Gimbot Tidak Punya Karakter Favorit di Coffee Talk, dan Itu Hal yang Bagus


Toge Productions berhasil menciptakan tokoh-tokoh yang realistis dan relatable dalam Coffee Talk, tapi apakah realistis itu selalu bagus?

Halo, para pembaca setia Gimbot! Sudahkah kamu memainkan game Indonesia terbaru yang terbit akhir Januari kemarin, Coffee Talk? Kalau belum, Gimbot sarankan kamu segera memainkannya, apalagi bila kamu adalah penyuka genre visual novel serta sedang butuh game yang santai. Gimbot juga punya ulasan lengkapnya yang bisa kamu baca lewat tautan di bawah.

BACA JUGA: Review Coffee Talk – Cerita Pascasenja, dari Kopi Turun ke Hati

Gimbot sangat menyukai Coffee Talk. Meskipun di dalam penulisannya masih ada beberapa dialog yang bisa dibuat lebih baik lagi, secara umum Coffee Talk sudah menyenangkan dan menghibur. Tapi ada satu hal yang terasa cukup menggelitik. Setelah main dari awal sampai tamat, Gimbot bertanya ke diri sendiri, “Siapa karakter paling favorit dalam Coffee Talk?” Dan setelah memikirkannya cukup lama, Gimbot sampai pada satu jawaban: tidak ada.

PERINGATAN: Spoiler alert! Tulisan ini mengandung spoiler cerita Coffee Talk.

Coffee Talk bercerita tentang dirimu, seorang barista yang setiap hari harus berurusan dengan berbagai pelanggan, masing-masing membawa masalah berbeda. Ada Freya, gadis penulis yang sedang stres karena pekerjaannya. Baileys dan Lua, pasangan elf dan succubus yang sedang galau karena hubungan mereka tak direstui orang tua. Gala, manusia serigala yang sedang mencari obat untuk menenangkan diri ketika bulan purnama. Ada juga Hyde, Rachel, Jorji, dan lain sebagainya.

Cukup banyaknya jumlah karakter ditambah dengan latar belakang dunia Coffee Talk yang berunsur fantasi membuat tokoh-tokoh ini sangat menarik untuk dikenali. Memang, masalah-masalah yang mereka hadapi terkadang tidak begitu bombastis, malah cenderung mirip dengan masalah yang bisa kita temui di kehidupan sehari-hari. Tapi kondisi fisiologi, budaya, kebangsaan, serta situasi lingkungan mereka berbeda dengan dunia yang kita tempati. Melihat bagaimana perbedaan-perbedaan itu membentuk pola pikir serta cara mereka menanggapi masalah adalah sebuah kesenangan tersendiri.

Lalu kalau karakternya menarik, mengapa Gimbot tidak punya karakter favorit? Jawabannya, karena “menarik” itu tidak sama dengan “dapat disukai”. Setiap karakter dalam Coffee Talk, menurut Gimbot, selalu punya suatu unsur negatif dalam kepribadiannya. Hal ini membuat Gimbot tidak bisa menyukai mereka sepenuhnya. Bukan berarti benci, hanya saja, tidak 100% suka.

Sebagai contoh, Freya memang orang yang supel, ceria, dan ramah pada semua orang. Tapi dia juga punya kebiasaan jelek, yaitu tidak bisa membaca suasana dan suka ikut campur dalam urusan orang lain. Di sisi lain ada Myrtle, orc developer game yang sebetulnya menyenangkan, tapi ekspresinya selalu judes dan ia skeptis pada banyak hal.

Hendry, ayah Rachel, adalah sosok orang tua yang penyayang. Dia sangat peduli pada anaknya, selalu berharap anaknya mengambil jalur kesuksesan, dan mau berusaha mencari cara untuk memahami Rachel yang usianya terpaut perbedaan generasi. Namun ia juga overprotektif, dan ketika bicara terkesan memaksa sehingga orang kesal mendengarnya.

Jorji, polisi yang humoris dan kalem, namun sering mabal dari pekerjaannya. Hyde, vampir yang bijak dan kaya pengalaman, tapi juga kurang berperasaan dan suka menyembunyikan sesuatu. Aqua, manusia ikan yang baik hati lagi penuh empati, tapi sering tenggelam dalam pikirannya dan kalau sudah bicara kadang susah berhenti. Begitu seterusnya.

