Meskipun punya banyak manfaat, internet juga sering digunakan untuk hal-hal yang kurang menyenangkan. Salah satunya adalah review bombing di mana sejumlah pemain sengaja memberikan review negatif ke sebuah game. Jumlah yang kami maksud di sini bukan sekadar beberapa orang saja, tapi ratusan hingga ribuan orang dari seluruh dunia. Alasannya juga beragam, tapi rata-rata berkisar pada melampiaskan rasa kecewa.
Meskipun lumayan sering terjadi, review bombing sebenarnya lebih sering jadi angin lewat. Memang, game tersebut mungkin akan kehilangan sejumlah pemain. Namun jika developernya memang serius berbenah, dan review bombing yang terjadi hanyalah amukan sesaat, game tersebut biasanya akan tetap bertahan. Bahkan Overwatch 2 yang jadi korban terbaru pun tetap punya basis pemain di Steam.
Sejauh ini, dari banyak game yang terkena review bombing, hanya ada satu game yang akhirnya tutup. Gelar tidak menenangkan ini jatuh ke Devotion buatan Red Candle Games.
Devotion adalah game horor yang punya pesan yang mengingatkan betapa sesatnya sekte atau cult dan semacamnya, khususnya di Taiwan. Game-nya menceritakan kisah seorang pria yang berusaha memperbaiki hubungan keluarganya yang retak. Ia sendiri terjebak dalam tuntutan sosial, putri tunggalnya stres, dan istrinya yang berusaha memperbaiki kondisi malah tidak digubris yang berujung pertengkaran dan berimbas ke sang putri yang semakin stres.
Pasrah, ia kemudian meminta tolong ke ‘orang pintar,’ dan dari situ ia mulai mendapatkan pengalaman yang menyeramkan yang akhirnya berujung malapetaka.
Devotion sendiri menuai pujian saat pertama kali rilis baik dari reviewer maupun YouTuber/streamer. Tidak salah, kalau kamu menonton video gameplay-nya saja, kamu akan menemukan banyak momen yang seram, dan atmosfer yang dihadirkan di sepanjang permainan memang membuatmu tidak nyaman.

Sayangnya perilisan yang harusnya berujung manis tersebut harus terhenti ketika seorang pemain menemukan aset dalam game yang ternyata menghina Perdana Menteri China yang menjabat saat itu. Entah itu disengaja atau tidak, kelakar biasa atau tidak, aset tersebut tetap bisa memicu amarah sebagian masyarakat China yang militan untuk hal seperti ini.
Meskipun cepat dihapus, aset kontroversial tersebut terlanjur tersebar di China, dan salah satu kubu masyarakat di negeri Tirai Bambu tersebut tentu langsung memenuhi halaman Steam Devotion dengan review negatif. Mendapatkan banyak tekanan, Red Candle Games akhirnya menarik Devotion dari Steam. Tidak tanggung-tanggung, publisher-nya pun dipaksa gulung tikar di negaranya sendiri.

Hari ini, kamu sudah bisa membeli dan bermain Devotion dengan cara membelinya langsung dari situs resmi Red Candle Games selaku developer. Suka atau tidak, game ini jelas tidak akan pernah kembali lagi ke Steam. Tidak hanya itu, Steam juga sekarang memberlakukan sistem yang membuat review bomb tidak akan bertahan lama. Namun mengingat konteks dan pihak yang terlibat, jika kasus Devotion terjadi hari ini, saya rasa hasil akhirnya akan tetap sama.
