Sebagai salah satu medium hiburan, game tentu saja berusaha untuk merambah ke medium hiburan yang lain. Salah satu yang selalu dicoba oleh beberapa kreatornya adalah hadir di layar lebar alias adaptasi film. Inisiatif ini juga sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1993 lewat film Super Mario Bros.
Kalau kamu melihat gambar di atas, kamu mungkin sedikit ragu dengan kualitas film Super Mario Bros. Memang benar, film tersebut berakhir mengecewakan, layaknya banyak film-film adaptasi video game di tahun-tahun berikutnya hingga hari ini. Memang, belakangan ini beberapa film adaptasi game mulai mendapat tanggapan positif. Namun jumlahnya masih sangat minim dibanding film yang berakhir mengecewakan.
Pertanyaannya tentu saja kenapa? Apa yang membuat kreator film sepertinya kesulitan menghadirkan keseruan dunia game ke layar lebar?
Memuat Petualangan Apik Dalam Durasi Terbatas Tidaklah Mudah
Satu hal yang membuat film berbeda dari game adalah durasinya. Bahkan jika mengabaikan durasi gameplay dan hanya menghitung cut-scene dan dialog saja, sebuah game mungkin punya durasi yang jauh lebih lama dari sebuah film yang biasanya hanya berdurasi 90 menit sampai 120 menit.
Karena durasinya sangat singkat, film adaptasi dari game sudah ada di posisi yang sangat sulit. Agar bisa menyampaikan cerita yang punya premis dan resolusi yang jelas, mungkin akan ada banyak momen dan elemen cerita yang harus dipotong. Namun itu bisa saja membuat ceritanya jadi membosankan atau tidak memuaskan.
Solusi lain misalnya memecah filmnya jadi beberapa bagian seperti trilogi.
Hanya saja itu tidak menjamin setiap bagian menarik. Game JRPG misalnya menghabiskan bagian awal cerita mengumpulkan anggota party dan prosesnya mungkin tidak berhubungan dengan premis awal ceritanya.
Karena kesulitan ini, beberapa film akhirnya mencari jalan keluar baru yaitu membuat cerita sendiri tapi dengan universe dan karkater dari game tersebut. Namun ini juga tidak menjamin film tersebut lepas dari kekurangan di atas. Jika tidak dieksekusi dengan baik, film tersebut justru hanya akan membuat penggemar game-nya kecewa.
Game Adalah Media Interaktif
Satu hal yang membedakan game dan media lain seperti film adalah bagaimana caramu menikmatinya. Ketika menonton film, kamu sebagai penonton adalah konsumen yang pasif.
Artinya tugasmu agar bisa menikmati film yang sedang tanya adalah menyaksikan dan menyimaknya sambil menelaah apa yang terjadi.
Game punya dinamika yang berbeda. Kamu adalah konsumen atau partisipan aktif dalam hiburan tersebut.
Untuk bisa menikmati sebuah game, kamu harus mengendalikan karakternya, menekan tombo, dan bermain mengikuti sistem dan peraturan yang sudah ditentukan. Petualangan di Elden Ring terasa apik tidak hanya karena visualnya saja, tapi karena kamu juga berjuang menghadapi musuh yang kuat untuk mendapatkan itu.
Film adaptasi dari game jelas tidak bisa menghadirkan pengalaman interaktif tersebut. Melihat karakter pahlawan dalam film mengalahkan musuh jahat jauh berbeda dari kamu mengendalikan karakter di game dan berusaha mengalahkan bos yang sulit.
Itu juga yang jadi alasan mengapa kebanyakan film adaptasi dari game diambil dari genre horor. Karena meskipun interaktif, game horor umumnya membuatmu lemah dan tidak berdaya tapi harus menghadapi makhluk jahat. Pengalaman tidak berdaya tersebut masih bisa dihadirkan ketika kamu menyaksikan film.
Pendekatan Yang Salah
Apakah itu berarti sebuah game hanya terjebak di medium itu saja? Tidak juga, karena meskipun ada banyak film adaptasi yang berakhir mengecewakan, ada juga beberapa yang cukup oke atau bahkan bagus. Namun ada beberapa hal yang jadi faktor kunci.
Membuat animasi dan bukan live action adalah salah satu pendekatan yang terbukti sukses dilakukan oleh Super Mario Bros. The Movie. Dua film Sonic juga menggunakan animasi komputer yang diintegrasikan dengan live action.
Satu lagi trik yang banyak dilakukan adalah membawakan cerita yang berbeda dari cerita di game, tapi tidak terlalu jauh dari universe dan lore game tersebut. Film Super Mario Bros. The Movie yang saya sebutkan di atas misalnya punya cerita yang sangat berbeda. Namun di sepanjang perjalanan kamu disajikan cerita dan petualangan yang berbeda dan diambil dari banyak game Mario. Meskipun tidak terhitung sebagai film, Arcane dan Dota 2 Dragon’s Blood diambil dari lore game-nya. Padahal game-nya sendiri tidak punya cerita karena isinya cuma dua tim beradu skill dan strategi selama 30-40 menit.
Pendekatan lain yang diambil adalah tidak mengadaptasi game tersebut menjadi film 100 menit, melainkan sebuah serial yang terdiri dari beberapa episode. Pendekatan ini membuat kreatornya bisa memasukkan sebanyak mungkin elemen cerita yang membuat game yang jadi inspirasinya menarik. Itu jugalaha yang dilakukan oleh Arcane dan Dota 2 Dragon’s Blood. Tidak hanya itu, belum lama ini The Last Of Us juga diadaptasi tidak menjadi film melainkan jadi serial live action.
Terakhir pada akhirnya mereka yang membuat film atau serial tersebut juga harus tahu dan memang suka dengan game tersebut dan apa yang membuat pemain suka. Jika tidak dan hanya ingin menumpang dari nama besar game-nya saja, hasilnya pasti mengecewakan.
