Game di Capcom, Peter Fabiano pernah mengatakan jika remake adalah tugas berat yang bahkan jauh melebihi remake di industri film.

Menurutnya, melakukan remake artinya harus menciptakan sesuatu yang lebih dahsyat dibandingkan versi aslinya. Oleh sebab itu, melakukan remake adalah melakukan proses dari nol di mana developer akan menciptakan sebuah aset baru agar game lama itu menjadi game kekinian.

“Tidak seperti film, kita tidak hanya mengadaptasi ulang cerita dan memperbagus gambar. Kami juga menciptakan aset dari awal dan bekerja dengan penuh tantangan serta risiko,” tuturnya.

Belum lagi karena menciptakan segalanya dari awal, para developer harus mempersiapkan budget fantastis yang jumlahnya tidak main-main. Anggarannya bahkan sama seperti membuat film Hollywood. Bagi developer dengan budget minim, membuat remake akan benar-benar menciptakan risiko untuk studio mereka.

Final Fantasy VII Remake menghabiskan anggaran sekitar US$140 juta. Hal ini diungkapkan oleh Atul Goyal, Direktur Pelaksana di Bank Investasi Jefferies & Company. Jumlah ini memang bisa dimengerti karena pasalnya, Final Fantasy VII Remake benar-benar mengubah segalanya mulai dari karakter yang punya dimensi baru, engine game, suara, hingga soundtrack semua dibuat ulang,

Mau contoh lagi? Resident Evil 2 Remake juga menghabiskan budget besar yaitu sekitar US$100 juta karena menciptakan segalanya dari awal. Sedangkan Resident Evil 3 Remake, budget-nya mungkin sedikit lebih murah karena Capcom sudah punya aset dari hasil pembuatan Resident Evil 2 Remake seperti engine dan sebagainya.

Dengan budget sebesar itu, tuntutan untuk sukses jelas merupakan kewajiban. Karena jika tidak, mereka bisa saja mengalami kerugian fantastis yang sampai mengguncang kesehatan finansial developer itu sendiri.

Kesimpulan

Nostalgia memang saat ini sedang jadi tren dan banyak developer yang terinspirasi dengan langkah ini. Namun jika terus menjual nostalgia, hal ini akan membuat beberapa bagian dari industri game mengalami stagnan. Selain itu, proyek remake juga penuh risiko karena ada harapan gamer untuk mendapat sesuatu yang lebih besar dari sebelumnya.

Yang jelas, seperti judul saya di atas, terlepas dari pro dan kontra, remake memang berhasil menjadi senjata marketing baru yang luar biasa.


Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Will Ramos