Nostalgia Review Metro 2033 Redux: Tak Basi, Tetap Menawan!


Lima tahun berselang, Gimbot kembali memainkan Metro 2033 versi Redux. Game ini tak basi dan tetap menawan untuk dimainkan kembali.

Metro 2033 Redux

Metro 2033 merupakan sebuah game yang pernah diracik oleh developer bernama 4A Games dan diluncurkan tahun 2010. Ketika pertama kali dirilis, kesan pertama yang diberikan gamer untuk game ini adalah grafisnya sangat-sangat berat pada saat itu khususnya versi PC.

Banyak efek tak biasa yang disematkan oleh 4A Games selaku developer sehingga membuat Metro 2033 berada di level grafis yang berbeda dibandingkan game seangkatannya. Ketika PlayStation 4 meluncur, Metro 2033 dipoles sehingga keluarlah versi lebih menawannya. Tak hanya satu, melainkan bersama sekuelnya, Metro: Last Light.

BACA JUGA: Nostalgia Review Grand Theft Auto IV: Masih yang Terbaik

4A Games selaku developer serta Deep Silver selaku publisher memberi tajuk Metro Redux. Polesan grafis yang dilakukan juga tidak main-main karena meski game tersebut lawas, 4A Games masih bisa memeras grafis kedua game ini hingga setara dengan game-game PlayStation 4 di awal-awal console ini hadir.

Lima tahun berselang, Gimbot kembali memainkan Metro 2033 versi Redux. Lantas pengalaman apa yang Gimbot temukan? Kenapa Gimbot mengatakan bahwa game ini tak basi serta tetap menawan? Berikut ulasannya.

Note: gameplay menggunakan PC set mentok kanan

Perkenalan Awal Sebelum Menjelajah Metro: Exodus

Metro 2033 Redux

Yang membuat Gimbot kembali memainkan seri Metro 2033 Redux tentu saja karena Gimbot ingin kembali mengetahui cerita Metro sebelum memainkan Metro: Exodus. Bukan rahasia lagi jika game yang satu ini menjadikan cerita sebagai salah satu pengalaman terbaik untuk dinikmati.

Dengan setting Moscow pasca perang nuklir, gamer bisa merasakan sensasi susahnya hidup di Stasiun Bawah Tanah Metro sambil bertahan hidup dari makhluk-makhluk mutasi di dunia atas. Tak hanya itu saja, beberapa orang juga membuat geng-geng tertentu untuk menyerang orang lain di Metro.

Kisah yang pelik dan getir ini berhasil dipresentasikan dengan baik oleh 4A Games selaku developer. Mereka berhasil memberikan gambaran soal Metro yang kondisinya sangat menyedihkan. Sebagai game yang diangkat dari novel Dmitry Glukhovsky dengan judul yang sama, memainkan Metro 2033 Redux terasa seperti menyelami konflik yang terjadi dalam novel asal Rusia tersebut.

Di awal-awal Metro: Exodus, 4A Games memang memberikan ringkasan cerita mengenai kisah dari Metro. Tapi tentu saja memainkan game-nya kembali dari awal bakal memberikan sensasi cerita yang lebih dalam. Gamer juga bakal mengetahui asal usul cerita Metro dan rahasia apa saja yang ada di dalamnya terutama soal makhluk Dark Ones.

Gameplay Masih Relevan di Tahun 2019

Metro 2033 Redux

Yang cukup menarik dibahas selanjutnya dari revisit Metro 2033 tentu saja soal gameplay-nya. Game ini memiliki mekanisme gameplay seperti game FPS kebanyakan. Tapi bedanya, Metro 2033 Redux sedikit tidak linier karena gamer bisa melakukan hal lain terlebih dahulu sebelum menyelesaikan misi utama.

Kalian bisa berjalan-jalan dulu atau bermain mini games sebelum akhirnya melanjutkan misi utama. Eksplorasi juga digarap lebih luas dibandingkan game FPS kebanyakan. Menariknya, eksplorasi luas ini didukung oleh fitur Kompas sehingga jika kalian nyasar, kalian bisa mengikuti Kompas yang kalian miliki agar bisa melanjutkan perjalanan.

