Proyek kekayaan intelektual teranyar milik Capcom, Pragmata, sukses mencatatkan torehan impresif di panggung industri gim dunia. Sejak resmi mengudara pada 17 April lalu, gim fiksi ilmiah ini dilaporkan telah berhasil menembus angka penjualan fantastis sebanyak 2 juta kopi hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga minggu.
Merayakan perayaan Hari Ayah, jajaran tim pengembang bersama jajaran pengisi suara sengaja menggelar sesi siaran langsung spesial guna merayakan pencapaian manis ini sekaligus membedah dapur proses kreatif pengembangannya.

Bagi para pemain yang sudah merampungkan petualangan di dunia Pragmata, jalinan ikatan emosional antara sang protagonis utama, Hugh, dengan android pendamping kecilnya yang bernama Diana, tentu menjadi salah satu daya tarik yang paling membekas.
Alur narasi gim ini memang menitikberatkan pada dinamika hubungan kekeluargaan unik yang tumbuh di antara keduanya. Tak heran bila gelombang komunitas gamer langsung jatuh hati pada sosok Diana karena kepribadiannya yang polos, imut, dan memancarkan aura layaknya anak perempuan kandung sendiri.
Kendati demikian, merancang persona Diana agar mampu tampil menggemaskan tanpa terkesan berlebihan rupanya menjadi tantangan tersendiri yang sangat menguras otak tim kreator. Dalam siaran spesial tersebut, Naoto Oyama selaku produser membocorkan rahasia bahwa Capcom sampai membentuk kelompok kerja internal khusus yang diberi nama kocak, yakni “Diana Police”.
Satuan tugas unik ini memikul tanggung jawab besar untuk mengawasi dan meninjau setiap jengkel elemen pada diri Diana agar perilakunya tetap terlihat natural, lugu, dan menyerupai gestur anak kecil di dunia nyata tanpa terkesan dibuat-buat atau justru mengusik kenyamanan bermain.
Proses kurasi ketat oleh “Diana Police” ini kabarnya menyasar banyak aspek teknis, mulai dari urusan penataan vokal pengisi suara hingga ke detail instruksi koreografi yang diberikan kepada para aktor penangkap gerak..
Segala macam detail ekspresi mikro dan gerak-gerik tubuh Diana dipoles sedemikian rupa demi menjaga titik keseimbangan yang pas, yaitu mempertahankan impresi kelucuan yang organik tanpa harus mengeksploitasinya secara berlebihan sepanjang permainan berlangsung.
Dalam sesi wawancara terpisah bersama media GameSpark*, sang sutradara, Cho Yonghee, turut membagikan fakta yang tidak kalah menarik. Ia membeberkan bahwa mayoritas anggota yang mengisi barisan komite “Diana Police” tersebut nyatanya adalah para developer perempuan.
Menurut Yonghee, perspektif perempuan terbukti jauh lebih peka dan tajam dalam mendeteksi kapan sebuah karakter fiksi mulai terlihat dipaksakan imut atau terjebak dalam stereotip kelucuan yang artifisial. Ia bahkan sempat melempar kelakar bahwa mata para developer pria kemungkinan besar tidak akan mampu menyadari perbedaan tipis tersebut.

Nao Toyama, seiyuu kawakan yang meminjamkan suaranya untuk Diana dalam versi bahasa Jepang, mengamini ketatnya arahan tersebut. Toyama mengungkapkan bahwa selama proses rekaman di studio, ia diwanti-wanti secara khusus oleh tim pengarah untuk tidak memodulasi suaranya menjadi terlalu imut khas karakter anime konvensional. Sebaliknya, ia dituntut untuk berbicara secara apa adanya, meniru intonasi natural bagaimana seorang anak kecil berkomunikasi di kehidupan sehari-hari.
Menariknya, pembentukan tim audit khusus berdasarkan sudut pandang gender ini bukan kali pertama yang dipraktikkan oleh Capcom. Usut punya usut, saat mereka tengah sibuk menggarap proyek Resident Evil Requiem, Capcom juga pernah mengompilasi kelompok developer perempuan khusus yang bertugas mengevaluasi cetak biru desain dari karakter legendaris Leon S. Kennedy versi usia matang.
Komite tersebut bekerja sangat detail, bahkan sampai menginspeksi presisi lekukan kerutan di area leher Leon demi memastikan penampilannya memancarkan karisma yang pas sebagai sosok pria dewasa yang matang.
