A Space for The Unbound adalah salah satu game buatan developer lokal yang sudah lama ditunggu. Premisnya yang memadukan cerita anak sekolah dengan elemen spiritual, ditambah dengan visual pikselnya yang lucu jelas menarik perhatian.
Sayangnya perilis game tersebut harus ditunda. Lebih parahnya lagi, penundaan ini bersifat indefinite, alias tidak ada tenggat waktu yang pasti kapan game ini akan benar-benar rilis.
Penundaan tersebut diumumkan langsung melalui akun Twitter A Space for The Unbound. Dalam pernyataan tersebut, Toge Productions dan Mojiken Studio selaku developer menjelaskan alasan di balik penundaan tersebut.
Inti masalah penundaan tersebut adalah sengketa antara Toge dan Mojiken dengan PQube, perusahaan yang memegang hak publisher untuk A Space for The Unbound. Dalam pernyataan tersebut, mereka memutus hubungan kerja sama setelah mengidentifikasi bahwa PQube memanfaatkan game mereka.
Menurut pernyataan tersebut, PQube diklaim meminang A Space for The Unbound di bulan Agustus 2020 untuk mendapatkan dana tambahan lewat diversity fund yang disediakan oleh sebuah platform console ternama. Sesuai namanya, dana tersebut disediakan oleh platform console tersebut untuk mendukung developer di negara-negara tidak ternama yang mungkin kesulitan mendapatkan dana akibat pandemi. Masalahnya adalah, dana tersebut tidak disalurkan langsung ke A Space for The Unbound dan justru digunakan untuk kepentingan PQube sendiri. PQube bahkan memanfaatkan dana yang mereka pegang untuk menegosiasi revenue share dengan Toge dan Mojiken.
“Kami harus melawan publisher yang eksploitatif dan mengangkat cerita ini untuk mencegah kasus yang sama terjadi kembali,” ujar Toge dan Mojiken dalam pernyataannya.
Fakta tersebut baru terungkap di bulan Maret 2022 lalu, dan karena alasan itulah Toge dan Mojiken memutus hubungan mereka dengan PQube.
Sayangnya, hingga berita ini rilis, PQube sendiri masih menolak melepaskan hak publisher untuk A Space for The Unbound di platform console. Artinya karena sudah memutus hubungan, game buatan Toge dan Mojiken tersebut “terperangkap” di tangan PQube, paling tidak sampai semua pihak bisa mencapai sebuah kesepakatan.
