Kalau dibedah satu per satu, game selalu berpusat pada beberapa mekanisme yang dijahit kemudian dibungkus dengan grafis atau visual yang menarik. Mekanisme ini beragam, mulai dari melompat, mengayunkan pedang, gunting-batu-kertas, hingga permainan angka. Namun ada satu mekanisme yang selalu menarik karena penggunaannya bisa sangat beragam: waktu.
Singkatnya, waktu adalah mekanisme yang membuat game jadi lebih menantang. Namun di saat yang sama, mekanisme waktu ini juga kadang membuat pemain frustrasi.
Secara umum, waktu ada untuk menuntut pemain agar benar-benar berpikir dan mengambil keputusan dengan baik. Game seperti Stardew Valley misalnya sebenarnya bisa kamu mainkan dengan sangat santai dan lambat. Namun jika ingin kaya raya dan mendapatkan semua achievement dengan cepat, kamu harus bisa melakukan banyak hal. Namun waktu satu hari di Stardew Valley sangat terbatas, jadi kamu harus bisa membuat rencana yang optimal.

Game seperti Overcooked 2 membuatmu harus bisa dengan cepat membuat sistem kerja dan koordinasi yang rapi dengan tatanan dapur yang kamu hadapi. Jika tidak, kerjamu tidak akan efisien, kamu tidak akan bisa menyelesaikan banyak pesanan dalam waktu yang ditentukan.
Lalu ada juga game yang sebenarnya tidak punya elemen waktu yang mengejarmu. Namun di saat yang sama game tersebut memberikanmu imbalan jika kamu menyelesaikan tugas yang ada dengan cepat. Tantangan tambahan ini ada dan bisa diambil semua orang yang ingin membuktikan kemampuan, tapi jika tidak sanggup, kamu tetap bisa bermain seperti biasa.
Singkatnya, hadirnya elemen waktu dalam game membuat pemainnya harus benar-benar menilai dan memaksimalkan mekanisme gameplay dalam game. Ini secara tidak langsung bisa membuat pemainnya lebih menikmati game tersebut.
Sayangnya bagi beberapa orang, hadirnya waktu bisa memberikan tekanan untuk pemain. Jika pemain tersebut bukan tipe orang yang suka ditekan oleh waktu, ia bisa saja tidak bisa membuat keputusan yang optimal. Ibarat lowongan kerja, ia gagal di kualifikasi ‘mampu bekerja di bawah tekanan.’

Hanya saja ada saat di mana kehadiran waktu membatasi apa yang bisa kamu lakukan. Salah satu contoh yang populer misalnya The Legend of Zelda: Majora’s Mask di mana kamu sebenarnya bisa melakukan banyak hal, tapi kamu tidak bisa melakukan semuanya karena bulan akan jatuh dari langit dalam waktu beberapa hari. Akhirnya mau tidak mau kamu harus mengabaikan beberapa NPC dan side story agar bisa menyelamatkan dunia.
Begitu juga dengan misalnya serial Atelier jadul (misal Atelier Rorona dan Totori) di mana kamu punya objektif yang punya batas waktu untuk diselesaikan. Jika gagal, kamu akan mendapatkan bad ending. Mekanisme ini cukup kontra-produktif karena di game Atelier kamu pasti akan menghabiskan banyak waktu mengumpulkan bahan baku dan bereksperimen membuat item dengan bahan tersebut. Namun kamu tidak bisa melakukannya karena ada objektif yang harus kamu kejar. Ini memang membuatmu lebih hati-hati dalam memanfaatkan waktu, tapi kehadirannya di game yang santai seperti Atelier jadi sedikit mengganggu.
Entah kamu suka atau tidak dengan kehadirannya, waktu akan selalu jadi elemen dalam game. Karena pada akhirnya waktu ini jugalah yang membuatmu benar-benar mengoptimalkan interaksimu dengan game tersebut.
Selain itu, berkat tekanan waktu, pengalaman bermainmu mungkin bisa melahirkan momen-momen yang keren. Karena akan kehabisan waktu saat berburu monster, kamu mungkin memberanikan diri untuk bermain agresif di Monster Hunter Rise dan ternyata berhasil. Keributan dengan temanmu karena dikejar waktu saat bermain Overcooked 2 akan melahirkan banyak momen lucu.
Pada akhirnya bagaimana waktu mempengaruhi pengalaman bermainmu bergantung pada caramu melihat dan menanggapinya. Apakah kamu membiarkan waktu menguasai pengalamanmu atau menjadikannya bumbu untuk membuat pengalaman bermainmu lebih seru.
Sumber gambar: Reddit
