The Legend of Heroes: Trails in the Sky adalah salah satu JRPG yang sampai sekarang masih mengendap di backlog game saya. Bukan karena saya tidak menyukainya, justru saya sudah memainkan game ini sejak masih eksklusif Jepang di pertengahan tahun 2000an dulu. Hanya saja entah kenapa sepertinya setiap kali bermain saya selalu tergoda untuk pindah ke game lain sehingga sampai sekarang belum tamat juga.
Beberapa waktu lalu saya mengumpulkan niat untuk kembali memainkan Trails in the Sky di Steam, dan saat itulah saya menyadari sebuah kenyataan yang kurang menyenangkan. Game ini sudah sangat tua! Trails in the Sky pertama kali dirilis pada tahun 2004, dan banyak sekali aspek di dalamnya yang, jika dibandingkan dengan game zaman sekarang, terasa sudah kuno sekali.

Keindahan yang Tertutup Usia
Contoh aspek yang saya maksud misalnya resolusi sprite yang rendah, antarmuka yang kurang nyaman digunakan, hingga gerakan kursor yang agak aneh karena pada awalnya game ini dirancang untuk dimainkan dengan mouse dan keyboard. Rasanya beda sekali jika dibandingkan dengan Trails of Cold Steel yang lebih modern dan kebetulan sudah saya mainkan hingga tamat.
Penerbit game ini di Steam adalah XSEED Games, dan mereka telah melakukan banyak sekali perombakan agar Trails in the Sky terasa lebih pas dimainkan di zaman sekarang. Apabila dilihat sekilas dari sudut pandang konsumen mungkin tidak begitu kelihatan, namun bila kamu mengikuti devlog yang diterbitkan XSEED Games beberapa tahun lalu, kamu akan tahu betapa besar perjuangan mereka memodernkan game ini. Semuanya atas dasar kecintaan XSEED Games pada seri The Legend of Heroes.

Bagi “gamer jadul” yang sudah terbiasa memainkan game dari generasi lama, rasa kuno yang muncul dari Trails in the Sky bukan masalah. Tapi saya jadi terpikir, kira-kira bagaimana pendapat gamer yang lebih muda bila mereka baru pertama kali memainkannya. Apakah mereka bisa mengabaikan aspek-aspek kuno itu dan menikmati unsur hiburan terpenting dalam Trails in the Sky, yaitu ceritanya? Jangan-jangan mereka malah kecewa dan langsung pergi, mencari game lain yang rasanya lebih modern.
Developer game ini, Falcom, juga sadar bahwa Trails in the Sky sudah sangat kuno, dan mereka sudah pernah merilis dua versi pembaharuan beberapa tahun lalu. Versi pertama disebut The Legend of Heroes: Trails in the Sky FC Kai HD Edition, dan hanya berisi perbaikan visual. Sementara versi yang lebih baru lagi dirilis dengan judul The Legend of Heroes: Trails in the Sky FC Evolution, dan memiliki beberapa fitur lebih modern seperti tambahan voice acting, video animasi baru, serta desain dan ilustrasi karakter baru.

Falcom juga menambahkan skenario cerita yang tak ada di game aslinya, menghasilkan konten yang sedikit lebih padat lagi. Gameplay pertarungan diperbaiki sehingga lebih nyaman dimainkan, bahkan antarmuka pun dirombak. Sayangnya, versi Evolution ini hanya tersedia di PS Vita, dan lagi-lagi hanya dirilis dalam bahasa Jepang.
Keuntungan Menjadi Gamer PC
Memainkan Trails in the Sky versi Evolution rasanya agak susah bagi kita yang tidak bisa berbahasa Jepang. Sementara mengharapkan game tersebut muncul versi Inggrisnya juga hampir mustahil, mengingat kondisi PS Vita yang saat ini sudah sangat tenggelam di pasaran. Untungnya, untuk para gamer PC, ada jalan lain yang bisa ditempuh. Kita bisa mencicipinya lewat mod.
Saat ini sudah ada mod yang dapat kamu pasang untuk mengubah Trails in the Sky versi Steam menjadi menyerupai Trails in the Sky FC Evolution, meskipun tidak 100% sama. Mod ini memasukkan ilustrasi baru, video animasi baru, serta voice acting dari versi Evolution, namun tidak bisa memasukkan hal-hal yang lebih teknis seperti perubahan gameplay, cerita, atau desain antarmuka.

