Moralitas adalah elemen yang sering muncul tapi jarang dieksekusi dengan baik dalam game. Memang, hingga hari ini banyak game yang memberikanmu pilihan antara melakukan tindakan yang jahat atau baik. Tapi pilihan moral tersebut terlalu sederhana dan biasanya disajikan melalui sebuah cut scene dan menginterupsi gameplay.
Padahal dalam dunia nyata, moralitas tidak sesederhana memilih merah atau biru. Membunuh penjahat bukanlah hal yang mutlak benar meskipun kamu adalah seorang jagoan. Sebaliknya, menjadi baik dan membantu orang lain kadang juga punya risiko besar terhadap dirimu sendiri. Tidak ada pilihan yang sepenuhnya benar dan salah, tapi pada akhirnya kamu tetap harus mengambil keputusan.
Tidak semua game bisa menempatkanmu dalam posisi tersebut. Tapi lima game ini menurut saya mampu menyentuh aspek moralitas dengan cukup baik. Lalu yang paling penting, pilihan moral yang kamu ambil dalam lima game ini tidak ditempatkan secara paksa di cut scene, melainkan menjadi bagian gameplay yang kamu lakukan dari akhir hingga selesai.
Spec Ops: The Line

Kamu bermain sebagai Martin Walker, komandan sebuah pasukan tentara elit Delta Force Amerika. Awalnya menjalankan sebuah misi inspeksi sederhana di Dubai, kamu kemudian mencari seorang yang dianggap sebagai pengkhianat. Tapi anggapan tersebut berasal dari karaktermu sendiri yang perlahan menjadi gila dan terjebak dalam imajinasi sendiri. Imbasnya ia kemudian melakukan berbagai kejahatan seperti membunuh rakyat sipil, semua dengan alasan “bagian dari tugas”.
Spec Ops: The Line memutar balik feeling yang sering kamu dapatkan ketika bermain game shooter. Memang, kamu tetap menembak orang dan menghabisi puluhan tentara seorang diri. Tapi semua aksi tersebut perlawan menegaskan bahwa kamu bukanlah seorang jagoan.
Sebaliknya, kamu hanyalah orang gila yang ingin menjadi pahlawan.
Memang, secara keseluruhan cerita Spec Ops: The Line tetap linier. Tapi melalui gameplay-nya, game ini seolah “berbicara” ke kamu sebagai pemain dan mengatakan bahwa kamu bukanlah pahlawan. Ini belum membahas beberapa momen yang membuatmu ditempatkan pada pilihan yang sulit tapi tanpa pilihan yang benar atau salah dan harus kamu putuskan melalui mekanisme permainan, bukan pilihan dialog.
This War of Mine

This War of Mine mengajakmu berada di sebuah negara yang berada di tengah peperangan. Tapi kali ini kamu bukanlah anggota tentara atau jagoan. Kamu mengendalikan beberapa orang biasa dengan beberapa kemampuan. Dengan sumber daya yang harus kamu cari di tengah medan perang, kelompokmu harus bisa bertahan hidup selama mungkin.
Tapi itu tentu tidak mudah karena di medan perang, kamu tidak tahu apa yang akan terjadi.
Game ini selalu menempatkanmu dalam pilihan yang sulit dan punya risiko. Misal membunuh orang lain yang juga berusaha bertahan hidup mungkin memberikan kelompomu makanan. Tapi sebagai manusia biasa, membunuh jelas akan memberikan trauma tersendiri. Karaktermu yang trauma mungkin kabur atau bunuh diri, membuat kelompokmu runtuh dan perlahan ikut mati. Belum lagi tidak
This War of Mine mengungkap realita sulitnya hidup sebagai korban perang. Kamu juga disadarkan bahwa bertahan hidup sebagai orang biasa di tengah medan perang tidaklah semudah menolong semua orang atau membunuh semua orang.
Papers, Please

