Sejujurnya, saya termasuk salah satu gamer yang tidak terlalu antusias untuk menunggu kehadiran Final Fantasy VII Remake di bulan April nanti. Bukannya tidak suka, hanya saja memang Final Fantasy VII dulu bukanlah Final Fantasy yang paling saya favoritkan. Saya sadar game itu bagus dan saya menyukainya, tapi saya tidak memiliki ikatan emosi sekuat mereka yang menganggap Final Fantasy VII sebagai game terbaik sepanjang masa.
Jadi ketika Square Enix merilis demo Final Fantasy VII Remake baru-baru ini, saya tidak merasa perlu buru-buru memainkannya. Lagi pula saya juga masih dalam proses menulis ulasan untuk Mega Man Zero/ZX Legacy Collection yang dirilis Capcom belum lama ini. Baru akhirnya ketika merasa sedang santai akhirnya saya punya niat untuk mengunduh dan memainkan demo ini.
Tak disangka, Final Fantasy VII Remake Demo benar-benar membuat saya terpana! Apa yang saya lihat, dengar, mainkan, dan rasakan semuanya begitu mengagumkan. Kalau demonya saja seperti ini, bagaimana versi full nanti? Ampuni saya, Lord Tetsuya Nomura, karena telah meragukan Anda. Final Fantasy VII Remake kemungkinan akan jadi Final Fantasy terbaik yang pernah ada. Setidaknya begitulah kesan yang saya dapat dari versi demonya.
Demo Berisikan Intro yang Begitu Menjanjikan

Final Fantasy VII Remake Demo menempatkanmu pada bagian awal game dengan durasi kurang lebih satu jam. Kamu akan melihat intro yang melibatkan Aerith, kemudian adegan berpindah ke Cloud, Barret, serta teman-teman Avalanche lainnya yang sedang melakukan misi pengeboman di salah satu reaktor Mako.
Kalau kamu sudah pernah main Final Fantasy VII ini adalah adegan yang pasti amat familier, tapi versi remake menggambarkannya dengan lebih detail dan dramatis. Para anggota Avalanche ditunjukkan memiliki keahlian stealth, sesuai dengan misi penyusupan yang mereka lakukan. Sementara Cloud, sang Ex-SOLDIER, bertugas mengalihkan perhatian dan mengalahkan musuh yang menghalangi.
Ragam Kepribadian yang Lebih Detail Dibandingkan Sebelumnya

Bukan hanya keahlian, versi remake ini juga menggambarkan kepribadian seluruh karakter dengan jauh lebih detail. Apalagi didukung dengan voice acting yang oke punya. Kita jadi tahu bahwa di balik perangai Cloud yang dingin dan sarkastis ternyata dia bisa memiliki kadar humor yang terbilang lucu juga.
Di sini kita juga melihat Jessie sebagai karakter yang cerewet dan agak hiperaktif, tapi bisa diandalkan dan tak takut maju duluan ketika ada bahaya. Selain itu di balik sosoknya yang tegas dan sangar, Barret ternyata juga memiliki sisi kocak dan sering kali terlalu bersemangat kalau bicara.
Dialog-dialog dan interaksi antar karakter berjalan begitu dinamis, membuat kepribadian setiap tokoh dalam game ini sangat menonjol ke permukaan, bahkan melebihi nuansa “bromance” di Final Fantasy XV.
Bukan Sekadar Asal Nostalgia Belaka

