5 Alasan Game dengan Sistem Permainan Turn-Based Itu Asyik Dimainkan

Developer era modern sudah mampu menciptakan game dengan aksi dahsyat, tapi permainan berbasis giliran tetap banyak diminati. Apa alasannya?


Para penggemar RPG pasti sudah tak asing lagi dengan sistem pertarungan yang disebut turn-based, alias berbasis giliran. Berlawanan dengan sistem action atau real time, turn-based adalah pertarungan di mana kita dan musuh menyerang secara bergantian. Ketika giliran kita sedang berlangsung, musuh tidak bisa bergerak. Begitu pula sebaliknya, tidak seperti sistem real time di mana semua orang (baik kawan ataupun lawan) bisa bergerak pada waktu yang sama.

BACA JUGA: 5 Rekomendasi JRPG untuk Orang yang Belum Pernah Main JRPG

Gaya permainan turn-based sudah ada sejak era 8-bit dan terus punya penggemar setia hingga sekarang. Bahkan, tak jarang ada orang yang kecewa atau marah terhadap franchise tertentu karena developernya mengganti sistem permainan dari turn-based menjadi action. Sebetulnya mengapa sih sistem turn-based sangat digemari? Mengapa banyak orang tetap memilih gameplay begini, meski kemajuan teknologi sudah memungkinkan developer untuk membuat gameplay berbasis aksi yang lebih realistis? Berikut beberapa alasannya.

Mengistirahatkan Tubuh

Ciri khas seri Suikoden, bisa dimainkan dengan sebelah tangan | Sumber: AbidingGamer

Apa tujuan kamu main game? Tentu jawaban atas pertanyaan ini bisa berbeda-beda, tapi Gimbot yakin ada satu hal mendasar yang pasti dirasakan oleh semua gamer. Kita main game untuk relaksasi, untuk menghibur diri, dan istirahat. Game berbasis aksi memang seru, namun kurang rileks karena kita dituntut untuk tangkas menggerakkan tangan dan jari.

Pertarungan turn-based menggunakan sistem kontrol sangat sederhana. Kebanyakan, yang perlu kita lakukan pada dasarnya adalah memilih-milih menu saja. Ini membuatnya cocok untuk dimainkan sambil santai. Beberapa game modern bahkan menyediakan fitur auto battle atau fast forward, membuat kita bisa lebih santai lagi. Ada juga game yang bisa dimainkan dengan satu tangan saja, seperti seri Suikoden.

Bisa Dimainkan Siapa Saja

Seri Civilization menawarkan permainan strategi turn-based yang adiktif | Sumber: Steam

Game berbasis aksi menuntut kita untuk bisa melakukan berbagai macam kombinasi tombol serta kemampuan refleks yang baik. Padahal, pada kenyataannya tidak semua orang memiliki ketangkasan seperti itu. Ada juga orang yang gerakan tangannya cenderung lambat. Mungkin memang ketangkasan bisa dilatih, tapi belum tentu mereka mau meluangkan waktu dan tenaga untuk melakukannya. Karena memang mereka main game untuk hiburan saja.

Sistem permainan turn-based tidak menuntut ketangkasan, jadi siapa pun bisa memainkannya asalkan mengerti apa yang tertulis di layar. Bukan berarti permainan turn-based tak punya tantangan. Hanya saja, tantangan itu hadir dengan wujud tantangan berpikir, bukan tantangan keahlian fisik.

Membangun Imajinasi

Adegan di kepala kita lebih seru daripada adegan di layar | Sumber: That’s Macky!

Permainan turn-based sering kali menggunakan animasi yang relatif sederhana, sehingga memancing kita untuk berimajinasi dan membayangkan sendiri seperti apa kerennya adegan yang sedang berlangsung. Menariknya, animasi sederhana seperti ini masih banyak dipertahankan oleh game di era modern. Lihat saja game seperti seri Bravely Default, Dragon Quest, hingga Pokémon terbaru.

Bukan karena developernya tak mampu menciptakan animasi yang wah, tapi memang tidak perlu karena ada kesenangan tersendiri dari animasi sederhana tersebut. Animasi yang dahsyat disimpan untuk beberapa adegan khusus saja, misalnya ketika mengeluarkan jurus pamungkas, atau event penting di cerita.

Dapat Ditinggal dan Disambi Kegiatan Lain

Final Fantasy mempopulerkan sistem pertarungan turn-based bernama Active Time Battle | Sumber: Emuparadise

Dalam sistem turn-based, musuh tidak akan menyerang kita kalau giliran mereka belum datang. Jadi kita tidak harus fokus terus-menerus pada layar. Kalau ada perlu, boleh saja game itu kita tinggal sementara. Misalnya ketika ada kurir datang mengantar paket, ada pesan singkat yang harus dibalas, atau kita merasa butuh pergi ke kamar kecil.

Kita juga bisa memainkan game sambil menyambi kegiatan lain. Kalau Gimbot secara pribadi punya hobi main game sambil makan, dan game bergaya turn-based tidak akan terganggu oleh kebiasaan seperti ini. Beberapa orang di luar sana bahkan ada yang terbiasa main lebih dari satu game pada waktu yang sama!

Asyiknya Memikirkan Strategi

Darkest Dungeon, game turn-based yang terkenal menantang | Sumber: Steam

Karena game berbasis giliran tidak punya aksi yang cepat dan dahsyat, sebagian besar tantangan dan kesenangan hadir dalam wujud strategi. Memikirkan senjata apa yang harus kita gunakan, karakter mana saja yang kita butuhkan di party, dan mencari tahu apa kelemahan musuh, adalah hal-hal yang mampu memberikan kepuasan bagi para pecinta game turn-based.

Beberapa jenis permainan turn-based bahkan sangat “hardcore” dalam urusan strategi ini, jadi kadang-kadang game turn-based bisa jadi terasa jauh lebih susah dimainkan daripada game berbasis aksi. Beberapa contoh game turn-based yang punya kesulitan tinggi misalnya seri XCOM, Hearts of Iron, atau Darkest Dungeon. Seperti orang yang bermain catur atau board game, permainan bergaya turn-based membuat kita merasa senang ketika kita menang berkat taktik yang lebih baik.


Ayyub Mustofa

Jarang main game sampai tamat kecuali untuk review. Menyukai hampir semua genre, dan hingga kini masih menunggu kemunculan Megaman X9.