Sebagai sebuah langkah untuk memajukan industri game di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Asosiasi Game Indonesia (AGI) meluncurkan IGDX (Indonesia Game Developer Exchange). Salah satu program IGDX adalah IGDX Conference yang berlangsung selama 2 hari pada tanggal 20-21 November 2021.
Dalam sebuah sesi IGDX Conference dibahas tentang cara membangun talenta dalam industri digital, khususnya industri game.
Diskusi panel yang berlangsung selama kurang lebih satu jam itu dimoderatori oleh Adam Ardisasmita (Vice President Of AGI). Panelis yang diundang adalah Luat Sihombing (Kominfo), Komang Budi Aryasa (IGSI/ICN), dan Nizam (Kemendikbud)
BACA JUGA: IGDX Conference 2021: Menilik Perkembangan Industri Game di Indonesia

Talenta Indonesia dalam Industri Digital
Menurut data yang ada, developer dan produksi game Indonesia masih sangat kecil dibanding pemain game. Terlebih jumlah penduduk Indonesia mencapai lebih dari 200 juta jiwa dengan pengguna game terbanyak di ASEAN. Melihat dari keadaan tersebut Indonesia perlu ambil bagian dalam industri game. Sehingga pendapatan dari industri game tidak lari ke luar negeri.
Salah satu kendala yang dialami Indonesia untuk membangun dan mengembangkan ekosistem industri game adalah kurangnya talenta dalam negeri. Penyebabnya bisa karena anggapan bahwa industri game dianggap belum memiliki masa depan. Padahal jika melihat keadaan industri game Indonesia belakangan ini, juga melihat industri game dunia, bukan tidak mungkin industri game akan menjadi salah satu sektor yang bisa menyumbangkan banyak keuntungan untuk Indonesia.
Program-program untuk Meningkatkan Talenta Digital Indonesia
Untuk mengisi kurangnya talenta atau untuk meningkatkan jumlah talenta Indonesia dalam industri digital, pemerintah telah membuat program khusus. Program tersebut seperti membangun Kampus Merdeka, Merdeka Belajar.
Mahasiswa yang masuk di kampus tersebut bisa memilih untuk mempelajari program studi lain selain program studi yang diminatinya di awal.
Mereka dibimbing atau ikut bekerja di perusahaan para ahli. Dengan tujuan, mahasiswa tersebut bisa mendapatkan ilmu dan keahlian dari bidang yang dia pelajari. Dengan begitu kebutuhan talenta dalam berbagai aspek di negeri ini bisa dipenuhi.
Program seperti itu diharapkan bisa juga dicontoh atau diadaptasi ke dalam industri game. Supaya semakin banyak talenta yang hadir dan bisa ikut mengembangkan industri game di Indonesia.
Dirangkum dari para panelis, Indonesia memiliki budaya yang eksotik. Hal tersebut bisa menjadi sebuah kekuatan bagi Indonesia untuk mengembangkan game bermuatan budaya lokal. Sehingga nantinya, selain bisa meningkatkan ekosistem industri game Indonesia, juga bisa membantu mengenalkan budaya Indonesia ke luar negeri.
