Langkah berani Rockstar Games dan Take-Two Interactive yang memutuskan untuk merilis megaproyek Grand Theft Auto VI tanpa piringan disc fisik diprediksi akan menjadi pukulan telak yang mempercepat kematian kaset gim di dunia.
Kekhawatiran besar ini disuarakan langsung oleh pendiri sekaligus CEO CI Games, Marek Tyminski, yang menilai keputusan tersebut bakal mengubah lanskap industri secara radikal.

Tyminski menyebut bahwa kombinasi antara rilis digital GTA VI dan rencana Sony menghentikan total produksi kaset PS pada tahun 2028 akan memicu efek domino yang instan.
Menurutnya, volume perilisan gim dalam format fisik di pasar global dipastikan bakal merosot drastis bahkan sejak tahun 2027 mendatang.
Lewat sebuah unggahan kritis di platform X, Tyminski menyayangkan keputusan Rockstar yang hanya menyediakan kode unduhan digital di dalam boks penjualan GTA VI, karena dinilai kurang adil bagi studio-studio lain yang masih berkomitmen mendukung pelestarian media fisik.
GTA6 shipping with no disc feels unfair to studios still backing physical — and it’s accelerating the shift. Sony ending physical support from 2028 could slash disc releases as early as 2027 or even sooner.
— Marek Tyminski (@tyminski_marek) July 5, 2026
Physical delivers far less revenue per unit to developers, longer lead… https://t.co/gLkVTi5bDL
Dari sudut pandang bisnis, Tyminski blak-blakan menjelaskan mengapa menjual gim dalam bentuk disc kini semakin sulit dipertahankan oleh para pengembang. Selain memakan waktu manajemen produksi yang jauh lebih lama, format kaset konvensional dibebani oleh biaya manufaktur, logistik, dan rantai distribusi yang sangat besar. Di tengah situasi industri modern yang semakin kompetitif, beban tambahan ini dinilai sangat mencekik bagi studio yang sedang berjuang meraih profit.
Untuk memberikan transparansi, Tyminski membagikan rincian simulasi matematika dari hitungan bisnis format fisik. Dari satu keping gim seharga USD 69,99 (sekitar Rp1,25 juta), potongan margin untuk pihak retailer toko bisa mencapai 25-35%, komisi distributor memakan 10-20%, ditambah biaya cetak piringan disc sekitar USD 10.
Alhasil, studio pengembang hanya mengantongi bersih sedikit di atas USD 26 (sekitar Rp465 ribu) per kopi. Kondisi ini berbanding terbalik dengan jalur distribusi digital, di mana studio bisa langsung meraup keuntungan bersih sekitar USD 49 (sekitar Rp877 ribu) per kopi. Selisih keuntungan yang jomplang ini dipastikan akan semakin melebar saat harga gim mulai mengalami penurunan di pasar purnajual.
Meski proyek gim masa depan milik CI Games, Lords of the Fallen 2, dikonfirmasi masih akan tetap didistribusikan menggunakan kaset fisik, Tyminski mengakui bahwa mempertahankan idealisme tersebut kini terasa kian mustahil.

Terlebih, data saat ini menunjukkan bahwa angka penjualan format fisik secara global sudah merosot jauh di bawah angka 20% dari total pasar. Walau dari kacamata korporasi jalur digital jauh lebih menggiurkan, gelombang penolakan dari komunitas gamer tetap mengalir deras.
Ribuan pemain dilaporkan terus menandatangani berbagai petisi boikot sebagai bentuk perlawanan nyata demi mempertahankan hak kepemilikan media fisik mereka.
