Setelah 17 tahun berjuang membawa nama Indonesia ke panggung game internasional, Kris Antoni kini berada di titik jenuh. Melalui akun X pribadinya, Kris mengungkapkan kekesalannya terhadap oknum pajak yang dinilai menggunakan aturan “buatan sendiri” terkait biaya gaji karyawan selama masa pengembangan game.
Masalah utamanya terletak pada prosedur amortisasi dan kapitalisasi biaya pengembangan; di mana oknum tersebut menuntut kurang bayar pajak dengan logika yang dianggap tidak sesuai dengan prosedur standar industri kreatif.
Habis ditodong sama orang pajak dengan aturan yg dibuat2 membuat gw semakin yakin untuk mulai memindahkan Toge Productions ke negara lain.
— Kris Antoni – Toge Productions (@kerissakti) February 25, 2026
Saya sudah berusaha memajukan industri game Indonesia selama 17 tahun, tapi sepertinya harapan saya sudah pupus. I’ve tried my best.
Menurut Kris, gaji karyawan yang seharusnya menjadi komponen biaya operasional justru dipermasalahkan dengan aturan yang tidak transparan. Hal ini tentu menjadi beban berat bagi studio game yang seringkali membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengembangkan satu judul sebelum akhirnya mendapatkan pemasukan.
Karena merasa “diperas” oleh sistem yang tidak mendukung, Kris secara terbuka menyatakan sedang mempertimbangkan untuk memindahkan operasional Toge Productions ke luar negeri—sebuah langkah yang tentu akan menjadi kerugian besar bagi ekosistem ekonomi kreatif Indonesia.

Tak hanya sekadar curhat, Kris juga memberikan peringatan keras kepada studio game lokal lainnya agar waspada terhadap potensi tuntutan pajak serupa. Ia khawatir jika praktik ini terus berlanjut, studio-studio game independen di Indonesia tidak akan bisa bertahan lama dan terpaksa gulung tikar sebelum sempat berkembang.
Unggahan ini pun langsung memancing diskusi panas di media sosial mengenai perlunya regulasi yang lebih ramah dan memahami karakteristik industri teknologi serta kreatif di mata hukum perpajakan Indonesia.