BACA JUGA: 5 Hal Konyol yang Sering Dilakukan Orang di Game Grand Theft Auto

Di samping itu, yang unik selanjutnya adalah fitur Gas Mask. Item yang satu ini menjadi item penting karena ada beberapa tempat yang mengharuskan kalian menggunakan Gas Mask. Item ini juga memiliki durasi tertentu dan jika sudah habis, kalian diwajibkan mengganti filter dari Gas Mask ini. Bagaimana jika tidak ganti? Sang jagoan bakal terkena damage.

Fitur gameplay yang unik tersebut nyatanya masih cukup relevan di tahun 2019. Tidak ada kesan ketinggalan zaman di sini. Metro 2033 Redux tetap berdiri seperti layaknya sebuah game baru meski kenyataannya sudah dirilis lima tahun silam.

Bedanya Versi Redux dan Original

Metro 2033 Redux

Lantas, apa bedanya versi Redux dan versi standar? Tentunya perbedaan paling mencolok ada dari sisi grafis. Pertama, detail karakter di versi Redux lebih terlihat realistis dibandingkan versi Original yang cenderung masih kasar secara detail. Kedua tentu saja dari sisi ambient di mana versi Redux memasukan cahaya lebih detail dibandingkan versi Original. Ada kesan realistis jika kita membahas pantulan-pantulan cahaya di versi Redux baik itu cahaya lampu maupun sinar matahari.

Perbedaan ketiga adalah sang karakter utama, Artyom tidak memiliki sarung tangan di versi Redux sedangkan di versi Original, Artyom menggunakan sarung tangan. Tentu ini adalah masalah selera. Namun buat Gimbot pribadi, ada sarung tangan atau tidak, sama-sama tidak mempengaruhi kualitas dari game ini. Mungkin 4A Games hanya ingin membuat kesan berbeda sehingga mereka kemudian tidak membuat Artyom menggunakan sarung tangan di seri Redux.

Selanjutnya, perbedaan keempat adalah terkadang ada desain karakter yang berbeda. Contohnya, di game ini ada karakter seorang dokter yang berjaga di Stasiun Metro. Si dokter ini memiliki tampilan lebih casual di versi Original sedangkan di versi Redux, sang dokter menggunakan seragam dokter serta atribut-atribut yang menggambarkan bahwa orang tersebut adalah dokter.

BACA JUGA: [TIPS] Berikut Cara Memaksimalkan FPS di Game Control PC

Kelima, perbedaan antara versi Original serta Redux adalah dari detail visual. Di versi Redux, detail visual digarap lebih matang di mana setiap efek partikel serta efek seperti rumput yang bergoyang digarap sangat realistis sehingga menimbulkan kesan dramatis. Di versi Original, efek partikel memang ada, namun rumput terlihat kaku jika tertiup angin.

Terakhir, perbedaan keenam sekaligus paling mencolok antara versi Redux dengan Original adalah efek bayangan. Di Redux, selalu ada efek bayangan jika Artyom terpantul cahaya, sedangkan di versi Original, terkadang tidak ada efek bayangan dan bayangan hanya muncul di momen-momen tertentu saja.

Tentu keenam perbedaan di atas menunjukkan jika versi Redux memang jauh lebih matang dari segi visual dibandingkan versi Original-nya. Tapi untungnya, jika dilihat secara sekilas, perbedaan dari segi visual ini tidak terlalu mencolok, kecuali dari sisi detail visual atau cahaya.

Kesimpulan

Intinya, Metro 2033 Redux masih cukup layak dimainkan oleh gamer. Visual, gameplay, serta ceritanya masih sangat layak dinikmati terutama bagi yang ingin mengetahui jalan cerita game Metro sebelum memainkan Metro: Exodus. Kalian yang mencari game FPS dengan tema berbeda juga bisa menjadikan Metro sebagai sebuah pilihan cerdas.

Apalagi kini game Metro Redux telah mengalami penurunan harga yang cukup signifikan. Gimbot sendiri membeli Metro Redux yang berisikan Metro 2033 serta Metro: Last Light hanya sekitar Rp45 ribu ketika Steam Sale.

Jika berbicara kualitas, Metro 2033 Redux, meski tergolong lawas tetap menyajikan kualitas yang bisa disetarakan dengan game-game kekinian. Apabila kamu melihat game ini berada di etalase diskon Steam maupun PlayStation Store, maka jangan ragu untuk segera membeli Metro 2033 Redux.


Pentombled

Main game gak bakal bikin masa depan suram. Yang bikin suram adalah ketika lo malas berbuat sesuatu! Happy gaming.