Final Fantasy VII Remake bukanlah penciptaan ulang 1:1. Justru remake ini mengembangkan seluruh aspek dari game aslinya hingga jadi amat mendetail, sambil menjaga esensi ceritanya agar tetap selaras dengan apa yang selama ini ditangkap para penggemar.
Sangat banyak hal yang mampu membuat kita terbawa nostalgia, tapi hal-hal barunya akan semakin menguatkan rasa cinta kita yang selama ini sudah ada. Dan saya sama sekali masih belum berbicara soal gameplay.
Kepribadian setiap tokoh dalam game ini sangat menonjol ke permukaan, bahkan melebihi nuansa “bromance” di Final Fantasy XV
Square Enix telah merombak Final Fantasy VII menjadi sebuah game action. Namun mereka juga menyediakan pilihan kesulitan yang lebih mudah, serta mode “Classic” untuk pemain yang tidak suka atau tidak ahli memainkan aksi cepat seperti ini. Dalam mode Classic, para karakter akan melakukan serangan-serangan normal secara otomatis, sementara pemain bisa fokus memberi perintah khusus seperti skill, magic, atau item.
Tampak jelas bahwa Square Enix mengambil sejumlah aspek terbaik dari sistem pertarungan Final Fantasy XIII dan Final Fantasy XV, kemudian menggabungkannya menjadi sesuatu yang lebih baik lagi. Setiap karakter memiliki aksi unik yang bisa diakses dengan tombol segitiga, dan aksi unik ini membuat gaya pertarungan mereka jadi berbeda jauh satu sama lain.
Cloud misalnya, dapat mengganti stance dari Operator Mode yang seimbang antara offense dan defense, menjadi Punisher Mode yang full offense. Sementara Barret dapat mengumpulkan energi di gatling gun miliknya, kemudian melontarkan damage yang besar dengan aksi Overcharge.
Gameplay Taktis yang Bisa Juga Dijalani Secara Anarkis

Walaupun aksi pertarungannya berlangsung secara full action, Final Fantasy VII Remake juga menuntutmu untuk berstrategi secara efektif karena tiap musuh memiliki kelemahan berbeda-beda. Berhasil menemukan kelemahan tersebut akan membuatmu lebih gampang menempatkan musuh dalam kondisi Stagger, dan inilah kesempatan untuk menyerang habis-habisan dengan skill atau serangan Limit Break yang telah kamu himpun sebelumnya.
Berbeda dengan Final Fantasy XIII, tampaknya kamu juga bisa bermain secara barbar alias “brute force” di sini tanpa harus memanfaatkan fitur Stagger yang telah saya jelaskan tadi. Namun jelas, tanpa memperhitungkan faktor Stagger tadi, pertarungan di game ini akan berjalan lebih lama.
Secara default kamu akan mengendalikan Cloud, tapi kamu juga berganti ke karakter lain dengan sangat cepat atau menyuruh mereka mengeksekusi perintah tertentu. Di sini kamu dapat menentukan mereka kapan harus menyerang, bertahan, mengindar, menggunakan command unik, skill, spell, item, hingga Limit Break. Semua ini ditambahkan dengan cepatnya perpindahan akses ke karakter lain dalam party, sehingga menjadikan pertarungan Final Fantasy VII sangat seru dan mengalir elegan bagai air.

Saya sendiri masih agak mindblown karena baru saja selesai main demo Final Fantasy VII Remake, jadi mohon maaf bila tulisan tentang impresi ini agak sedikit berantakan. Cukup sulit bagi saya untuk menggambarkan betapa besar “hype” yang saya rasakan kalau hanya lewat tulisan, yang jelas kini saya bisa yakin bahwa Final Fantasy VII Remake akan jadi game wajib main bagi saya. Absolut!
BACA JUGA: Cara Square Enix Menangani Port Adalah Bukti Bahwa Mereka Peduli pada Fans
Bahkan meski game orisinalnya bukan favorit saya, demo ini berhasil membuat saya berubah pikiran. Mungkin daripada disebut remake, Final Fantasy VII versi modern ini lebih cocok kita sebut sebagai “full realization”. Perwujudan sempurna dari visi pembuatnya yang dulu sempat terbatas oleh teknologi. Kini batasan itu telah hilang, dan sudah saatnya kita merasakan nikmatnya tenggelam dalam dunia Final Fantasy VII yang seutuh-utuhnya.
Belum sempat merasakan demo dari Final Fantasy VII Remake? Silakan buka akun PSN kamu dan unduh sekarang juga!