Sekilas, Papers, Please terlihat seperti simulasi petugas imigrasi yang sangat membosankan. Kamu hanya memeriksa lalu menerima atau menolak berkas orang yang ingin masuk ke negaramu. Tapi siapa sangka dalam proses menjemukan dan repetitif tersebut kamu akan dihadapkan ke pilihan moral yang menarik.
Pekerjaanmu sebagai petugas imigrasi sangat jauh dari menyenangkan. Gajimu sangat kecil, padahal kamu harus menghidupi empat anggota keluarga di apartemen kecil. Cara memaksimalkan pendapatan adalah dengan memproses sebanyak mungkin orang dalam satu hari tanpa melakukan kesalahan. Tapi di tengah tugasmu akan ada beberapa imigran yang tidak punya berkas yang lengkap, tapi sangat membutuhkan izin masuk entah karena sedang dalam pelarian atau kesulitan lain.
Sepanjang memproses berkas di Papers, Please, kamu akan selalu dihadapkan pada pilihan tersebut. Membantu orang lain, membantu konspirasi revolusi, atau mementingkan gaji dan keberlangsungan keluargamu. Semua dilakukan di balik booth kecil di sebuah perbatasan.
Baca juga: Bagaimana Papers, Please Bisa Membuat Gameplay Monoton Jadi Menarik
Darkest Dungeon

Darkest Dungeon mengajakmu merekrut sekelompok prajurit bayaran dan meminta mereka menelusuri dungeon gelap penuh monster. Tapi bersama dengan monster itu ada juga harta karun yang ingin kamu ambil. Dengan taktik dan strategi yang baik, pasukanmu mungkin cukup kuat mengatasi berbagai rintangan di dungeon tersebut. Tapi layaknya manusia biasa, luka fisik dan mental yang diderita pasukanmu tiap selesai menelusuri dungeon tidak hilang begitu saja. Padahal dengan kondisi yang tidak ideal, mereka tidak bisa menelusuri dungeon berikutnya.
Sekilas, game ini menantangmu untuk mengelola dua hal yang sulit dikembangkan. Kamu mungkin ingin tidak ingin memaksakan pasukanmu agar mereka tidak mengidap tekanan mental yang berlebihan. Tapi jika tidak, kamu tidak akan mendapatkan harta karun yang mungkin diperlukan untuk membuat pasukanmu lebih kuat.
Kemudian seiring waktu, kamu akan sadar bahwa di game ini, berusaha menjadi seorang pemimpin yang adil sama sekali tidak ada gunanya. Satu-satunya hal yang gratis di Darkest Dungeon adalah nyawa manusia, jadi secara tidak langsung kamu ditantang untuk bertindak seperti CEO rakus yang tidak peduli dengan kondisi bawahannya.
Undertale

Sama seperti Spec Ops: The Line, Undertale berusaha memutar balikkan tradisi yang sering kamu temui di satu genre. Dalam game buatan Toby Fox ini, genre yang dimaksud adalah RPG yang mengajarkanmu untuk menghajar semua musuh yang kamu temui.
Sepanjang bermain Undertale, kamu akan menemui berbagai macam makhluk aneh. Mereka tidak hanya punya bentuk, tapi juga kepribadian dan kelakuan yang unik. Sebagai manusia yang berada di tengah sarang monster, kamu tentu ingin menghabisi mereka satu per satu sambil jadi tambah kuat. Sebagai alternatif, kamu bisa mengajak berinteraksi sedemikian rupa hingga mereka mau melepaskanmu. Ini jauh lebih sulit dan tidak akan membuatmu bertambah kuat, tapi memberikanmu imbalan yang berbeda.
Sulit rasanya menjelaskan game ini lebih lanjut tanpa masuk ke teritori hard spoiler. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, apapun yang kamu lakukan sepanjang permainan akan berimbas pada jalan cerita yang kamu dapat. Lalu apapun yang sudah kamu lakukan sejak awal permainan tidak bisa kamu tarik balik lagi.
Apakah kamu pernah memainkan salah satu dari lima game di atas? Yang mana yang paling mengusik hatimu ketika bermain?
Atau kamu punya rekomendasi game lain yang juga punya banyak pilihan moral yang sulit?
