Salah satu faktor yang sering dipertimbangkan ketika membeli game baru adalah gameplay time atau durasi bermain. Ini tentu bukan pemikiran yang salah. Mengingat saat ini game AAA baru punya harga yang sangat mahal, kamu ingin uang yang kamu keluarkan setimpal dengan hiburan yang kamu dapatkan dari bermain game.
Tapi bukan berarti game yang lama otomatis akan jadi game yang bagus dan layak beli. Sebaliknya, game yang singkat bukan berarti tidak layak beli. Dengan kata lain, layak tidaknya harga sebuah game tidak bisa langsung dinilai dari harganya.
Beda Game, Beda Durasi Main

Tiap game memiliki genre yang berbeda, mulai dari RPG, action, platformer, sampai idle clicker. Sebagai produk hiburan, semuanya punya tujuan yang sama, yaitu menghibur kamu sebagai pemain.
Tapi tiap genre tentu punya cara masing-masing untuk menghiburmu, dan cara ini terikat dengan durasi kamu bermain.
Ayo kita ambil contoh. Dalam game action seperti Devil May Cry 5, kamu akan mengendalikan karakter untuk menghabisi musuh dengan gerakan dan combo keren. Sementara di game RPG seperti Xenoblade Chronicles 2 punya sangat banyak konten yang tersebar di dunia yang sangat luas. Masing-masing adalah game dengan harga rilis US$60, tapi punya gameplay time yang sangat berbeda.

Mengacu pada How Long To Beat, kamu perlu waktu sekitar 65 jam hanya untuk menamatkan cerita utama Xenoblade Chronicles 2. Itu berarti mengabaikan semua konten sampingan yang bisa kamu jelajahi.
Untuk menikmati semua konten di game tersebut, kamu perlu total 253 jam. Sementara Devil May Cry 5 bisa kamu tamatkan hanya dalam waktu 11 jam saja. Bahkan jika kamu bermain hingga bisa menikmati semua konten yang ada, kamu hanya menghabiskan waktu 64 jam, satu jam lebih singkat dari cerita utama Xenoblade Chronicles 2.
Apakah itu berarti Devil May Cry 5 lebih jelek daripada Xenoblade Chronicles 2? Tentu saja tidak. Kedua game mendapatkan review yang sangat positif. Karena pada akhirnya meskipun punya durasi bermain yang berbeda, keduanya berhasil memenuhi tujuan yang sama yaitu memberikan hiburan yang berkualitas.
Jangan lupa baca review Devil May Cry 5 dari Gimbot!
Yup, pada akhirnya yang harus kamu ukur dalam menilai apakah sebuah game layak dibeli adalah kualitasnya. Ini berarti menilai gameplay, grafis, desain karakter, desain level, cerita, movement, dan elemen lain yang membentuk game tersebut. Tiap game punya building block yang berbeda karena ingin menghibur pemainnya dengan cara yang berbeda.

Game JRPG seperti Xenoblade Chronicles 2 mengajakmu mengeksplorasi dunianya yang luas. Caranya adalah dengan menyediakan berbagai side quest yang memberikanmu imbalan berupa item dan/atau side story yang menarik. Sementara Devil May Cry 5 jelas punya dunia yang lebih kecil. Tapi itu tidak masalah karena game ini ingin membuatmu merasa seperti jagoan dengan gerakan-gerakan dan combo yang keren.
Mengeksplorasi sebuah overworld yang luas tentu perlu waktu lebih lama daripada mengeksekusi combo mematikan. Tapi keduanya tetap bisa menghiburmu, sekali lagi dengan caranya sendiri.
Pengalaman bermain seperti apa yang kamu sukai tentu tergantung pada selera masing-masing.
Apakah game tersebut bisa menyediakan lebih banyak konten agar menambah durasi gameplay? Well, tentu saja bisa. Tapi pertanyaannya apakah konten tersebut membuat pengalaman bermainmu lebih seru ? Tidak selamanya.
Lebih Lama Bukan Berarti Lebih Baik

Sebagus apapun elemen pembentuknya, tiap game punya batasan tersendiri dalam memberikan pengalaman yang seru untuk pemainnya. Memaksakan konten tambahan justru membuat game tersebut terkesan repetitif dan penuh dengan konten yang tidak berarti. Menambah side quest di game RPG hanya akan memberikan pemain konten yang tidak berarti atau tidak memuaskan. Menambah level di game platformer mungkin malah membuat pemain melewati rintangan yang sama tapi dengan latar yang berbeda. Lalu karena terlalu banyak konten repetitif atau atau tidak memuaskan, pemain tersebut kemudian bosan dan berhenti bermain.
Kalaupun sebuah game bisa menambahkan konten demi menambah durasi bermain, itu tentu tidak bisa dilakukan dengan mudah. Ingat, membuat game perlu waktu yang sangat lama, proses yang sangat rumit, dan sumber daya yang sangat besar.

God of War misalnya, mulai masuk development sejak tahun 2014. Empat tahun hingga akhirnya rilis di tahun 2018 dan menyajikan game dengan durasi kurang lebih 20 jam. Dalam empat tahun tersebut, kamu bisa bayangkan berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk gaji pegawai, kantor, komputer, dan development software. Ini belum menghitung biaya marketing untuk memastikan kamu tahu dan mau membeli game tersebut.
Apakah Sony Santa Monica bisa membuat durasi bermain God of War lebih lama tapi tetap memuaskan? Mungkin, tapi itu berarti waktu development yang lebih lama yang berarti biaya yang lebih besar. Sayangnya, uang tidak tumbuh di pohon sehingga sebuah game harus bisa selesai dengan budget yang ada. Kalaupun developer terpaksa mengeluarkan biaya lebih dari budget yang direncanakan, itu berarti harga game tersebut sudah sepantasnya lebih mahal.
Pada akhirnya, kamu bisa menghabiskan waktu kurang dari 10 jam atau bahkan ratusan jam untuk bermain satu game. Tapi setelah bermain pertanyaan utamanya tetap sama: Did you have fun? Apakah dalam 10 jam tersebut kamu puas dengan game yang kamu mainkan? Jika kamu puas dan terhibur, berarti game tersebut memang layak kamu beli.
