Ada banyak game dengan genre balap beredar di pasaran, tapi tak banyak di antaranya yang saya mainkan. Bukan karena saya tidak suka game balap, hanya saja game balap yang populer kebanyakan memiliki gaya permainan yang realistis atau semirealistis. Misalnya Gran Turismo, Project CARS, atau Forza. Semakin nyata kendali mobil-mobil di dalamnya, semakin game itu dipuja-puja di kalangan pecinta otomotif.
BACA JUGA: 5 Game Balapan Terbaik yang Pernah Dibuat oleh EA
Saya justru sebaliknya. Daripada kontrol realistis, yang saya cari dari game balap adalah kecepatan setinggi mungkin, dengan persaingan ketat melawan musuh yang memacu adrenalin. Daripada judul-judul yang sudah saya sebut di atas, saya lebih suka memainkan genre kart racing atau arcade racing, dan di antara sejumlah game di dalam genre tersebut, menurut saya Ridge Racer keluaran Bandai Namco adalah salah satu yang terbaik.
Penerus Spiritual Ridge Racer

Sayangnya sudah lama sekali Bandai Namco tidak merilis sekuel untuk Ridge Racer. Setelah Ridge Racer Unbounded yang melenceng jauh dari pakem Ridge Racer asli dan Ridge Racer PS Vita yang gagal total, mungkin para developernya merasa bahwa pasar untuk arcade racing sudah menurun. Padahal tidak juga. Justru beberapa tahun terakhir ini seolah jadi “era kebangkitan” untuk genre arcade racing, dengan munculnya banyak game baru yang menarik perhatian. Contohnya Onrush, GRIP: Combat Racing, Redout, serta favorit saya, Xenon Racer.
Saya merasa cukup sedih ketika mencari-cari informasi tentang Xenon Racer dan menemukan bahwa game ini ternyata tidak mendapat penerimaan yang baik di kalangan kritikus. Saya kemudian mencoba membaca berbagai ulasan yang ada, dan menemukan sebuah kesamaan di antara ulasan-ulasan tersebut. Rata-rata mereka mengritik Xenon Racer karena sistem kontrolnya. Kontrol game ini dinilai terlalu berat dan kaku, tidak seperti game racing kebanyakan.

Contoh kritikan paling pedas adalah ulasan dari Push Square, yang memberi game ini rating 4/10. Mereka berkata bahwa kamu “tidak mungkin bisa berbelok 90 derajat tanpa mengerem sampai kecepatan 10 mph”. The Sixth Axis memberikan penilaian serupa, mereka berkata bahwa “menyetir mobil di game ini terasa seperti menyetir perahu”, dan “kamu akan sering menabrak sisi samping trek”. Ulasan-ulasan lain kurang lebih mengutarakan hal yang sama.
Saya pun jadi bingung. Karena pengalaman saya bermain Xenon Racer tidak demikian. Yang saya rasakan adalah sebuah game arcade racing dengan kecepatan tinggi, di mana saya bisa melakukan S-turn dan U-turn sambil menjaga speedometer di angka 200 bahkan 300 mph. Yang saya rasakan adalah kontrol drifting sangat ekspresif, di mana satu pemain dengan pemain lainnya bisa punya gaya menyetir berbeda walau dengan mobil yang sama. Bagi saya, Xenon Racer adalah penerus spiritual dari Ridge Racer, namun dengan elemen baru yang membuatnya terasa lebih modern.

