Industri gim raksasa kembali dihantam kabar kurang sedap setelah divisi gaming Microsoft, Xbox, dilaporkan tengah bersiap untuk melakukan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal pada akhir Juni ini.
Langkah efisiensi ekstrem tersebut diambil bersamaan dengan rencana restrukturisasi besar-besaran atau business reset dalam 100 hari ke depan di bawah komando CEO baru mereka, Asha Sharma.
Melalui unggahan resmi di Xbox Wire, Sharma membeberkan serangkaian tantangan berat yang harus dihadapi perusahaan pada kuartal mendatang. Meski dalam pernyataan panjang tersebut Sharma tidak menyebutkan kata “PHK” secara gamblang, ia mengondisikan bahwa perusahaan harus mengambil keputusan-keputusan sulit.
We just shared with our team the realities we need to navigate as we work to reset the XBOX business. We won't succeed by hiding hard truths, nor will we succeed by doing the same thing and expecting different results. See the note here: https://t.co/IahtBNzwnR
— ASHA (@asha_shar) June 10, 2026
Menurut laporan dari Bloomberg, badai PHK ini diprediksi bakal dieksekusi tak lama setelah tahun fiskal Microsoft berakhir pada 30 Juni nanti, dengan divisi pemasaran serta beberapa divisi bisnis lainnya sebagai sektor yang terdampak paling awal.
Tekanan finansial dan persaingan pasar yang kian mencekik menjadi alasan utama di balik keputusan pahit ini. Sharma mengungkapkan bahwa Xbox bakal mengakhiri tahun fiskal ini dengan margin akuntabilitas yang menurun hingga menyentuh angka sekitar 3%.
Ironisnya, meski Xbox telah menggelontorkan investasi masif lebih dari $20 miliar selama lim tahun terakhir untuk konten, platform, dan subsidi perangkat keras, pendapatan tahunan mereka justru merosot hampir setengah miliar dolar pada periode yang sama.

Situasi ini diperparah oleh beban produksi perangkat keras yang meroket tajam, di mana biaya komponen penyimpanan (storage) konsol diperkirakan bakal naik hingga lima kali lipat dibanding musim gugur lalu, dan diprediksi masih akan terus merangkak naik menjelang musim liburan tahun 2027.
Selain faktor finansial, manajemen Xbox mengakui adanya kesalahan strategi di masa lalu di mana perluasan studio dan operasional mereka berjalan terlalu melebar demi menyokong banyak lini sekaligus, mulai dari sistem langganan, cloud streaming, hingga ekspansi ke berbagai perangkat pintar.
Hal ini membuat fokus perusahaan menjadi tidak efisien dan mengharuskan mereka mendesain ulang infrastruktur platform yang dinilai sudah usang dan tidak memadai untuk standar modern.

Sebelum badai PHK ini terendus, kepemimpinan Asha Sharma sebagai CEO sebetulnya sempat membawa angin segar dan direspons positif oleh komunitas karena sukses memperkenalkan kebijakan populer seperti pemotongan biaya langganan Xbox Game Pass, penyegaran logo, hingga pengumuman proyek ambisius bertajuk Project Helix.
Namun, setelah masa-masa awal yang manis tersebut usai, Sharma kini harus menakhodai Xbox masuk ke dalam fase restrukturisasi yang jauh lebih kelam demi menyelamatkan stabilitas jangka panjang perusahaan.