Meskipun tidak benar-benar persis versi PS Vita, saya rasa mod tersebut sudah berhasil membuat Trails in the Sky jadi terasa seperti game modern! Khusus untuk ilustrasi desain karakter, ini jelas akan bergantung pada selera masing-masing. Kalau kamu lebih suka desain karakter versi lama, kamu tidak perlu meng-install mod untuk mengubah ilustrasinya. Tapi menurut saya, desain karakter barunya sangat cocok dengan suara voice actor yang dipilih.
Voice acting ini merupakan kunci penting yang membuat Trails in the Sky jadi terasa sangat berbeda. Dulu, petualangan Estelle dan Joshua hanya bisa kita baca lewat setumpuk teks.
Kita harus membayangkan sendiri seperti apa gaya bicara mereka, emosi yang disampaikan, hingga penekanan nadanya.

Namun dengan voice acting, karakter-karakter dalam Trails in the Sky benar-benar berhasil terasa lebih hidup. Banyak adegan yang dulunya sebetulnya sudah menarik, ketika ditambahkan dengan sulih suara ternyata berubah menjadi lebih menarik lagi.
Saya juga cukup terkejut karena ada beberapa karakter yang ternyata gaya bicaranya tidak seperti bayangan saya selama ini.
Dua orang yang paling mencolok adalah Joshua Bright dan Scherazard Harvey.
Joshua ternyata punya kepribadian yang sangat lembut, dengan gaya bicara yang luar biasa lembut pula. Ini membuat cerita jadi terasa semakin kontras ketika kamu mengetahui masa lalu dan identitas asli Joshua nantinya.
Sementara Scherazard, di versi asli dialognya sering kali terasa sinis atau sarkas.
Namun begitu ditambahkan voice acting, ia jadi lebih terasa seperti sosok kakak angkat dewasa yang senang menggoda adik-adiknya.

Tantangan Game Klasik di Era Modern
Saya senang sekali dapat memainkan Trails in the Sky dengan mod Evolution ini. Rasanya seperti menemukan game yang benar-benar baru dan segar. Cerita inti yang disajikan jelas masih sama, akan tetapi cara penyampaiannya terasa jauh berbeda sehingga kesan yang tertinggal pun berbeda pula. Lebih dari itu, keberadaan mod ini mungkin dapat menarik minat gamer modern untuk mencoba main Trails in the Sky tanpa khawatir merasa terlalu kuno.
Memperkenalkan game klasik ke ranah modern merupakan masalah yang cukup sulit. Sebuah game yang bagus memang idealnya akan terasa bagus dimainkan sampai kapan pun juga. Namun tidak bisa kita pungkiri bahwa kemajuan teknologi juga berperan menciptakan pengalaman yang lebih baik. Filosofi desain game pun pasti terus berkembang seiring waktu, sehingga ada aspek-aspek desain yang dulu terasa bagus kini sudah tak bagus lagi.

Belum lagi bila bicara tentang ketersediaan game itu sendiri. Beruntunglah gamer PC karena bisa memainkan game klasik dari berbagai zaman tanpa terlalu terhalang oleh perbedaan platform. Gamer console tidak bisa sebebas itu. Ketika sebuah console telah mati atau tergantikan oleh generasi penerusnya, game yang ada di console itu jadi lebih sulit diakses. Sayang sekali rasanya melihat produk semenarik Trails in the Sky FC Evolution hilang ditelan zaman, tidak sempat dinikmati oleh banyak penggemar.
Merilis ulang game yang sama terus-menerus di console baru juga tak mungkin, karena itu akan mengesankan seolah-olah developernya malas dan menjadikan Trails in the Sky sebuah “sapi perah”. Jalan satu-satunya untuk membawa game klasik ini ke console modern mungkin adalah sebuah remake.

Presiden Falcom, Toshihiro Kondo, beberapa waktu lalu sempat menyatakan keinginannya untuk memboyong Trails in the Sky ke console modern. Ia juga tidak ingin sekadar porting, namun ingin menciptakannya ulang dalam wujud 3D. Sejujurnya saya agak pesimis proyek remake itu akan terwujud, tapi bila memang benar terjadi maka baguslah.
Harapan saya sederhana saja. Saya hanya ingin Trails in the Sky bisa tetap diakses dan dinikmati oleh gamer hingga beberapa generasi ke depan. Terutama untuk penggemar JRPG yang menyukai cerita mendetail, slow burn, dan senang mengenali para karakter secara mendalam. Jangan sampai Trails in the Sky jadi sebuah karya seni yang hilang, seperti seri Suikoden yang kini sulit dimainkan kecuali lewat penggunaan emulator dan game bajakan.