Akhirnya saya jadi bertanya-tanya, apa jangan-jangan para reviewer itu main dengan cara yang salah? Apakah mereka tidak tahu, bahwa dalam Ridge Racer, kalau ada belokan yang harus kita lakukan bukanlah mengerem, tapi justru menginjak gas sekencang-kencangnya dan melakukan drift yang mengabaikan hukum fisika? Apakah mereka tidak pernah mendengar slogan Ridge Racer yang terkenal, “Drive Sideways”?
Saya bukan bermaksud menjelek-jelekkan para reviewer tersebut, lagi pula review adalah opini dan setiap orang bebas punya opini sendiri-sendiri. Saya heran saja bagaimana fenomena “salah paham” ini bisa terjadi. Ridge Racer adalah game yang dirancang dari awal dengan sistem kontrol serta strategi permainan sangat spesifik. Tugasmu di game tersebut adalah berusaha menjaga supaya mobil selalu berada di top speed dalam kondisi apa pun, kalau bisa malah sepanjang balapan jangan pernah menginjak rem sama sekali.
Drifting Adalah Segalanya

Xenon Racer juga dirancang dengan konsep yang sama, tapi lebih kompleks karena drifting bisa dilakukan dengan berbagai cara berbeda (manipulasi gas, manipulasi rem, atau manipulasi handbrake). Xenon Racer juga memberi sedikit elemen combat racing karena tiap mobil memiliki durabilitas yang terbatas. Menjaga mobilmu tetap sehat sambil mendorong musuh melakukan kesalahan hingga mobil mereka hancur adalah strategi bonafide di Xenon Racer, tapi tidak ada di Ridge Racer yang jadi inspirasinya.
Karena konsep inilah, Xenon Racer (dan juga Ridge Racer) tidak bisa dimainkan selayaknya game balap “normal”. Kalau kamu terlalu hati-hati, menginjak rem agar belokmu mulus seperti main Gran Turismo, sudah pasti kamu tidak akan jadi juara. Xenon Racer mengharuskanmu menguasai teknik-teknik drifting agar kamu bisa menyatu dengan angin dan melesat mendekati kecepatan suara. Main Xenon Racer tanpa drifting ibarat main Super Mario Bros. tanpa melompat. Bukan hanya tidak optimal, itu adalah cara main yang jelas-jelas salah.

Masalah salah paham tadi mungkin bisa diatasi bila Xenon Racer memberi tutorial lebih mendalam. Ridge Racer, meskipun tidak realistis, adalah game yang cukup sulit dikuasai, dan Xenon Racer memberi sejumlah elemen baru sehingga lebih kompleks lagi. Sebetulnya Xenon Racer punya tutorial, tapi hanya berjalan sebentar kurang dari 5 menit. Sangat tidak cukup untuk memahami seperti apa seharusnya game ini dimainkan.
Tentu saja di sisi lain akan ada orang yang tidak setuju dengan solusi tutorial tersebut. Lagi pula, Ridge Racer juga tidak pernah melakukannya. Kita benar-benar langsung dilepas ke medan balap, seolah disuruh mempelajari sendiri teknik-teknik dan strategi untuk meraih kemenangan. Ini wajar karena Ridge Racer pada awalnya memang adalah game arcade, dan di arcade center, tidak ada orang yang punya waktu untuk membaca tutorial berlama-lama.

Saya sendiri cenderung akan lebih suka bila Xenon Racing memiliki tutorial yang mendalam. Memang nuansa arcade-nya akan sedikit berkurang, tapi itu adalah pengorbanan setimpal demi user experience yang lebih baik. Apalagi Xenon Racer tidak dirilis di arcade, melainkan di PC, PS4, Xbox One, dan Switch. Pemain yang sudah veteran di dunia Ridge Racer mungkin tidak memerlukan tutorial, tapi developer tentu juga perlu memikirkan para pendatang baru.
Para pendatang baru itu bisa jadi membeli game ini hanya karena trailer-nya terlihat keren, tanpa paham seperti apa ekspektasi gameplay di dalamnya. Kemudian mereka kecewa, lalu berhenti main sebelum sempat merasakan adrenaline rush yang sangat menyenangkan dari drifting di tikungan dengan kecepatan tinggi. Sayang sekali, bukan, kalau sebuah game yang sebenarnya keren malah mendapat ulasan jelek karena banyak orang tidak sadar di mana sisi kerennya?

Niceeeee, game kayak ridge racer memang paling asiiik