Untuk tokoh-tokoh di dalam cerita fiksi, watak seperti ini adalah hal yang bagus. Mereka bukan karakter yang “satu dimensi” alias hanya punya satu sifat untuk ditonjolkan. Justru dengan adanya aspek positif dan negatif sekaligus itu membuat cara pikir mereka jadi menarik dan tak terduga, membuat kita penasaran ingin melihat bagaimana tingkah mereka selanjutnya. Lagi pula memang begitulah manusia, pasti punya hal baik dan buruk dalam dirinya.

Mungkin Toge Productions berhasil menciptakan karakter-karakter yang terasa manusiawi itu karena sebetulnya seluruh karakter Coffee Talk dibuat dengan inspirasi dari orang-orang sungguhan. Dalam wawancaranya dengan IGN SEA, CEO Toge Productions, Kris Antoni, menjelaskan bahwa tokoh-tokoh Coffee Talk diciptakan dengan basis para kru Toge Productions sendiri. Dalam pembuatan ceritanya pun, mereka menggunakan sesi role-playing. Dialog-dialog dalam sesi role-playing itu direkam, kemudian diadaptasi menjadi skenario di dalam game.

Kepribadian serta masalah tokoh-tokoh Coffee Talk diambil dari pengalaman orang-orang di dunia nyata, sehingga terasa cukup realistis dan relatable. Hanya saja, mungkin karakter-karakter di game ini jadi terlalu realistis, sehingga Gimbot tidak bisa menyukai mereka sepenuhnya.

Gimbot mungkin bisa dibilang seorang introvert, yang cenderung tidak banyak bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain. Bukan berarti tidak suka berteman, hanya saja secara default Gimbot lebih suka menjaga jarak terlebih dahulu dengan semua orang yang baru kenal. Memperhatikan dari tempat aman, hingga akhirnya menemukan suatu hal yang bisa membuat Gimbot merasa nyambung dengan orang tersebut.

Untuk mencapai titik nyambung tersebut biasanya butuh waktu lama. Itu pun belum tentu berhasil, terkadang ada juga orang yang sudah kenal bertahun-tahun pun masih belum terasa nyambung menurut Gimbot. Meskipun Gimbot tidak membencinya, Gimbot juga tidak bisa menyebutnya sebagai teman (setidaknya bukan teman dekat), dan kalau sedang mengobrol kemungkinan juga tidak bisa mencari topik yang nyaman dibicarakan.

Para tokoh Coffee Talk, sejauh ini, masih belum masuk titik nyambung tersebut bagi Gimbot. Seandainya sudah, kemungkinan besar Gimbot akan lebih bisa memaklumi aspek negatif dari sifat mereka, atau lebih bisa memahami mengapa mereka punya sifat demikian. Tapi selagi belum sampai ke arah sana, Gimbot masih pasang status siaga. Masih gue pantau dulu, kira-kira sih begitu.

Rasanya agak aneh punya pandangan seperti ini terhadap karakter-karakter fiksi. Tapi dipikir-pikir itu artinya Toge Productions telah melakukan hal yang benar. Mereka sukses menciptakan tokoh dengan kepribadian yang bisa membuat Gimbot merasakan sesuatu, sementara tidak semua game mampu melakukannya. Sayangnya, durasi cerita Coffee Talk terlalu singkat. Andai Coffee Talk punya skenario yang lebih panjang, mungkin Gimbot akan menemukan satu atau dua karakter yang sampai di titik nyambung, dan karakter itu akan jadi karakter favorit yang bisa Gimbot anggap sebagai teman.

Jadi seharusnya durasinya berapa lama? Hmm…

Yah, mungkin kira-kira setara dengan interaksi selama satu tahun lah. Waktu yang Gimbot butuhkan untuk bisa berteman dengan orang baru, biasanya memang selama itu.


Ayyub Mustofa

Jarang main game sampai tamat kecuali untuk review. Menyukai hampir semua genre, dan hingga kini masih menunggu kemunculan Megaman X9.