Patut diakui bahwa genre Battle Royale memang menjadi genre yang sangat populer di kalangan gamer. Kita bisa lihat dari antusias para gamer untuk memainkan PUBG dan Fortnite. Bahkan ada yang beranggapan, berbagai pemain MOBA pindah haluan untuk menjadi pemain gim Battle Royale.
Battle Royale adalah sebuah gim di mana para pemainnya akan ditempatkan pada sebuah pulau untuk saling berperang. Para pemain akan mengumpulkan berbagai peralatan dan perlengkapan yang tersebar di penjuru pulau.
Nantinya peralatan dan perlengkapan itu digunakan untuk saling berperang.
Meskipun begitu populer, Battle Royale ternyata belum bisa masuk kategori esport secara resmi. Bagaimana bisa sebuah gim yang sangat populer belum menjadi kategori dalam esport? Nah kita coba yuk bahas mengenai hal tersebut.
BACA JUGA: Banting Setir, Ini dia Daftar Brand yang Dukung Tim Esport!
1. Ada Saat di Mana Penonton Merasa Bosan

Sebuah pertandingan yang menarik untuk ditonton, tentu harus menunjukkan sebuah keadaan yang memiliki keseruan yang intens. Kelemahan dari genre Battle Royale adalah banyaknya celah di mana gim akan sering “kosong.”
Eddy Lim, ketua asosiasi esport Indonesia (IeSPA) juga pernah menyampaikan hal ini ketika mengadakan esport di Asian Games 2018 kemarin
Eddy menyampaikan bahwa pertandingan esport memang harus enak untuk disaksikan. Beliau juga mengakui bahwa tim mereka belum bisa menemukan angle mana yang menjadikan para penonton akan merasa nyaman dalam bertanding.
Menurut beliau ketika Battle Royale dipertandingkan, maka yang akan terjadi setiap pemain akan berlaku defensif, bukan maju layaknya “Rambo.”
Itulah sebabnya mengapa akan selalu ada celah di mana penonton akan merasa pertandingan terlihat membosankan.
2. Belum Ada Formula Baku Mengenai Peraturan dan Penilaian

Dalam pertandingan esport, ada banyak hal yang patut dipertimbangkan. Hal-hal tersebut di antaranya adalah peraturan dan penilaian.
Masih menurut Eddy Lim juga, asosiasi esport internasional belum menemukan formula pasti mengenai peraturan dan penilaian dalam Battle Royale.
Sebagai contoh, tim mana yang patut diberi kemenangan, apakah tim yang paling banyak melakukan Kill atau pemain yang berhasil bertahan hidup. Bagaimana dengan pemain yang berhasil melakukan kill terbanyak, apakah akan diberikan apresiasi pula?
Memang perlu adanya formula yang sangat baku untuk menetapkan bagaimana peraturan dan bagaimana penilaian dalam pertandingan Battle Royale.
3. Faktor Randomness yang Lebih Menitikberatkan Keberuntungan

Battle Royale terkadang juga sangat dipengaruhi oleh faktor keberuntungan. Salah satu contohnya terdapat faktor di mana perlengkapan yang diperoleh sifatnya sangat random.
Jika pemain sedang sangat beruntung, maka pemain yang beruntung tersebut memiliki kemungkinan menang lebih besar, padahal bisa saja skill yang dimiliki tidak sehebat lawan pemain.
Padahal dalam pertandingan esport, adanya keseimbangan skill di antara kedua kubu tim sangat diharapkan. Hal ini dibutuhkan untuk menjadikan pertandingan terlihat seru.
Apa yang Harus Dilakukan?

Kekosongan terjadi biasanya karena luasnya map dalam gim, sedangkan pemain tidak begitu banyak. Mengurangi keluasan map dalam gim, bisa mengurangi kekosongan dalam gim selain juga didukung oleh peraturan serta penilaian yang baku.
Selain itu, perlu adanya juga mode tertentu yang wajib diimplementasikan dalam pertandingan. Contohnya Battle Royale cenderung identik dengan menitikberatkan kepada kemampuan survival.
Khusus untuk pertandingan esport, perlu adanya mode permainan lainnya. Salah satu contohnya adalah mengambil bendera musuh, atau menghancurkan markas utama musuh dan lain sebagainya.
Nah itu dia berbagai alasan mengapa Battle Royale belum cocok untuk masuk kategori esport. Menurut kamu apa yang perlu dibenahi agar Battle Royale cocok masuk kategori esport?
